Sabtu, 31 Oktober 2009

Ebook 'Pelangiku Warna Ungu'

PELANGIKU WARNA UNGU:
Kumpulan Artikel dan Tanya-Jawab Seputar Spiritualitas Plural


+++

Daftar Isi:

SEPATAH KATA TENTANG SPIRITUALITAS PLURAL (oleh Audifax)

KATA PENGANTAR

BAGIAN I: KUMPULAN ARTIKEL

1. Dasar-Dasar Komunikasi yang Empatik
2. Di Taman Firdaus Tak Ada Pernikahan
3. Sebuah Monolog di Akhir Pekan
4. Kisah Si Bunglon di Astana Giri Bangun
5. Arti Simbolik dari Huruf Aliph
6. Sebuah Pesan Natal
7. Malam Kudus Sunyi Senyap
8. Masturbasi Spiritual
9. Be Ye Transformed by the Renewing of Your Mind!
10. Carl Gustav Jung dan Higher Spirit
11. Makhluk Halus dan Belief System
12. Dialektika Intuisi-Naluri
13. Spiritualitas dan Sensualitas
14. Rasio dan Emosi
15. Paranormal itu Tidak Normal
16. Mantra Gayatri
17. Apakah Saya Seorang Spiritual?
18. Pengalaman Relijius menurut William James
19. Di Manakah Tuhan?
20. Apakah Doa itu?
21. Pendekatan Unity vs. Pendekatan Duality
22. Spiritualitas Sangat Berkaitan dengan Seksualitas
23. Leo, Apa Kamu Lihat Aku Feminin?

BAGIAN II: KUMPULAN TANYA-JAWAB

1. Agama is What You Call Agama
2. Makna Lintas-Agama
3. Mata Ketiga dan Meditasi
4. Out of Body Experience (OOBE)
5. Ada Benang Merah antara Roh dan Jiwa
6. Meditasi di Kelenjar Pineal
7. Bertemu Lord Ganesha di dalam Vihara Buddhist
8. Kita Menjadi Inkarnasi Shiva
9. Eling lan Waspada (Aware and Alert)
10. Kepada Mereka Semua yang Minta, Bagikanlah!
11. Transpersonal is Pendekatan Lintas-Agama
12. Namanya Kontak Batin, Empati
13. Aku Gak Pernah Mikirin tentang Ngitung Hari
14. Tapi, Kan, Fungsinya Bukan buat Lihat Gendruwo
15. Tadi Malam Aku Bangun dengan Kata-kata “Darmo Gandhul”
16. Bagaimana Melihat Nur Muhammad
17. Bukan untuk Komunikasi dengan Bangsa Dhemit
18. Tidak Menikah dan Belief System
19. Mata Ketiga is Mata Batin
20. Mata Ketiga dan Kehidupan Rumah Tangga
21. You are a Black Prince turning to be a Prince of Light
22. Spiritualitas Alamiah dan Energi Penyembuhan
23. Itulah Mata Ketiga, Seperti itu Kerjanya
24. Mata Ketiga dan Kegunaan Praktisnya
25. Apakah Aku Tidak Peka mengenai Mata Ketiga?
26. Mata Ketiga dan Pencaharian Jati diri
27. Apakah ini Samadhi?

(TENTANG PENULIS)

+++

SEPATAH KATA TENTANG SPIRITUALITAS PLURAL

“Spiritualitas Seorang Leonardo”

Oleh: Audifax
(Research Director di SMART Center for Human Re-Search & Psychological Development)

Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata “spiritual”? Sebagian dari Anda mungkin membayangkan suatu aktivitas mistis. Sebagian lain mungkin langsung berpikir tentang reliji atau keimanan. Itulah yang secara umum dipahami sebagai “spiritual” di Indonesia. Saya punya kesan sendiri ketika mendengar kata “spiritual”. Apa yang terbayang di benak saya adalah “spirit” atau sebuah pemahaman yang mencakup sekaligus: roh dan semangat.

G.W.F. Hegel, seorang filsuf yang pernah menulis ”The Phenomenology of Spirit” menjelaskan bahwa spirit hidup dalam kondisi konfliktual. Artinya, spirit itu merupakan kondisi di mana tesis berhadapan dengan antitesis. Ketika sesuatu yang begitu saja diyakini kebenarannya tapi juga dipersoalkan. Di sinilah esensi sesuatu yang hidup atau hadir sebagai spirit.

Ya, roh dan semangat itu jua yang langsung terbayang ketika membaca draf buku “Pelangiku Warna Ungu”. Inilah spiritualitas seorang Leonardo Rimba. “Roh” dan “semangat” seorang Leonardo Rimba. Leo, demikian saya memanggilnya, menyusun sebuah buku yang “sangat ungu”. Artinya, buku ini memiliki keragaman baik tema maupun cara penyampaian. Inilah sejatinya yang saya lihat sebagai spiritualitas seorang Leonardo Rimba.

Dalam pengenalan saya, Leonardo Rimba adalah seorang pewacana tarot. At least, tentu saja, ia banyak bermain-main dengan pewacanaan simbol. Dalam sebuah simbol, selalu ada “pelangi berwarna ungu”. Apa maksudnya? Begini, setiap simbol selalu menyimpan sebuah misteri karena sebuah simbol selalu merupakan perwakilan dari apa yang tak bisa hadir di realitas. Sebuah spirit yang tak bisa hadir di realita akan mewakilkan kehadirannya pada sebuah simbol. Inilah mengapa simbolnya adalah ungu. Warna ungu itu sendiri adalah simbol bagi sesuatu yang sifatnya misteri dan agung. Sedangkan “pelangi” adalah simbol keragaman makna yang bisa termuat pada satu simbol yang sama.

Begitu banyak tema menarik dalam buku ini, terutama tema-tema di mana Leo mencoba memersoalkan bagaimana orang melihat pluralitas. Salah satunya, ketika Leo mengritik penetapan lima agama resmi di Indonesia dalam esai berjudul “Agama is What You Call Agama”. Seperti kita tahu, bahwa kebebasan beragama di Indonesia dimaknai orang sebagai kebebasan memeluk lima agama yang secara resmi ditetapkan pemerintah.

Apakah itu bisa disebut kebebasan beragama? Mari kita lihat analoginya. Apakah Anda seorang penghisap tembakau? Apakah Anda perokok? Apakah Anda bukan perokok? Baik Anda perokok maupun bukan perokok, Anda memeroleh apa yang disebut “kebebasan merokok”. Kebebasan merokok di sini termasuk bebas untuk menjadi perokok atau tidak merokok. Termasuk jika Anda perokok Anda pun bebas mau merokok tembakau yang dikemas dalam merek Bentoel, Djarum, Gudang Garam, Sampoerna, atau rokok apa pun. Juga bebas seandainya Anda mau melinting tembakau sendiri. Tapi, coba Anda lihat “kebebasan beragama” di Indonesia. Kebebasan beragama di Indonesia tidak mengakomodasi bebas untuk beragama atau tidak beragama. Bagi yang memilih beragama pun tidak sebebas seperti orang memilih rokok melainkan telah ditetapkan lima merek rokok yang boleh dirokok. Nah, sekarang Anda semua bisa merenungkan apakah memang kita di Indonesia ini memiliki kebebasan beragama.

Perenungan semacam ini khas Leo. Bahkan di milis “Psikologi Transformatif”, tak jarang saya melihat Leo cukup keras dalam mengargumentasikan perenungannya. Namun, justru di sinilah kekuatan seorang Leonardo Rimba. Inilah spiritualitas seorang Leo. Spirit yang benar-benar dalam pengertian spirit karena di situ tak hanya terkandung roh melainkan juga semangat. Inilah satu alasan penting untuk membaca ”Pelangiku Warna Ungu”, ada spirit yang membuat kita tak hanya melihat sesuatu secara hitam-putih, namun menyadari bahwa di antara hitam dan putih itu ada gradasi warna yang membentuk pelangi. “Ungu” di sini bukan merujuk pada warna, melainkan simbol, bahwa sebuah pelangi bersifat misteri dan agung sehingga disebut “ungu”.

Demikianlah, saya tak perlu berpanjang lebar mengantar buku ”Pelangiku Warna Ungu”, karena saya yakin Anda tak ingin ke-”ungu”-an dari karya ini menjadi hitam-putih oleh pemaparan yang terlalu detail. Sebelum Anda membaca, saya hanya ingin mengucapkan: ”Selamat menelusuri alam ungu dengan keindahan pelangi yang selalu ada di langitnya”.


+++

KATA PENGANTAR


Lima puluh artikel dan tanya-jawab yang menjadi isi dari buku ini ditulis dalam kurun waktu kurang lebih setahun antara Maret 2007 sampai dengan Maret 2008, semuanya pernah dipublikasikan di berbagai milis berbahasa Indonesia di internet. “Pelangiku Warna Ungu” adalah judul yang saya pilih karena ungu adalah warna dari mata ketiga. Mata ketiga adalah mata batin. Mata batin seperti apa, tentu saja definisinya berbeda-beda, dan itu dibahas secara panjang lebar dalam berbagai artikel dan tanya-jawab di buku ini yang bisa dibuka dan dibaca dari bagian mana saja. Tidak ada yang lebih dahulu, dan tidak ada yang lebih belakangan. Anda bisa buka bagian mana saja dan mulai membaca, karena setiap artikel dan tanya-jawab itu merupakan satu tulisan utuh.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari. Bisa bahasa Indonesia baku, bahasa Inggris, bahasa Jakarta, bahasa Jawa ... dan berbagai istilah sehari-hari yang diambil dari bahasa pergaulan di kota metropolitan Jakarta. Tetapi semuanya itu tetap bahasa, dan bahasa hanyalah medium komunikasi. Dan buku ini memang berlandaskan pada kemampuan komunikasi tentang bagaimana kita bisa merasa dan mengerti bahwa segalanya itu memang menyambung. Tidak ada pengalaman yang berdiri sendiri; yang seolah-olah berdiri sendiri itu adalah simbol belaka yang bisa muncul secara acak di dalam kesadaran tiap manusia. Dan manusia yang menyadari munculnya simbol-simbol tertentu di kesadarannya akan tergugah untuk mencari jawab atasnya: Apakah saya memang seorang diri? Apakah orang lain merasakan hal yang sama? Atau, bahkan mungkin, muncul pula pertanyaan: Apakah saya gila?

Buku ini mencoba menjawabnya satu per satu. Bukan dengan membawakan suatu teori baru yang komprehensif dan mencakup segalanya, melainkan menawarkan suatu alternatif penjelasan bahwa segalanya yang berada di kesadaran manusia hidup itu selalu berkaitan dengan manusia hidup lainnya. Dan karena ini mencakup kesadaran dan interpretasinya, maka agama dan sistem kepercayaan (belief system) mau tidak mau akan berperan menentukan. Seperti apakah agama itu sebenarnya di dalam kesadaran manusia? Apakah agama saya menyebabkan saya menjadi seorang individu terpisah yang memiliki kapling di surga sedangkan tetangga saya yang beragama beda akan pasrah untuk dilemparkan ke neraka?

Itu baru dua pertanyaan saja. Masih banyak pertanyaan lainnya yang akan dijawab satu per satu di dalam buku ini. Ada 27 tanya-jawab dengan orang berbeda. Perempuan dan laki-laki, tua dan muda, dan latar belakang agama maupun etnik yang berbeda. Apakah nantinya kesadaran mereka itu akan berbeda pula, atau akhirnya akan menyambung dan menghasilkan suatu pengertian utuh adalah apa yang saya cari (sebagai seorang fasilitator tanya-jawab), dan mereka yang melihat di diri saya seorang figur “sparing partner”.

Saya cuma “sparing partner” dari rekan-rekan di seluruh tanah air yang telah secara terbuka dan jujur membagi isi hati dan pikirannya sehingga bisa tertuang dengan jelas sekali di dalam percakapan-percakapan tersebut. Bahkan, telah memberi saya begitu banyak inspirasi yang mendorong saya untuk tanpa ragu-ragu menulis 23 artikel yang di tempatkan di bagian pertama buku ini. Kepada semua rekan, yang tentu saja tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu itu, buku ini saya persembahkan. My love and gratitude goes to all them.

Leonardo Rimba
Jakarta, Maret 2008


+++


BAGIAN I: KUMPULAN ARTIKEL


+++

1. DASAR-DASAR KOMUNIKASI YANG EMPATIK


Komunikasi yang empatik (empathetic communication) bisa juga dinamakan sebagai "mind reading" atau membaca pikiran. Biasanya istilah itu diartikan sebagai membaca pikiran orang lain, walaupun sebenarnya yang kita baca adalah pikiran kita sendiri. Kita membaca pikiran orang lain melalui pikiran kita sendiri. We read other people's minds through our own minds.

Tidak ada yang kita baca selain pikiran kita sendiri di dunia ini. Segala sesuatu yang kita lihat, kita rasakan, kita dengar, kita baca, kita pahami … segalanya itu melalui pikiran kita sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang datang begitu saja tanpa melalui saringan di kepala kita yang kita kenal sebagai jaringan otak. Dan counterpart-nya di alam nir-ruang dan waktu yang kita sebut sebagai "pikiran" atau "mind". We read other people's minds through our own minds.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita bisa membaca pikiran orang lain melalui pikiran kita sendiri?

Jawabannya mudah saja. Kita harus mulai dari awal kembali, membayangkan ketika pertama kali kita mengenal apa yang dinamakan kesadaran itu. Apakah yang pertama kita sadari itu? Bukankah pertama kali kita sadar bahwa diri kita adalah diri kita setelah beberapa saat (bulan, tahun, ….) setelah kita terlahir di dunia dalam kehidupan kali ini? Bukankah pertama kali yang kita sadari bukanlah diri kita sendiri tetapi orang lain? Ibu kita, ayah kita, lingkungan kita?

Sebagai seorang bayi, kita tidak menyadari diri kita sebagai kita, tetapi diri kita sebagai orang lain, terutama sebagai ibu kita. Atau, lebih tepat, kita sebagai bagian dari ibu kita. Tidak ada yang namanya "ego" itu selain kebutuhan-kebutuhan fisikal yang dirasakan oleh kita sebagai seorang bayi. Selanjutnya, segalanya adalah ibu kita, dan kita sebagai bagian dari ibu. Dan apa pun yang dirasakan oleh ibu kita akan kita rasakan: emosi-emosinya, kegalauannya, kegembiraannya.

Setelah itu kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang dekat yang ada di sekitar kita: ayah, saudara-saudari, lingkungan sekitar, … walaupun saat itu kita masih seorang bayi yang belum bisa berkomunikasi dengan kata-kata. Kita sadar bahwa kita sadar, tetapi kesadaran kita adalah kesadaran orang lain. Kesadaran yang ada di manusia-manusia dewasa yang berada di sekitar kita.

Setelah berlalunya waktu, sedikit demi sedikit lingkungan akan mengajarkan bahwa kita beda, bahwa kita adalah seorang entitas yang berdiri sendiri. Sebagai manusia modern, inilah sosialisasi yang kita alami, walaupun kita juga menyadari bahwa banyak manusia yang budayanya primitif tetap mengalami identitas komunal sepanjang hidupnya.

Sebagai manusia modern kita akhirnya dibiasakan untuk berpikir bagi diri kita sendiri, untuk menyatakan kebutuhan kita, untuk mengartikulasikan kepentingan kita. Dan lahirlah "ego". Ego adalah kita, diri kita vis a vis orang-orang lain. Tetapi ego adalah perkembangan lanjutan dari diri kita yang asli ketika lahir di dunia ini. Kita lahir tanpa ego, dan ego itu adalah bentukan budaya, dan ego itu adalah superficial.

Setelah kita dewasa, kita akan terbiasa untuk berpikir dalam konteks kita vs. mereka. Diri kita vs. diri orang-orang lain. Yang kita lihat dan kita rasakan hanyalah diri kita sendiri karena kita disosialisasi seperti itu. Tidak ada lagi yang namanya merasakan melalui orang-orang lain itu karena kita tahu bahwa setelah tahap bayi berlalu, kita harus menghadapi orang-orang lain sebagai orang lain, sebagai the others. The others are not me, and I have to state my own interests as opposed to those of the others'.

Kepentingan saya sebagai seorang entitas tersendiri dinyatakan sebagai terpisah dari kepentingan orang-orang lain: baik orang dekat, orang jauh, lingkungan dekat, lingkungan jauh, masyarakat, maupun dunia luas. Empati masih ada, karena kita masih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang lain itu, kalau kita mau. Tetapi, itu "tidak normal". Tidak normal dalam tanda kutip. Yang dianggap normal adalah dipertahankannya mode saya vs. orang lain itu.

Saya selalu mengatakan bahwa komunikasi yang empatik adalah bakat alam dari tiap orang. Artinya apa? Artinya adalah bahwa komunikasi yang empatik adalah sesuatu yang telah dimiliki oleh tiap orang sebagai mode awal dari interaksi kita sebagai manusia ketika terlahir ke dunia. Komunikasi yang empatik telah kita lakukan dengan fasih ketika kita masih bayi dan belum bisa berkata-kata. Komunikasi yang empatik telah mendarah daging di diri kita ketika segala konsep tentang kepentingan diri sendiri belum ditanamkan ke diri kita oleh lingkungan budaya di mana kita dibesarkan. Lalu apa susahnya?

Susahnya adalah untuk menguraikan benang kusut antara "saya" dan "mereka" itu. Antara impresi-impresi yang masuk ke dalam pikiran saya. Impresi-impresi itu tetap sebagai impresi, dan selalu ada di pikiran atau "mind" milik saya, tetapi saya merasa kesulitan untuk membedakan apakah impresi itu mengenai saya atau mengenai orang lain. Yang menghalangi tentu saja ego saya. Dan ego itu tidak lain adalah konsep diri saya yang ditanamkan oleh budaya di mana saya dibesarkan. Saya dan Anda dibesarkan dengan pengertian bahwa ego harus dipertahankan demi kewarasan pikiran. Kalau tidak demikian, maka akan bisa terombang-ambing antara kepentingan saya sendiri dan kepentingan orang lain yang saya lihat sebagai saya juga.

Memang benar akan ada kemungkinan seperti itu, terutama bagi mereka yang lemah mentalnya. Tetapi di sini saya akan berbicara tentang hal-hal yang umum dan berlaku bagi semua orang, dan bukan tentang psikologi klinis yang menyelidiki tentang hal schizophrenia, paranoia, dan sebagainya. Ada orang yang lemah mentalnya dan tidak bisa melakukan komunikasi yang empatik tanpa jatuh ke dalam kategori tidak waras. Dan ada orang yang sehat jasmani dan rohani dan mampu untuk melakukan komunikasi yang empatik sebagaimana komunikasi umumnya. Apa adanya dan tanpa dipaksakan.

Secara gamblang, komunikasi yang empatik adalah mengomunikasikan apa yang kita baca dari pikiran kita sendiri tentang apa yang dirasakan oleh orang lain, apa aspirasinya, apa ketakutannya, apa kepentingannya. Dan itu bisa kita lakukan apabila kita mau kembali menelaah situasi yang terjadi ketika kita masih bayi sebelum konsep ego ditanamkan oleh lingkungan kita. Kita akan bisa melihat orang lain seperti kita melihat diri kita sendiri. Kita akan bisa merasakan orang lain seperti kita merasakan diri kita sendiri.

Tetapi ada bedanya dibandingkan dengan ketika kita masih bayi ketika kita belum bisa menerangkan apa sebenarnya yang kita lihat dan rasakan tentang orang-orang lain itu. Sekarang, kita akan bisa membedakan bahwa sesuatu yang kita lihat itu adalah
mengenai orang lain. The others. Dan bukan kita sebagai diri kita yang merupakan entitas terpisah dari orang-orang lain itu. Ketika kita masih bayi, hal itu tidak bisa kita lakukan.

You could give it a try even now! Try to think and feel as if you were somebody else: your close friend, your mate, your brother, sister, neighbor, anybody. Ucapkanlah, tuliskanlah … cobalah untuk diperiksa dengan orangnya apakah benar demikian. Dan Anda telah melakukan komunikasi yang empatik!

Di bagian atas telah saya tuliskan bahwa tahap pertama dalam penguasaan komunikasi yang empatik adalah dengan mencoba membayangkan diri kita sendiri sebagai orang lain. Seolah-olah kita adalah orang lain itu. As if we were the other person with whom we are having an empathetic communication. Caranya memang mudah, dan bahkan tahap-tahap selanjutnya juga sama mudahnya.

Tahap berikutnya dijalankan dengan melakukan osmosis. Osmosis adalah istilah ilmu alam yang berarti menyamakan isi dari sesuatu yang kosong dengan sesuatu yang berisi. Kalau saya merupakan satu kertas kosong, dan di sebelah saya ada satu kertas berisi tulisan-tulisan, maka isi dari kertas bertulisan-tulisan itu bisa berpindah ke kertas kosong yang merupakan diri saya.

Maksud dari istilah itu adalah penyerapan pengetahuan dari seseorang tanpa melalui cara-cara umum; tanpa perlu diajari secara formal, walaupun tetap harus ada komunikasi intensif. Bagaimana cara melakukan osmosis bukanlah sesuatu yang aneh bagi kita manusia-manusia normal. Bukankah kita sudah melakukan osmosis itu sepanjang hidup kita?

Bukankah kita sudah menyerap segala nilai-nilai budaya dari masyarakat kita tanpa kita merasa memelajarinya secara sungguh-sungguh: nilai-nilai budaya dari orangtua kita, dari teman sepergaulan kita, dari teman sekolah kita, dari segalanya yang kita temui sepanjang hidup kita? Dan kita telah melakukannya sejak kita sadar bahwa kita sadar. Sejak kita sadar bahwa kita memiliki kesadaran sebagai seorang entitas.

Tidak ada cara lain bagi kita dalam memelajari sesuatu secara mendalam selain melakukan osmosis. Bisa saja kita melanjutkan sekolah dan memelajari segala teknik itu, tetapi yang terutama kita lakukan adalah osmosis. Osmosis dari dosen-dosen kita, dari pengajar kita, dari penulis yang kita kagumi.... Segala teknik yang dipelajari itu cuma pengisi waktu saja, cuma sebagai bukti empirik bahwa ada metode yang diajarkan dan dipelajari. Tetapi untuk bisa dan memahami mau tidak mau kita harus melakukan osmosis.

Setelah osmosis itu Anda jalankan, dengan mudah Anda akan bisa mengembangkan teknik Anda sendiri, bahkan pengertian Anda sendiri.

Mungkin apa yang saya tulis kali ini terasa mengejutkan bagi sebagian rekan-rekan. Mungkin juga ada sebagian rekan yang telah bisa meraba secara intuitif bahwa pada akhirnya saya akan menuliskan hal ini juga, apa pun konsekuensinya.

Apa pun konsekuensinya, saya harus menuliskan terus terang bahwa komunikasi yang empatik adalah bakat alam dari tiap orang yang bisa dipelajari sendiri asalkan mau membuka hati dan pikiran terhadap fenomena alamiah yang telah kita alami dalam perkembangan hidup kita sendiri sebagai manusia.

Pertama, seperti disebutkan sebelumnya, kita bisa memulai komunikasi yang empatik dengan cara membayangkan diri kita seolah-olah kita adalah orang lain itu: teman, pasangan hidup, atasan, bawahan, kolega bisnis, teman kuliah, dsb.... Dan kedua, dengan mulai melakukan osmosis dari orang-orang yang Anda anggap telah mahir melakukan komunikasi yang empatik.

Segala percakapan dengan menggunakan bahasa sehari-hari ini adalah komunikasi yang empatik dengan aliran-aliran osmosis dari alam bawah sadar orang yang satu ke bawah sadar orang yang satunya lagi. Dan bergerak kembali dengan input, output, dan feedback yang tidak berkesudahan. Hasil akhirnya adalah pemenuhan isi dari seseorang yang tidak memiliki dengan isi dari orang lainnya yang memiliki. Osmosis selalu berlaku dua arah, dan tidak pernah hanya berlaku searah.

Nah, bukankah osmosis ini adalah sesuatu yang natural atau alamiah bagi Anda? Anda telah melakukannya sepanjang hidup Anda. Waktu Anda kuliah, Anda bisa menangkap maksud hati seorang dosen hanya dengan mengamatinya. Waktu Anda masih pacaran, Anda bisa tahu bahwa pacar Anda serius atau tidak dalam berhubungan dengan Anda. Waktu Anda telah menikah seperti sekarang, Anda bahkan bisa tahu kalau pasangan Anda hanya memertahankan formalitas belaka karena segala desir romantik telah habis terpakai.

Jadi, komunikasi yang empatik juga mengandalkan osmosis yang tidak berkesudahan ini antara Anda dan orang-orang lainnya dengan mana Anda melakukan komunikasi. Kalau Anda merasa bahwa perlu melakukan osmosis dari saya, that's fine too. Aturlah waktu untuk bertemu dengan saya atau saling berkirim e-mail dan SMS! Bisa juga melalui chatting atau bahkan cukup dengan hanya membaca tulisan-tulisan saya.

Cuma sesederhana itu. Cuma.... Tetapi, tentu saja masih banyak lagi pernak-perniknya. Sekali bertemu saja tidak cukup, sekali membaca saja juga tidak cukup. Anda perlu bertemu atau membaca berulang-ulang untuk bisa menangkap esensi dari apa yang dikomunikasikan itu. Osmosis memang memerlukan interaksi berkali-kali. Tidak cukup sekali bertemu atau berinteraksi, tetapi perlu waktu berulang-ulang sampai osmosis itu tuntas.


+++

2. DI TAMAN FIRDAUS TAK ADA PERNIKAHAN


Some people prefer not to get married at all. It is also a choice. I won't get married because I believe it's just a cultural convention to put shackles on us. God (if there is God) doesn't institute marriage. God just allows copulating; mating ... having sex and beget children. Just that. And that was the original arrangement. It was pure, in the Garden of Eden.

Di taman firdaus tak ada pernikahan, yang ada cuma kopulasi. Habis berkopulasi Adam dan Hawa baru sadar ternyata boegil.... Nah, karena sadar boegil, lalu diambillah daun-daun itu untuk dibuat celam (celana dalam) dan BH (ini buat Hawa doang).

Menurut cerita, setelah Adam dan Hawa ngeseks, Tuhan yang lagi jalan-jalan di taman firdaus akhirnya mengendoes-ngendoes adanya sesuatu yang aneh.

"Ke mana si Adam en si Hawa?" tanya Tuhan.

"Biasanya sliwar-sliwer di bawah pohon en guling-gulingan gak sadar diri kalo telanjang boelet. Kok, sekarang ilang?" begitu tanya Tuhan kepada dirinya sendiri.

"Pasti ada something wrong! Pasti udah pada nyadar kalo selama ini boegil," intuisi Tuhan berkata. (Tuhan juga mengandalkan intuisi. Wong jalan-jalan di taman aja bisa, masa gak bisa pake intuisi, apalagi ini namanya Tuhan!).

"Adam, sini, luh!" teriak Tuhan.

Adam lalu dateng, mukanya menunduk ke bawah, gak berani liat muka Tuhan.

"Lu abis meong, yah?" tanya Tuhan dengan garangnya (Tuhan bisa garang juga, walau digembar-gemborkan pengasih dan penyayang, akhir-akhir ini).

"Gw, kan, udah larang lu makan buah itu, siapa nyang suruh lu makan?" tanya Tuhan lagi.

"Si Hawa, Tuhan," jawab Adam.

"Hawa bilang buahnya enak, cukup dipegang-pegang udah bikin kenyang, gitu katanya.... Eh, abis kenyang ane sadar kalo telanjang. Trus ... trus ane jadi takut sama Tuhan soalnya buahnya udah ane perawanin," lanjut Adam.

"Hawaaaaaa!!! Sini, luh," teriak Tuhan.

"Ya, Tuhan," jawab Hawa sambil jalan dengan beringsut-ingsut, mukanya juga menunduk.

"Lu nyang bujuk Adam supaya makan buah terlarang, yah? Kan gw udah larang, kenapa lu jadi gatel dan bujuk Adam supaya gesek-gesek tu buah nyang udah gw larang?", hardik Tuhan.

"Bukan ane, Tuhan," jawab Hawa. "Ane gatel, sih, gatel, tapi gak gatel gitu-gitu amat kalo bukan gara-gara si Depil.... Si Depil nyang bujuk-bujuk ane, katanya ane bisa jadi ok kayak Tuhan, gitu katanya."

Tuhan jadi makin marah. Keringatnya menetes, matanya memerah....

"Depilllll!!! Sini, luh," teriak Tuhan. "Lu nyang bujukin Adam en Hawa supaya meong, yah? Gw, kan, udah larang maen esek-esekan di taman firdaus. Nah, lu kenapa akhirnya sabotase rencana gw?"

"Rencana apaan, Tuhan?" tanya si Depil seenak jidatnya.

"Adam en Hawa itu, kan, udah akil-balig, jadi wajar aja kalo hormonnya naek dan kepengen maen esek-esek.... Ane, sih, bilang apa adanye aja, emang enak, kok!"

So....

So, in the end gak ada yang bisa disalahin. Adam en Hawa karena emang udah akil-balig dan kepengen meong akhirnya dibablaskan keluar dari taman firdaus (taman firdaus ini adalah simbol dari masa kanak-kanak kita ketika kita tidak menyadari bahwa kita telanjang).

Nyang kesian si Depil. Aslinya Depil itu innocent, gak berdosa, ... tapi oleh para rabbi (Yahudi), pastor (Katholik), pendeta (Protestan), dan ustad (Islam) akhirnya dikambinghitamkan.

"Depil, lu jadi kambing item, yah!" begitu kesepakatan para pemuka institusi agama.

"Kita orang, kan, mao bikin macem-macem agama, mau bikin civilizations (peradaban), dan kita orang perlu kambing item, perlu korban, so please understand and accept it kalo lu kepilih buat jadi kambing item.... Jangan ribut-ribut, yah, terima aja, ntar amplopnya di bawah meja," begitu kisahnya menurut badan intelijen asal-usul keagamaan.

Si Depil diem aja, merengut. Si Depil ini aslinya ok banget, luar biasa cakep. Pokoknya bukan seperti bayangan orang sekarang ini. Tapi doi juga tau, kalo dirinya gak dijadiin kambing item, siapa lagi yang bisa? Maklum, waktu itu kambingnya putih semua. Kambing nyang warnanya item belom ada.

"Ok, deh," kata si Depil.

"Ane terima jadi kambing item, tapi gak janji, yah?"

Maksudnya, karena dikambingitemin oleh para pencipta agama, akhirnya si Depil itu menobatkan diri menjadi penggoda umat manusia.

"Gw innocent, gw innocent," kata si Depil.

"Nyang gatel Adam en Hawa, gw innocent...." begitu teriaknya terus, dan masih terdengar terus sampai sekarang, kadang-kadang.


+++

3. SEBUAH MONOLOG DI AKHIR PEKAN


Gw juga daydreaming terus, nih, hmmm hmmm hmmm.... Bayangin orang yang mukanya gak jelas, yang jelas rasanya doang, tapi rasanya gak tau di mana; di mata ketiga, di kedua mata, atau di well, ... I dunno, man, life is like that, hmmm hmmm hmmm....

Ngomong kebanyakan ntar gimanah, ngomong kedikitan ntar gimanah juga. So, ... akhirnya jadi gini-gini aja, daydreaming aja. Sampe kapan, yaaahhh ... hmmm sampe
pulang kampung even though gak jelas juga kampungnya di mana. Ntar kalo udah pulang kampung maybe dikirim lagi ke mission impossible kayak ginih, cappe dehh....

Hmmm ... enakan jadi malaikat aja, yah, enak karena teorinya, kan, malaikat itu sexless. Kalo sexless, kan, enak, tuh, jadi gak ada yang ngerepotin lagi. Kalo kayak gini terus cappe dehh, soalnya biarpun gak ada nyamuk juga bisa kegatelan terus.

Ya udah, loe tidur lagi aja, yah, gw juga tidur bangon, nih. Tidur bentar bangon bentar, ntar juga tidur lagi, hmmm hmmm hmmm ... bisa ketemu loe juga maybe kalo gw
tidur. Tapi mukanya itu gak jelas euyy ... mukanya susah dibayangin, sih, bisanya dirasain aja. Oh, ini rasanya begitu, tapi mukanya gak keliatan.

Kalo melek rasanya sama persis seperti tidur, ganti berganti satu episode ke episode lain. Kalo tidur juga begitu, one episode changes to another. Gak ada surprise lagi ... Gak takut, gak excited, semuanya biasa-biasa aja, hmmm hmmm hmmm….

Abis musti bilang apa lagi? It has come to this, ... jadi life is like that, passing by like shadows. Men and women are like shadows. Like phantoms, hmmm hmmm hmmm....

Gw, tuh, heran orang pengen hidup lama-lama di dunia, ngapain aja, sih, kan begini-begini aja, makan, tidur, kerja, seks (kalo ada), terus mati. Mendingan langsung mati aja deh, hmmm hmmm hmmm....

Mati juga gak bener-bener mati, cuma mati boong-boongan doang, kesadarannya juga tetap ada. Dan itu lebih ok karena bukan di fisik, kalo gak pake fisik, kan, bisa terbang-terbang, bisa jalan-jalan ke mana-mana without harus beli tiket pesawat, without perlu bawa credit card, hmmm hmmm hmmm.... So, ngapain lama-lama di sini, yah, cappe dehh!!!

Tapi gw lagi disetrap gak boleh pulang, musti kelarin dulu mission impossible. Huh ... sampe kapan, yah, this mission impossible, hmmm hmmm hmmm ... gak tau ujung-ujungnya apaan. Kalo ujung-ujungnya dead, kan, mendingan langsung dead aja, yah, hmmm hmmm hmmm....

Bangon tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Loe udah mandi dan gosok gigi belom? Kalo gw emang belom, hmmm hmmm hmmm.... Ngapain mandi dan gosok
gigi, ntar juga kotor lagi, kan, hmmm hmmm hmmm....

Tangan gw jalan sendiri, nih, pegangin dunk supaya diem aja, hmmm hmmm hmmm…. Hus, hus, tangan gak boleh jalan sendiri, nanti bisa bahaya. Oops ... ternyata tangannya jalan terus, blah blah blah, katanya. Aku mau menari-nari di atas tuts keyboard katanya. Aku mau menari poco-poco seperti SBY kata jari-jari tangan gw. Jari-jari tangan gw mao protes ke Megawati, plisss gw juga bisa nari poco-poco kata jari-jari tangan gw, memangnya SBY aja yang bisa kayak gitu, hmmm hmmm hmmm....

Kok gw jadi nge-blank, ada yang masuk, nih, gw kesambet kayaknya, hmmm hmmm hmmm ... kesambet jin Tarot Rider-Waite kali, hmmm hmmm hmmm....

Pertanyaan pertama: Apa yang saya inginkan dalam hidup ini? Jawaban: Tidak ingin apa-apa.

What for what? Apa yang untuk apa? Please be spesific. Pertanyaan umum jawabannya umum, pertanyaan khusus jawabannya bisa khusus pula, ceile, hmmm hmmm
hmmm....

Untuk apa? Ya, mana gw tau. Tangan gw, kan, jalan sendiri. Sama kayak SBY, jari-jari tangan gw, tuh, suka nari poco-poco, hmmm hmmm hmmm ... maju dua langkah, mundur dua langkah. Maju kena, mundur juga kena, ... hmmm hmmm hmmm....

Double meanings, double meanings, that's my specialty, kata jari-jari tangan gw sambil pasang action serious, hmmm hmmm hmmm....

Hari ini saya mengirimkan tulisan-tulisan berjudul "Antara Berbagi Tuhan dan Berbagi Pacar". Kalau ditanya, mengapa saya memberi judul seperti itu, jawab saya, well, gak tau, deh, munculnya begitu saja di kepala saya. Kedengarannya enak dibaca dan agak seksi juga.

Tuhan itu, kan, kekasih. Pacar itu juga "kekasih". Yang satu itu (the Tuhan) adanya di dalam kepala doang. Yang kedua (the pacar) adanya di … hmmm hmmm hmmm ... mana, yah? Actually I have no experience with the second one. Cuma sok tau aja, supaya orang-orang pada baca.

Pok ame-ame, belalang kupu-kupu.... Itu ada si Ani, orang bilang dia itu kupu-kupu. Kupu-kupu alias perki. Pekcun, whatever. Tapi gw bilang sih just a human being, biasa-biasa aja. Not better or worse than me. Malah maybe gw yang lebih bejat daripada dia, hmmm hmmm hmmm....

Dia itu, kan, very honest. Gw, kan, muna-muna dari ujung rambut sampe ujung kaki. Luar dalem en lahir batin. Muna abis, hmmm hmmm hmmm....

So, ... the person is actually quite mengagumkan juga. Gw sendiri gak bisa kayak begitu. Enak, yah, jadi jablay terus ngaku ke semua orang kalo dia itu jablay. Gw? Kalo gw jadi jablay, ... gw rasa gak bakal berani ngaku begitu kayak dia. So, she is herself. Udah jadi diri sendiri.

Ya, ya, ya ... muna-muna. Kalo gw gak muna-muna, ntar orang-orang pada kaget-kaget. Kalo kaget-kaget, ntar ada yang jantungan bisa mati berdiri juga, hmmm hmmm hmmm….

Udah, ah, tangan gw ini nakal sekali, yah.

Waktu gw masih kecil, masih banyak juga, tuh, yang maen layangan di Jakarta. Sekarang udah gak ada. Gw orang zaman dulu, nih. Reinkarnasi dari zaman Mesir Kuno, hmmm hmmm hmmm.... Capek juga, yah, kalo musti reinkarnasi again and again.

Gw gak bisa maen layangan. Dari zaman dulu gw itu gak bisa maen layangan en naek motor. Eh, maen gundu juga gak bisa. Gak bisa maen layangan, gak bisa maen gundu,
dan gak bisa naek motor. Gw gak bisa gundu, gundunya licin, meleset terus dari tangan gw. Tangan gw gak bisa megang yang licin-licin, hmmm hmmm hmmm....

Gak tau, tuh, alesan benernya kenapa gak bisa maen gundu, ... gak bakat permainan cowok kali, tuh. Gundu, kan, maenan cowok, layangan juga. Gw gak bisa dan gak suka maenan cowok, cappe dehh!!! Gak tau maenan apaan yang gw suka, nih, padahal di kehidupan sekarang, kan, gw udah bukan cewek lagi.

Gw juga kenal, tuh, fashion designers yang gimana gituh ... gak napsuin, deh. Daripada maen sama bences, mendingan maen sama cewek. Tapi ini off the record, yah … gw, kan, musti jaim, nih, gak boleh ngomong/nulis yang sara en gimanah gituh. Kalo nyebut “bences”, kan, artinya "sara" juga, tuh, ... gak boleh, tuh, dosa, hmmm hmmm hmmm....

Yang macho-macho juga nyebelin. Seyyeeeeemmmm.... Lari aja, ah, mendingan semedi aja, ah, aummm aummm aummm....

Loe be careful, yah, di AS itu bencesnya macho-macho. Di Europe juga gitu. Gw pernah di AS disamperin sama yang macho kayak begitu, takut. Gw suka sama yang biasa-biasa aja, hmmm hmmm hmmm.... Kalo biasa-biasa aja, gak apa-apa, gak nyeremin. Gw, kan, penakut, nih.

Well, gw gak tau situasinya seperti apa sekarang di Indonesia. I'm not that close anymore dengan mereka. Gw pernah kenal ini dan itu, tapi, yah, semuanya itu seperti passing shadows aja.... Datang dan pergi begitu saja. Ketemu sebentar dan gak ketemu lagi. Maybe ada gak ok-nya, tapi namanya manusia memang gak ada yang perfect. Nobody's perfect.

Hmmm hmmm hmmm ... kalo lagi di Bali please try melukat (ritual mandi air suci) di Tirta Empul, Tampak Siring. Very refreshing. Itu mata air yang paling suci buat
orang Bali. Kita bisa mandi di sana juga. Ada Istana Tampak Siring, ... dan Tirta Empul itu persis di bawah Istana Tampak Siring.

Well, mereka percaya itu bisa membantu proses pembersihan diri. Belief system mereka seperti itu. So, ... ada orang yang lakunya itu mandi di Tirta Empul hampir tiap hari. GW dulu ke Tirta Empul, terus ke Pura Besakih.

Musyrik asli, ... pake sarung ala Bali dan sembahyang di Pura Besakih, hmmm hmmm hmmm.... Musyrik dan syirik, hmmm hmmm hmmm....

Keluarga gw gak tau. Gw diem-diem aja sampe sekarang kalo gw udah ke mana-mana. My family doesn't know. Nyokap gw kalo tau bisa mencak-mencak. So, I'm a different person di rumah. Di luar rumah another different person. Itu yang gw bilang muna-muna. Gw ini banyak munanya.

For some circle of friends, I am A. For another circle of friends, I am B. For you, I am C. And these are not the same. Gw ini bunglon abiesz....

Abis gimana, yah, maybe perannya musti seperti itu. Ada temen gw di Jepara, dia itu kesel karena dia bisa liat di conversations itu gw berubah-ubah. Seperti kompromi sama orang-orang. Well ... memang kompromi. Kalo orang baru sampe A, masa gw musti bilang gw udah sampe Z. So, ... kalo orang baru sampe A, paling gw bilang gw baru sampe B (dengan buntut yang masih nempel di A). Always like that. Itu ilmu bunglon.

Mungkin itu disebut sebagai metode konseling juga. Psikolog, kan, biasanya bilang: Saya mengerti perasaanmu, something like that. Dan gw lebih dari psikolog. Gw bilang gw juga seperti itu. Padahal, benernya nggak gitu. Padahal gw itu hampir gak ada
haramnya. Tapi kalo orang yang gw ajak bicara punya batas haram di titik itu, ya, gw ikutin aja, hmmm hmmm hmmm....

Metode konseling aja, yah, muna-munalah. Because only in that way can we help other people. Kalo gak kayak bunglon, susah untuk help other people. It's my method. Ya, beda-beda ... tiap orang beda-beda. Karena gw langsung ngadepin banyak orang at personal level, makanya range kebunglonan gw besar banget. Bisa dari ekstrem satu ke ekstrem satunya lagi.

For the sake of helping other people musti gitu caranya. That's real empathy. Jadi gak asal nabrak orang. Malah, if possible, gak usah pake nabrak but ... gimana gituh.

Being a chameleon is fine, anybody is a chamelon. Karma karma karma chameleon..., kata si Boy George. I'm a man without conviction…. blah blah blah....

I'm really glad to see you happier. Udah gak ngomong tentang alam barzah lagi. Enakan di sana, yah, gw juga mao cepet-cepet ke sana aja, nih. It's better there actually.

Kalo ternyata dosa gak diitung, kan, kita bisa merasa rugi juga, tuh, pas sampe di alam barzah. Well, gak gitulah. Dosa is our own measure di dunia ini. Yang kita anggap dosa, ya, itulah dosa. Tapi gw sendiri udah gak mikir pake gituan lagi. Apa adanya aja.

Kalo soal the other world, gw bisa lebih free ... memang bener-bener udah gak pake ngitung-ngitung amal ibadah lagi. I believe that.

Yang ribet itu karena masih di dunia, jadi walopun maonya itu ke kanan, tapi musti kompromi dan ngomong ke kiri. Padahal kalo mao jujur, mustinya bilang ke kanan. Itu yang bikin capek in this world.

Well, anything done not in faith is dosa. Kalo loe melakukan sesuatu tidak dengan iman, itu dosa. Well, kalo kita melakukan sesuatu tidak dengan iman, ya, akan kena "penghakiman". Jadi, di dunia sana seperti ada macam-macam lapisan juga. Ketika orang baru meninggal, muncul simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan ini. Terus, kalo orangnya itu banyak "dosa", akan ada semacam "penghakiman" juga.

Tetapi itu, kan, semacam ruang kelas juga. Setelah orangnya sadar bahwa semuanya di alam pikiran dia sendiri, ya, udah. Berarti udah selesai, things like that.

Terus, roh kita itu mau ke mana. Apakah mau pergi ke dimensi lebih tinggi, mau tetap sementara di alam antara itu, atau ... mau balik lagi ke dunia ini. Ya, ada semacam itu juga. Makanya harus ikhlas dan pasrah. Kalo kita bisa completely ikhlas dan pasrah, ... kita bisa lewat shirathal mustaqim itu. Ikhlas dan pasrah even tanpa mengandalkan amal dan ibadah. Kalo masih mau bawa amal dan ibadah berarti belum ikhlas dan pasrah. Kalo kita hitung amal dan ibadah, berarti dosa kita juga dihitung. Kalo kita gak ngitung amal dan ibadah, completely ikhlas dan pasrah, maka bisa lewat. Itulah.

Orang-orang itu, kan, korupsi jalan terus dan amal-ibadah jalan terus. Perhitungannya, maybe somewhat somehow bisa gimana gituh sehingga akhirnya nyelip juga masuk surga. That's nonsense. Itu cara pikir manusia. Emangnya Tuhan bisa dikibulin? Emangnya Tuhan akuntan? Orang-orang pikir Tuhan itu kayak akuntan aja, ngitungin dosa dan amal-ibadah orang.

So, mestinya kita berbuat baik karena kita mau berbuat baik. Bahkan itu tidak kita sebut baik atau tidak baik. Just be yourself. Orang lain bilang baik atau tidak, just be yourself. ikhlas dan pasrah aja.

Ikhlas dan pasrah artinya ikhtiar jalan terus tapi pasrah aja, apa pun yang terjadi, terjadilah. Gak dipikirin. Berarti gak ngarepin ini dan itu. Melakukan apa yang dirasa harus dilakukan. Just that. Apa adanya saja, menjadi diri sendiri saja.

Dan kalo gw mao konsekuen dengan itu, berarti gw juga musti lepasin segala yang gw mao. Berat euyyy....

Well, gw menjadi diri sendiri for myself. Gw menjadi bunglon for the sake of other people. Kalo gw jadi diri sendiri dan itu ternyata tidak membantu orang, mendingan gw jadi bunglon dan membantu orang.

Gw sama loe juga jadi bunglon, nih.... Warnanya ungu, nih. Bunglon ungu itu cute juga yah, hmmm hmmm hmmm.... Purple chameleon, that's me, for you....

Too much spirituality is boring. Too much religion is also boring. Too much fun is also boring. Oh my, I have done that all. Terlalu banyak fun, even yang gimana gituh, itu juga membosankan. So, ... life is like that. Jadi memang mustinya itu balanced aja. Seimbang aja. Mau jadi orang yang terlalu baik is boring, definitely. Mao jadi orang yang gak baik is the same also. Thus, bener yang dibilang sama Solomon itu, enakan di tengah-tengah aja. Gak usah terlalu taat, dan gak usah terlalu urakan.

Everything should be balanced, seimbang aja. Berarti bener, dong, apa yang dilakukan oleh most people itu, yah, yang nonetheless berusaha menyeimbangkan dunia dan akhirat. Dunia jalan terus while at the same time, menabung buat akhirat juga jalan terus. Itu jalan tengah. Any extreme is hurting.

Semua yang ekstrem-ekstrem itu menyakitkan. Yang sakit, ya, diri sendiri. I know people who have the so called "principles", ... dan itu membikin mereka susah menyesuaikan diri. Seperti orang "aneh" di lingkungannya sendiri. So, whether the principle is "right" or "wrong" is not the matter, actually.

It's belief system only. What for some people is "right" doesn't mean that it is so for everybody. Values are relative. Relatiflah, ... semuanya itu, kan, ditentukan oleh orangnya sendiri. Dia bisa percaya itu benar, and that's his or her own right to say and
practice so. Tetapi gak berarti harus berlaku untuk semua orang lain. Nah, akhirnya segalanya itu berbenturan, kan. Gak ada values (norms) itu yang bisa dipegang. Yang namanya norms (norma-norma) itu berubah juga, dan tergantung orangnya mau pegang yang mana.

Bisa ngotot dan konsekuen. Bisa lukewarms. Bisa masa bodoh. Dan itu hak orang masing-masing. It's their lives, anyway. Akhirnya kita itu gak bisa judge bahwa ini
baik atau itu buruk. Segalanya itu relatif. Dan gak ada satu pun yang bisa jadi pegangan di dunia ini kecuali hukum (the law).

Dan yang namanya law itu, kan, juga konsensus dari the political unit. Konsensus is the law, ada civic law (hukum perdata); and ada juga penal law (hukum pidana) untuk mengatur yang lebih luas. Just that. Abis apa lagi, hmmm hmmm hmmm....

So, ... akhirnya akan tersisa begitu banyak private domains (ruang lingkup pribadi) yang mencakup religions, life styles (oh, yes), ... blah blah blah.... yang up to the person to have it. Selama gak bertentangan dengan the law, ya, ok-ok aja....

Nah, the problem is, the law itu, kan, bergerak terus. Selalu dimodifikasi. Apa yang dianggap tabu di masa lalu sekarang ternyata biasa-biasa saja. Selalu dimodifikasi. Something like that.... It's very normal.

Tapi jalan menuju, even, sampai bisa memeroleh suatu system yang berjalan lancar seperti itu, kan, gak gampang. Banyak jatuh bangunnya juga. Itu politik, kemasyarakatan, dan semuanya tumplek-blek di situ, gontok-gontokan. Biar aja, memang jalannya seperti itu. It's the way the world works, di mana-mana begitu cara kerjanya. Selalu gontok-gontokan, selalu fight sampai yang lebih oke tercapai. Udah gitu, fight lagi, on and on.

Ada tesis, ada antitesis, sampai akhirnya muncul sintesis yang baru. The new synthesis is also the new thesis yang akan memunculkan another antithesis. Begitu seterusnya, gak ada akhirnya. Well, benernya semuanya seperti itu. Di religions juga seperti itu cara kerjanya, di traditions juga seperti itu. Even di personal lives juga seperti itu cara kerjanya. Kita mulai dengan satu konsep (biasanya ketika mulai sadar in our teens), ... lalu konsep itu dipakai. Ternyata cuma bisa jalan setengah. Lalu banting setir, coba lagi another konsep. Jalan sebentar lalu mandeg. Coba lagi, dan coba lagi. Always like that. Life is like that ... cape, kaaaannnn???

So, what's the purpose of all these? Cosmic drama? Pembelajaran jiwa? Ahhh.... semuanya is tiring, bikin cape, dan boring juga. Then, kalo udah boring dengan semuanya, so what? Mao apa lagi? That's the question, kan?

Ada yang lari ke hedonism (hura-hura doang), ... ada juga yang lari ke spiritualism (spirit-spirit doang). Sama aja, cappe dehh!!!

So, akhirnya kita akan sampai ke kesimpulan seperti yang dicapai oleh Solomon, King of Israel, son of David ... yang bilang, “There is nothing new under sun”. Apa yang ada, sudah pernah ada. Apa yang akan kejadian, sudah pernah kejadian juga sebelumnya. Nothing is new under the sun. Dan apa pun yang dilakukan oleh manusia itu cuma chasing the wind. Mengejar angin saja.... Mengejar angin? Well, that's exactly the words recorded.

Itu, toh, yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman dan dicatat di kitab suci. Mengejar angin which means gak ada gunanya. Useless semuanya useless.

Terus Sulaiman terpojok sendiri oleh pemikirannya (walaupun konon dia itu orang yang paling bijaksana sedunia di zamannya). Akhirnya Sulaiman bilang, “Just enjoy yourself”. Enjoy aja ... jalanin aja.

Gak usah ngotot dan ngoyo, biasa-biasa aja, enjoy aja. Just that. Be yourself, artinya gak memaksakan diri untuk jadi ini atau itu. Biasa-biasa aja, deh … enjoy aja, deh, hmmm hmmm hmmm....


+++

4. KISAH SI BUNGLON DI ASTANA GIRI BANGUN


Saya mao ngaku "dosa", nih, hmmm hmmm hmmm.... Kemarin, tuh, ceritanya saya gimana gituh sama Babe Harto ketika de'e exit dan digotong masuk buat disukabumikan di Astana Giri Bangun yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Well, benernya saya juga pernah ke sana beberapa tahun lalu ketika nyekar ke makam Ibu Tien Soeharto. Boleh, kaaannn???

So, several years ago I visited Astana Giri Bangun, pemakaman keluarga Ibu Tien Soeharto. Itu bukan pemakaman keluarga Babe Harto, melainkan pemakaman keluarga Ibu Tien, dan didirikan oleh ibu dari Ibu Tien untuk sanak keluarganya sendiri. So, memang di tempat itu tidak ada tempat untuk pihak keluarga dari Babe Harto kecuali untuk Babe sendiri dan anak-anaknya.

Nah, si bunglon (or karma chameleon kalau ngikutin versi Boy George), nih, ngaku juga kalo pernah ke sana. Tempatnya very mewah, itu semua orang tahu. Bentuk bangunan utamanya itu seperti joglo. Dan di dalam joglo itu masih ada ruang utamanya yang terletak di tengah. Jadi, joglo itu memiliki pintu masuk. Di dalam joglo itu masih ada pintu lagi untuk masuk ruang utama yang letaknya di tengah. Di dalam ruang utama itu ada 12 (dua belas) cungkup makam.

Waktu saya ke sana, yang baru terisi cuma 4 makam, yaitu makam ayah, ibu, serta kakak dari Ibu Tien yang letaknya paling kiri. Paling kanan terletak makam Ibu Tien. Waktu saya ke sana, cungkup di sebelah Ibu Tien itu masih kosong, walaupun saya tahu bahwa itu akan diisi oleh Babe Harto nantinya, yang benar telah diisi waktu pemakaman kemarin itu yang diekspos besar-besaran secara live di semua stasiun TV.

Saya lihat di TV itu kemarin Astana Giri Bangun dipenuhi orang. Ada ribuan orang yang mengantre untuk melihat iring-iringan jenazah. Ada Presiden SBY dan istrinya. Ada mantan Ketua Umum Partai Golkar, Abdul Gafur. Ada Prayogo Pangestu yang nyengir-nyengir aja di depan kamera TV (always nyengir, maybe karena mukanya emang begitu, gak bisa ekspresi laen lagi).

Terus saya coba ingat kesan-kesan saya waktu ke sana. Waktu itu saya datang dengan teman-teman dari aliran kepercayaan kejawen yang sudah kontak-kontak dengan kepala rumah tangga Dalem Kalitan di Kota Solo (Dalem Kalitan itu rumah Babe di Kota Solo). Dan kepala rumah tangga Dalem Kalitan lalu kontak penjaga Astana Giri Bangun untuk membukakan pintu masuk ketika kami datang, dan menyajikan makanan. Yes, friends, bener-bener makanan dan minuman. Kami itu datang serombongan satu bus besar, dan karena memang mau nyekar ke makam Ibu Tien, maka diterima dan dijamu sebagai "tamu" Ibu Tien. Lalu makanlah kami di sana. Saya ingat makannya itu nasi pecel yang rasanya pedessss banget. Maybe Ibu Tien itu doyannya nasi pecel yang pedes. Pokoknya pedes asli, dan itu rather strange juga benernya, soalnya mana ada, sih, nasi pecel di Solo yang pedes kayak begitu. So, saya akhirnya menyimpulkan Ibu Tien itu doyannya nasi pecel yang pedes banget.

Habis makan dengan lahap di dalam Astana Giri Bangun yang berbentuk joglo itu, teman-teman saya yang asli dari kelompok kejawen itu lalu berganti pakaian. Pada pakai baju adat. Kami mau meditasi dan mendoakan Ibu Tien, dan tata krama menyarankan baju adat. So, pakaian modern orang-orang Jakarta itu lalu berganti dengan beskap, kain, dan blangkon. Saya sendiri, sih, cuma pakai blangkon saja. Ribet kalo musti pake beskap.

Lalu kami meditasi di depan cungkup makam Ibu Tien. Meditasi biasa saja, mendoakan biasa saja, walaupun pakai dupa juga. Lalu tebar bunga di makam Ibu Tien dan makam-makam lainnya yang ada di ruang utama di dalam joglo di Astana Giri Bangun itu.

Kesan saya, ya, memang itu istana. Mewah sekali, dan asri sekali udara dan pemandangannya. Cuma, kesan yang paling membekas di diri saya adalah tidak adanya nuansa islami di Astana Giri Bangun. Yang ada itu nuansa Jawa dan Kristen. Bukan nuansa Islam. Saya itu cukup bingung-bingung juga bertahun-tahun, kenapa di Astana Giri Bangun itu tidak terasa suasana islami. Dan itu baru terjawab kemarin ketika mendengar penjelasan di TV, bahwa tempat itu dibangun oleh ibu dari Ibu Tien yang konon Kristen (Katholik). Wah, pantes saja, pikir saya. Pantes saja nuansanya itu Jawa Kristen.

Naik sedikit dari Astana Giri Bangun dengan berjalan kaki, kita bisa memasuki kompleks pemakaman keluarga Puri Mangkunegaran. Di sana ada Makam Eyang Sambernyowo
(Mangkunegoro I). Nah, di tempat Sambernyowo ini suasananya lain lagi. Di sini nuansanya Jawa Islam, walaupun memang lebih kejawen daripada Islam.


+++

5. ARTI SIMBOLIK DARI HURUF ALIPH


Beberapa hari lalu tiba-tiba muncul something like this di kepala aku: "I am the alpha and omega, the beginning and the end - Akulah alpha dan omega, yang awal dan yang akhir".

Nah, kalau mau pakai simbolisme yang diambil dari Alkitab bagian Perjanjian Baru, kita bisa pakai ayat itu. Siapa yang mengatakan itu? Roh kudus, bukan? Menurut kepercayaan Katholik tradisional, Santo Yohanes yang diasingkan di Pulau Patmos dipenuhi oleh roh kudus dan menulis kata-kata yang kemudian menjadi Kitab Wahyu, kitab terakhir di Perjanjian Baru.

Menurut interpretasi gereja, roh kudus itu roh Yesus Kristus. Jadi, Yesus menginspirasi Santo Yohanes untuk menuliskan kata-kata tersebut: "Akulah alpha dan omega, yang awal dan yang akhir."

Mengapa alpha? Karena alpha adalah huruf pertama di dalam abjad Yunani. Di dalam abjad Ibrani, alpha itu disebut aleph. Dan di dalam abjad Arab, alpha itu disebut aliph.

Arti simbolik dari huruf aliph (alpha/aleph) itu adalah The One. Sang Hyang Tunggal. Lord God Almighty. Dan, kalau mau balik kembali ke Nabi Musa, itu adalah nama God yang tidak boleh diucapkan, tetapi bisa dituliskan sebagai JHVH dalam abjad Ibrani.

Lalu, dari huruf aliph itu muncul bermacam simbolisme universal, bahkan dalam dunia Hindu/Buddha.

Di Hindu/Buddha, dari ucapan "ah" itu (yang dituliskan sebagai huruf alpha/aleph/aliph) akhirnya muncul kata sakral "aum".

Auuum ... auuum ... auuum.... Dengan kata aum itu semua mantra Hindu/Buddha diawali dan diakhiri.

Dalam dunia Yahudi/Kristen/Katholik/Islam, ucapan "ah" (yang dituliskan sebagai huruf alpha/aleph/aliph) itu memunculkan kata sakral "amin".

Aaaamin ... aaaamin ... aaamin.... Artinya, jadilah kehendakMu.

Auuum ... auuum ... auuum....

Aaamin ... aaamin ... aaamin....

Dan itu semuanya berasal dari ucapah "ah" yang merupakan ucapan seorang bayi manusia yang pertama. Itu ucapan yang pertama kali dikeluarkan oleh seorang bayi manusia di mana-mana, dan itu menjadi huruf pertama. Dan itu menjadi simbol dari The One, even until now.

Dan untuk lebih universal, aku gak pake aum-auman atau amin-aminan, tapi aku pake hmmmm hmmmm hmmmm....


+++

6. SEBUAH PESAN NATAL?


Hmmm hmmm hmmm.... Wah, Natal dateng lagi, nih, pikirku sejak seminggu lalu. Lebaran sudah lewat, dan sekarang Natal/Tahun Baru menjelang. Hmmm hmmm hmmm.... Entah mengapa aku selalu merasa risih ketika dua hari raya itu mendekat. Kenapa? Well, should I be honest here? Hmmm hmmm hmmm.... karena yang ngirim SMS itu bertubi-tubi dan aku always kehabisan pulsa untuk menjawab satu per satu. Pulsanya udah habis, so melalui posting ini saya mengucapkan terima kasih kepada yang
mengirimkan SMS selamat Natal/Tahun Baru kepada saya. Dan juga terima kasih untuk yang mengirimkan selamat Lebaran melalui SMS kepada saya, yang sampai saat ini,
belum sempat saya balas juga. Hemat pulsa, nihhh!!!

Kenapa, yah, pada ngirim selamat ke aku kalo Lebaran dan Natal/Tahun Baru? Dan kenapa gak ada yang ngirim selamat ke aku waktu Nyepi (Hari Raya Hindu Bali)
atau Waisak (Hari Raya Buddhist), atau waktu Tahun Baru Sura (hari yang dihormati oleh kalangan kejawen, walaupun gak diakui oleh republik mimpi ini)? Hmmm
hmmm hmmm.... mungkin aku lebih terlihat Islam dan Kristen dibandingkan aliran-aliran yang lain itu, yah? Padahal aku, kan, mengetengahkan spiritualitas yang berada di luar agama-agama itu. Agama-agama is ok. Dan kita tidak harus tergantung dari agama-agama untuk kultivasi spiritualitas kita masing-masing. Hmmm hmmm hmmm....

Terus tadi ada seorang rekan dari Jawa Tengah yang telepon aku pagi-pagi. Dia gak percaya kalo aku ini gak pergi ke gereja waktu Natal.

"Semalam ke gereja, gak?", tanya dia.

"Nggak", jawab aku.

"Hari ini ke gereja, gak?", tanya dia lagi.

"Nggak juga", jawab aku.

Hmmm hmmm hmmm ... so what? Ke gereja or gak ke gereja, emangnya Tuhan marah? Anyway, thanks for so many selamat Natal, SMS yang gak bisa (dan gak mao karena
pengen hemat pulsa) aku balas satu per satu. Well, I accept the fact kalo tiap Lebaran terima SMS banyak, tiap Natal juga begitu. So, aku ikhlas dan pasrah aja, deh. Apa yang terjadi, terjadilah. Mao dibilang muslim, kek, mao dibilang Nasrani, kek, mao dibilang Buddhist, kek, mao dibilang Hindu, kek, I don't care. Apa aja deh, ... hmmm hmmm hmmm....

Nah, Mas B, temen yang dari Jawa Tengah dan baru pertama kali bicara dengan aku di telpon itu kemudian banyak diemnya.

"Kok, diem aja?" tanya aku.

"Suaranya laen," katanya.

"Lha, kok, tau suaranya laen? Kan, belom pernah ngomong sama aku sebelumnya," tanya aku.

"Suaranya kayak anak muda, gak sesuai dengan umurnya, gak sesuai dengan bayangan aku," jawabnya.

Hmmm hmmm hmmm ... aku ketawa aja. Abis musti ngomong apa lagi. Emang suaranya kayak gitu, gak dibikin supaya awet muda or pake jampi-jampi ilmu pengasihan.

Dan Mas B akhirnya tanya tentang agama ke aku. Aduh, pikirku. Orang-orang, kok, pada ributin agama. Agama aja gak ngeributin orang, ini orang-orang pada ributin agama. Well, never mind, ... so aku jawab saja. Dia tanya tentang apakah aku percaya "agama". Maksudnya, tentang agama yang "benar", ... blah blah blah. Dan jawabannya itu gampang aja. Aku memang pernah percaya sama agama, tapi tidak lagi. Aku sekarang pegang esensi/hakikat, dan itu bisa kita jalani even tanpa agama. Semua agama itu mengajarkan jalan balik menuju kepada asal-muasal dari segalanya. Asal-muasal dari roh kita, ... dan ketika kita sampai pada perenungan yang terakhir, kita mau gak mau akan berkesimpulan, bahwa roh kita dan roh Al Khalik itu memang tidak pernah berpisah. Memang selalu satu. Aku mengambil contoh generator dan aliran listrik yang menghidupi satu kota. Nah, Tuhan itu (atau All that is, atau Acynthia, atau Thian, atau whoever we might want to call It/Him/Her/Them) itu ibaratnya si generator, ... dan dia itu menghidupi satu kota itu. Dan generator itu tidak pernah berhenti bekerja, dan memang menyambung terus ke tiap rumah yang ada di kota itu.

Lalu diri kita di mana? Well, diri kita itu adalah seperti satu bola lampu. Nah, satu bola lampu yang hidup di dalam salah satu rumah di dalam satu kota itu apakah tidak
berhubungan dengan generator tunggal itu? ... Hmmm hmmm hmmm.... Jawabnya tentu saja berhubungan. Dan hubungannya itu terus-menerus. Dan tidak pernah berhenti, dan tidak pernah putus. God is the generator, dan kita manusia itu adalah bola-bola lampunya. Generator itu menghidupi si bola lampu. Ada listrik (roh). Dan listrik (roh) yang ada di generator itu sama persis dengan listrik yang ada di bola lampu itu, ... bahkan di bola lampu yang terkecil. Itu analoginya antara kita manusia dengan God/Tuhan/Allah/All that Is....

Lalu si Mas B bertanya lagi, kok, ada banyak agama-agama? Hmmm hmmm hmmm.... Aku jawab, memangnya gak boleh? Agama-agama itu metode-metode belaka. Tiap agama itu satu metode, ... dan metode itu teknik-teknik untuk memberikan pemahaman kepada si bola lampu itu bahwa listrik yang ada di dirinya itu sama persisi dengan listrik yang ada di si generator. Listrik di generator itu menghidupi si bola lampu, itu memang benar. Tetapi listriknya itu sama persis. So, ... roh manusia itu sama persis dengan roh Tuhan. Itu analoginya. Hmmm hmmm hmmm....

Yang suka jadi masalah, kan, bahasa belaka. Kita harus mengomunikasikan sesuatu yang ada di luar jangkauan bahasa. Sesuatu yang cuma bisa dirasakan tapi untuk mengomunikasikannya harus menggunakan gambaran-gambaran. Kiasan-kiasan. Peribahasa-peribahasa. Perumpamaan-perumpamaan. Tapi, hakikatnya itu sama saja. Karena kita manusia yang berpikir, maka kita harus menggunakan simbol-simbol untuk berkomunikasi. Nah, agama-agama itu menggunakan simbol-simbol juga. Dan simbol-simbol yang digunakan itu beda-beda. Tapi kita bisa dengan mudah menarik benang merah kesamaan antara berbagai simbol-simbol itu.

Ada korespondensi yang bisa ditarik antara berbagai simbol yang digunakan oleh berbagai agama/aliran kepercayaan. Contohnya manusia, kan, berusaha untuk komunikasi dengan penciptanya. Ada yang menyebut roh pencipta yang ada di dirinya itu dengan sebutan "subhanallah". Nah, dengan “Sang Subhanallah” itulah manusia itu berkomunikasi. Berbicara di batinnya dengan subhanallah, setiap hari, ... dan bahkan setiap detik. Ada pula yang menyebut roh pencipta di dirinya itu sebagai Tuhan Yesus. Nah, berarti dengan Tuhan Yesuslah orang itu akan berkomunikasi. Ada pula yang berkomunikasi dengan Bunda Maria. Ada yang berkomunikasi dengan Eyang Semar. Ada yang berkomunikasi dengan Sang Buddha. Ada yang berkomunikasi dengan Dewi Kwan Im. Ada yang berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul. Ada yang berkomunikasi dengan Roh Kudus. Hmmm hmmm hmmm....

Tetapi, semua itu, kan, simbol-simbol belaka. Simbol-simbol yang memang paling akrab dengan diri kita. Kita bisa memilih akan menggunakan simbol yang mana. Nah, dengan simbol itulah kita bisa merasakan manunggaling kawula lan Gusti. Merasakan kesatuan dengan yang Illahi. So, in the end, bahkan segala sebutan-sebutan itu cuma metode belaka. Metode untuk komunikasi belaka antara si bola lampu dengan si generator. Mengomunikasikan hakikat bahwa pada dasarnya listrik yang ada di si generator itu sama persis dengan yang ada di si bola lampu.


+++

7. MALAM KUDUS SUNYI SENYAP


Salah satu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab sampai saat ini berbunyi: "Do I celebrate Christmas?" (Apakah saya merayakan Hari Natal?). Hmmm hmmm hmmm... susah jawabnya. Secara tradisi, keluarga saya merayakan Natal. Dan saya ingat bahwa Natal di waktu saya masih kecil berarti baju baru, sepatu baru, mainan baru, dan a lot of foods. Semua anak-anak harus dapat pakaian dan sepatu baru, lengkap ... dan rumah harus penuh dengan makanan dan minuman. Hmmm hmmm hmmm ... itu ingatan saya tentang Natal di masa kecil saya. Lalu ada acara gereja, pergi ke gereja bersama keluarga. Lalu ada banyak pesta Natal, ... satu bulan Desember itu penuh dengan pesta Natal.

Pesta Natal bagi anak-anak dan, ... ketika saya sudah remaja, ada juga pesta Natal buat anak-anak remaja, lalu pesta Natal buat pemuda. Sekarang, bahkan ibu saya tiap tahun sudah ikut pesta Natal untuk manula (manusia usia lanjut). Hmmm hmmm hmmm ... full of parties, eh? But, saya juga ingat bahwa sejak remaja saya itu paling males pergi ke gereja. Ada fotonya yang memerlihatkan saya diam saja di rumah ketika satu keluarga pergi ke gereja. Hmmm hmmm hmmm ... I did not feel the need to go to church. Untuk apa? Kan, sama aja? Bukan saya berdoa sendiri saat itu. Saya tidak berdoa. Tidak pula bermeditasi (I was only 15 yo at that time?). Cuma saya merasa bahwa itu semua social events. Cuma kegiatan sosial belaka, hura-hura memang, ya, ... dan full of fun. I was looking for something better. Years go by, dan saya jatuh bangun dalam pergulatan mental dan batin, tetapi Natal selalu datang tepat pada waktunya. Selalu pada 25 Desember, baik itu waktu saya di USA maupun ketika saya kembali ke Indonesia sampai saat ini.

Dan, tahun-tahun terakhir ini saya sering menghadiri misa malam Natal yang penuh sesak bersama seorang teman yang sama. Halaman gereja itu dipasangi terpal sampai ke pinggir jalan. Dan saya selalu dapat tempat yang dekat dengan jalan. Bukan hanya saya, tetapi yang lain juga. Ada beberapa ribu orang yang memadati satu gedung dan halaman gereja itu mengikuti misa yang berlangsung dua jam lebih. Dengan segala arak-arakan,
doa-doa dan lagu-lagu berbagai bahasa. Hmmm hmmm hmmm ... ritual only, pikir saya. Dan saya ada di gedung gereja itu karena buat kawan saya, itu very important. Itu
keharusan baginya. Dan saya ada di sana karena saya ingin mendampinginya. Ingin berbagi kebahagiannya. Hmmm hmmm hmmm....

Well, what a religious sceptic I am. Yet I know that for many people Christmas means a lot. Artinya dalam, dan ritual misa Natal cuma penggambaran kembali ketika Yesus/Isa dilahirkan melalui Santa Maria/Siti Maryam, di tanah yang sekarang dikenal sebagai Israel. Tapi maknanya itu lebih dari sekedar peringatan kelahiran dari seorang pendiri aliran kebatinan. Hmmm hmmm hmmm ... kebatinan? Ya, apa lagi? Spiritualitas is kebatinan, dan itu bukan agama. Yesus/Isa mengajarkan prinsip-prinsip kerohanian, dan bukan agama. Perkembangan sejarah mengharuskan ajaran-ajarannya dibakukan menjadi agama. Lengkap dengan dogma-dogma, tradisi, ritual, dan berbagai atribut (simbol- simbol) yang sebenarnya tidak dikenal di zamannya. Tapi itulah manusia, tidak bisa berkomunikasi tanpa simbol-simbol. Dan bahasa itu simbol-simbol. Dan agama itu penuh dengan simbol-simbol untuk mengomunikasikan sesuatu yang memang ada di dalam diri setiap manusia. Yang asli adalah hakikat di balik simbol-simbol itu, dan bukan segala atribut yang cuma dipakai untuk mengomunikasikan simbol-simbol itu.

Kelahiran Isa/Yesus merupakan lambang dari kelahiran setiap manusia. Kita ini, diri saya, diri Anda, diri siapa saja ... yang lahir ke bumi ini dari seorang perempuan (disimbolkan oleh Santa Maria/Siti Maryam). Nah, ayah dari si anak manusia itu tidak jelas. Secara manusiawi, ditunjukkan bahwa ayahnya itu Yusuf suami Maria (Santo Yosep), tetapi secara kerohanian/spiritual/kebatinan, ayahnya yang asli itu bukan
seorang manusia melainkan roh. Nah, itu, kan, simbol yang memerlihatkan situasi setiap orang dari kita di sini? Kita lahir dari ibu manusia dan "bapak" yang bukan manusia melainkan roh. Dan kalau menggunakan istilah relijius keagamaan, roh itu disebut sebagai roh Tuhan. Roh Allah. Hmmm hmmm hmmm.... So, sesuatu yang menjadi hakikat dari setiap orang dari kita diproyeksikan ke satu orang figur historis, dalam hal ini Isa yang kemudian akan menjadi Al Masih. Isa Al Masih atau Yesus Kristus. Hmmm hmmm hmmm ... dan, bukankah akhirnya hal itu merujuk kepada setiap diri kita pula? Karena Isa yang dilahirkan oleh Siti Maryam dan berbapak roh Tuhan itu akhirnya menjadi Al Masih, bukankah kita juga akan menjadi Al Masih (Kristus)?

Jadilah Al Masih. Jadilah Kristus ... Kristus itu adalah roh. Dan adanya di dalam pikiran (the mind) kita. Pikiran kita itu roh, dan memang abstrak. Dan dari sana segala hal yang musykil untuk kita terima sebagai manusia biasa akan menjadi hal-hal yang biasa-biasa saja. Kita memang roh yang kebetulan memiliki tubuh fisik. Dan kita memang anak dari Tuhan. Setiap orang dari kita. Dan pikiran yang ada di Al Masih itu memang bisa ada di pikiran tiap orang dari kita. Hmmm hmmm hmmm ... itu arti dari Natal. Natal berarti kelahiran.

Dan itu merupakan ritual tahunan bagi mereka yang mengharapkan kedatangan Isa sebagai Al Masih atau Imam Mahdi untuk kedua kalinya. Hmmm hmmm hmmm.... Maybe Isa akan datang kedua kalinya secara fisik. Tetapi, ... one thing to be sure, ... everyone of us has to be like him. Harus seperti Isa. Menjadi Al Masih, menjadi Imam
Mahdi. At least bagi diri sendiri.... Just that from me at this time. Selamat merayakan kelahiran Isa Al Masih bagi semuanya. Anda tidak harus merayakan Natal secara fisik, seperti saya juga tidak merayakannya secara fisik. Tetapi, ya, secara batin. Roh kita merayakannya, roh kita berpartisipasi dengan rohNya. Dengan roh Al Masih yang ada di diri kita masing-masing....

Malam kudus sunyi senyap.... May the spirit of Christ be born in each one of us tonight, malam ini.


+++

8. MASTURBASI SPIRITUAL


Pagi ini saya bangun dengan sebuah off line message yang menunggu di Yahoo Messenger saya. Message itu dikirimkan oleh seorang rekan yang memeroleh
suatu mimpi, begini message-nya:

"Beberapa hari yang lalu gue mimpi aneh gitu, Le. Gue lagi jalan-jalan sendiri tau-tau ada ‘pertunjukan’ penyembuhan penyakit secara massal. Trus gue liat sebentar. Trus bubaran. Tau-tau pas gue mo jalan lagi, gue papasan ama asistennya gitu, deh, kurang lebih, trus dia liat gue, tiba-tiba dia kayak bikin badan gue lebih seger gitu. Dia kayak ngasi tenaga dalam, tenaga dalamnya kayak ngelindungi jantung, trus dia ngalir kayak ledakan bom di seluruh tubuh. Seger banget, deh. Abis itu gue bertanya-tanya dalem ati, trus dia kasih pesen, cuma gue lupa kata-katanya. Trus gue jalan, eh, ketemu ama pentolannya. Gak sengaja. Sama ama asistennya dia pake baju hitam sorban gitu. Jawa Islam tapi ga bawa-bawa Islam gitu deh. Trus asistennya yang tadi dateng lagi, dia bilang … ini, nih, anaknya yang tadi katanya si asisten. Trus gue tanya kenapa, eh, si pentolan bilang ke gue, emang dia tuh gila. Trus gue tanya, kok, bisa sih kayak gitu tadi, trus dia suruh angkat tangan gue. Gue angkat tangan kanan gue, dia kasih potongan timun ama tomat, trus si asisten megang tangan kiri gue, tangan kanan gue megang tangan orang yang di deket situ, trus kayak ada energi ngalir di gue. Abis itu kebangun, deh. Analise yah, Le. Kadang bisa sih ngartiin. Kadang nyari lagi (walopun makna gak penting, kalo lagi penasaran, penting abis, Le, ha ha ha). Thanks, Le, udah bisa nge-share."

Berikut penjelasan dan interpretasi dari saya: Hmmm hmmm hmmm ... well, buat saya mimpi itu begitu jelas artinya. Sebagian rekan sudah bisa mengartikan mimpi sendiri-sendiri, dan juga sudah bisa membantu mengartikan mimpi dari teman-temannya sendiri yang diceritakan kepadanya. Mimpi is spiritual experience. Itu pengalaman spiritual (pengalaman batin). Secara batin kita mengalami sesuatu, dan sesuatu itu muncul sebagai mimpi. Nah, kita katakan mimpi karena kita merasa mengalami sesuatu ketika kita tidur. Secara fisik kita tidur, badan kita diam saja, tetapi, kok, bisa mengalami? Hmmm hmmm hmmm ... artinya jelas bahwa kesadaran (consciousness) yang ada di diri kita tidak tergantung pada badan fisik. Kita bisa saja memeroleh pengalaman ini atau pengalaman itu, ... dan pengalaman itu tidak kalah hidupnya dibandingkan dengan pengalaman yang diperoleh secara fisik. Pengalaman batin itu memang hidup, dan ... baik itu diperoleh melalui fisik atau nonfisik, tetap saja itu namanya pengalaman. Experience. Dan semuanya itu ada maknanya.

Nah, yang namanya makna itu bisa relatif kecil dan relatif besar. Bisa bermakna kecil apabila cuma release hormon belaka (seperti mimpi basah), dan bisa berarti besar apabila ada pengertian-pengertian spiritual (kerohanian, kebatinan) yang ingin disampaikan oleh
kesadaran tinggi (higher self) yang ada di diri kita. Terkadang saya bilang itu disampaikan oleh alam bawah sadar (subconscious mind), dan terkadang saya bilang
disampaikan oleh kesadaran tinggi (higher self). Maksudnya sama saja, artinya bahwa ada bagian dari diri kita sendiri yang lebih besar, yang lebih bijak, yang lebih tahu, yang adanya di dalam jiwa kita sendiri ... dan bagian dari diri kita sendiri itu ingin
mengomunikasikan sesuatu kepada kesadaran (sonsciousness) kita yang ada ketika kita tidak tidur. Itu kesadaran yang biasa kita sebut sebagai kesadaran normal, yang kita pakai ketika kita berkomunikasi secara fisik satu sama lain. Hmmm hmmm hmmm.... So, in the end, sebenarnya mimpi itu cuma komunikasi belaka. Komunikasi oleh diri kita sendiri, dan untuk diri kita sendiri. Dari diri kita yang lebih tinggi kepada diri kita yang berada di kesadaran fisik (nontidur).

Siapa yang bilang bahwa komunikasi itu cuma bisa secara fisik saja? Hmmm hmmm hmmm ... orang-orang yang materialistis semata, yang bilang bahwa kalau tidak secara fisik, maka itu ilusi? Hmmm hmmm hmmm.... Well, masih banyak orang-orang yang seperti itu. Saya bahkan baru saja melihat percakapan yang diposting antara seseorang yang mengaku dan diakui sebagai seorang sesepuh spiritual yang kelihatan kebingungan
ketika ada orang yang menceritakan pengalamannya ketika OBE (Out of Body). Lha, kok, saya jadi eneg sendiri membacanya? Ini orang yang ngakunya spiritual, kok, bego amat? Kok, dia itu malah nanya ke si penanya, dia tanya pake obat-obat apa, ... padahal orang itu gak pake obat apa-apa. OBE itu, kan, pengalaman yang sangat umum. Lha, kok, si orang yang mengaku spiritual tingkat tinggi itu kelakuannya jadi kayak orang yang tidak mengerti? Hmmm hmmm hmmm.... Well, mungkin dia itu benar-benar tidak mengerti. Sebab menurut penuturan banyak rekan, si spiritual tingkat tinggi itu memang penakut. Orang-orang dari berbagai kalangan spiritual diban oleh dia. Dan dia itu mau berlindung di balik cangkang kenyamanan dirinya sendiri yang memang sempit. Hmmm hmmm hmmm ... kalau begitu, lebih baik dibilang bahwa dia itu seorang yang menapaki jalan spiritual, dan masih hijau.

Masih hijau sekali, rekan-rekan, ... sebab spiritualitas yang dewasa itu tidak takut dengan berbagai pandangan yang berbeda. Tidak takut dengan gaya berbicara yang ceplas-ceplos. Tidak takut dengan bahasa Jakarta yang terasa kasar. Hmmm hmmm hmmm ... tetapi banyak orang yang mengaku spiritual (dan malahan mengaku sebagai sesepuh) sebenarnya cuma anak-anak kecil belaka yang bermain-main dengan spiritualitas menggunakan pikiran (mind) mereka. Nah, mereka pikir bahwa dengan berbicara tentang hal-hal yang bagus-bagus saja akan membuat mereka menjadi "spiritual". Dengan menjaga bentengnya (milisnya) dengan memban orang-orang yang ngomong apa adanya saja akan membuat mereka menjadi "spiritual", dsb.... Well, yang seperti itu masih cukup banyak. Dan kita gak usah heran. Lihat sajalah. Biarpun orangnya sudah tua, kelakuan seperti itu ada. Spiritual, sih, spiritual, tetapi spiritual tingkat anak kecil. Walaupun mereka menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan saling memuji kehebatan satu sama lain (yang sealiran) sebenarnya jenis spiritualitas seperti itu menunjukkan bahwa mereka itu masih pemula. Hmmm hmmm hmmm.... Kenapa saya
bilang pemula, karena mereka tidak berani menggunakan kata-kata yang dianggap nyeleneh. Lalu, apa kalau sudah menggunakan kata-kata yang nyeleneh lalu sudah spiritualitas tingkat tinggi? Hmmm hmmm hmmm.... The answer is tidak juga. So, ... lalu apa kualifikasinya, begitu, kan, pertanyaannya? Well, kualifikasinya adalah kita tidak akan peduli akan apa yang diucapkan oleh orang lain, dan kita tidak akan lagi peduli akan apa yang kita ucapkan (tuliskan). Kita menjadi diri sendiri saja. Apa adanya saja. Dan itu bukan jenis tingkat tinggi. Kita bahkan tidak akan peduli aka tingkat-tingkat lagi, kita tidak akan peduli pada ewuh-pekewuh. Itu semuanya nonsense. Yang penting menjadi diri sendiri saja. Jalan apa adanya saja.

Nah, yang saya tuliskan di atas itu merupakan interpretasi saya dari sebagian yang diperlihatkan oleh mimpi rekan itu. Di mimpi itu, ada dua tokoh yang jelas, si "pentolan" dan si "asisten". Nah, si pentolan itu dengan seenaknya bilang bahwa si asisten itu "gila". Dan si asisten juga tidak peduli dibilang gila. Hmmm hmmm hmmm.... Padahal kenyataannya, keduanya itu melakukan penyembuhan massal. Baik si asisten
maupun si pentolan. Hmmm hmmm hmmm ... dia itu memang "gila", komentar si pentolan tentang asistennya. Tetapi, si asisten cuek aja, ... gak pengaruh, kok. So, yang harus dianalisa di sini adalah kata "gila" itu. Ternyata yang "gila" itu yang bisa menghasilkan perubahan. Yang membawa energi-energi penyembuhan. Hmmm hmmm hmmm ... itu message yang ingin disampaikan oleh mimpi dari rekan kita ini.

Jadi, gak usah pakai segala atribut ini atau atribut itu. Gak usah pakai topeng ini atau topeng itu (banyak orang yang mengaku spiritual pakai macam-macam topeng, jadi kita seperti melihat tari topeng). Ngapain pake topeng, jadi diri sendiri aja. Memang "gila", so what?

Tapi ... orang-orang banyak itu bisa melihat kalau kita melakukan penyembuhan massal. Dan itu di depan semua orang. Dan gak pake basa-basi. Gak pake ewuh-pekewuh. Hmmm hmmm hmmm.... Biarin aja orang-orang spiritual yang masih pake ewuh pekewuh itu, mereka melakukan masturbasi spiritual. Hmmm hmmm hmmm.... Emangnya orang-orang intelektual aja yang bisa masturbasi? Orang-orang spiritual juga bisa, dan itu banyak. Orang-orang spiritual yang bermasturbasi itu namanya masturbasi spiritual. Biarin aja, ... biarin sampe kapok sendiri. Sampe capek sendiri. Sampe lecet-lecet sendiri. Itu interpretasi aku dari mimpi di atas. Semoga bermanfaat.


+++

9. BE YE TRANSFORMED BY THE RENEWING OF YOUR MIND!


Sudah lama sekali ayat-ayat dari Alkitab tidak pernah muncul di kepala saya. Tapi entah mengapa, kemarin tiba-tiba satu petikan dari Perjanjian Baru muncul begitu saja di dalam pikiran saya: "Be ye transformed by the renewing of your mind!". Memang dalam bahasa Inggris karena saya memakai Alkitab bahasa Inggris yang menurut saya lebih mudah dipahami daripada Alkitab berbahasa Indonesia. Moreover, saya ngomong sama Tuhan pake bahasa Inggris jadi ... well, it's ok. Itu prolog, dan saya tidak memeriksa lagi tempat ayat itu di kitab suci (kitab yang disucikan, in this case by christian churches). Yang saya tahu, ayat itu memang ada, dan most possibly dituliskan oleh Rasul Paulus dalam salah satu surat apostoliknya.

"Be ye transformed by the renewing of your mind !" Saya juga tidak mencek apa terjemahan ayat itu di dalam Alkitab berbahasa Indonesia, tetapi langsung saja saya terjemahkan sendiri sebagai berikut: "Semoga Anda bisa bertransformasi dengan memerbaharui alam pikiran Anda!" Hmmm hmmm hmmm.... Bertransformasi.
Itu kata kunci pertama, berarti ada sesuatu yang berubah, ... dari satu keadaan ke keadaan yang lainnya. Dari satu situasi sebelumnya kepada situasi berikutnya. Semua orang berubah, dan itu kita tahu. Tetapi berubahnya bagaimana, itulah yang sering bikin kita
bingung. Kenapa bingung? Karena ada banyak kendala: kendala bisa berupa tekanan keluarga supaya cepat menikah, tekanan dari istri supaya income berlebih, tekanan dari suami supaya lebih melayani, ... tekanan dari anak agar supaya lebih memanjakan. Jadi, memang ada perubahan. Dan kita memang dituntut untuk selalu berubah. Kalau tidak mau berubah, maka jadinya akan dead! Kalau kita menyalahkan semua orang sebagai salah dan diri kita sendiri sebagai benar, maka kita akan menjadi seperti (dan mungkin malahan benar) mereka yang didiagnosa memiliki kelainan jiwa. Abnormal alias tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang juga senantiasa berubah.

Nah, perubahan itu yang bagaimana? Apakah kita harus mengubah lingkungan pula? Apakah kalau suami saya selingkuh, saya juga harus selingkuh? Apakah kalau istri saya gak mau mendengarkan curhat saya, saya harus mencari istri orang lain yang mau mendengarkan curhat saya, dan in the end, walaupun susah payah ditahan-tahan akhirnya, ... cepat atau lambat, akan berakhir di kamar hotel pula; walaupun mungkin ga akan terus-menerus seperti itu. Things like that happen all the time. Dan gak bisa dihindari pula. Manusia hidup di zaman yang selalu berubah. Dan dengan cara apa pun kita memertahankan apa yang dianggap baik oleh generasi-generasi sebelumnya, mau gak mau, sooner or later, kita juga harus merivisi apa yang pernah dipercayai sebagai paling baik untuk akhirnya kita terima dan akui sebagai "not that good". Tidak terlalu baik lagi karena ada something better.

Nah, something better itu, kan, tergantung kepada pribadi masing-masing. Aku sendiri ini kalau memberikan konseling selalu menggunakan standard pribadi dari orang per orang yang jelas berbeda-beda. Kenapa kita harus menggunakan standard kita sendiri untuk orang lain? Dan bahkan, standard kita sendiri itu pun tidak kita terapkan kepada diri kita. Kita jadinya seperti orang munafik yang menggunakan double standards. Ada standard yang diakui sebagai "benar" tapi ternyata gak dipraktikkan. Dan ada yang dibilang sebagai "gak benar" ternyata dilakukan. Dan hal-hal seperti itu terjadi di mana-mana; di gereja, di masjid, di vihara, di pura ... bahkan di lingkungan mereka yang agnostic dan ateistic. Itu very normal, dan kita gak perlu panjang lebar membicarakannya. We all practice it.

Nah, point terakhir dari ayat itu memberikan jalan keluar tentang bagaimana menerima dan menginkorporasikan perubahan (transformasi) ke dalam diri pribadi kita masing-masing. Caranya adalah dengan memerbaharui alam pikiran kita (the renewing of our minds). Jadi, kita bisa bertransformasi agar tetap sehat secara kejiwaan (sane) melalui berubahnya alam pikiran kita, melalui berubahnya cara berpikir kita, melalui berubahnya belief systems kita. Ada yang dulu kita percayai, dan sekarang tidak lagi kita percayai. Ada yang dulu kita pertahankan, dan sekarang tidak lagi kita inginkan. Ada yang dulu dianggap sebagai kebenaran sejati, sekarang tidak lagi dianggap seperti itu. Mungkin masih dianggap sebagai "kebenaran", tetapi tidak lagi "sejati", melainkan relatif.

Nah, relativitas itu mungkin kata kunci terakhir yang bisa membawa kita untuk bertransformasi melalui berubahnya cara berpikir kita. Kita, mau gak mau, harus menerima relativitas. Semua itu relatif, harus dilihat konteksnya apa, harus ditimbang-timbang siapa yang bilang dan untuk apa. Harus dilihat siapa yang akan mengambil untung dari belief system itu apabila dianggap absolut, dan apabila dianggap relatif. Hmmm hmmm hmmm....

Please, be yourself, ... nah, kembalinya, kan, ke dictum yang sama dan maybe udah cukup membosankan bagi all of you who like to read my postings. Be yourself. Jadilah diri Anda sendiri. Orang suka, kek, orang gak suka, kek ... please just be yourself. Yang penting Anda bisa bertanggung jawab. Anda memiliki etik yang Anda terapkan dengan konsisten ... do unto others what you would like others do unto you. Begitu, kan, ... jadi gak kayak orang-orang naluriah yang mencari mangsa ke sana kemari tanpa memiliki hati nurani itu, kan? ... Sure, we hare our own standards, dan even dengan standards itu pun kita tetap harus bertransformasi dengan memerbaharui alam pikiran kita, cara berpikir kita, belief systems kita. Dan itu hanya bisa dilakukan dari diri kita sendiri.

Find yourself, the one making decisions who is you yourself. Jangan jadi orang cengeng yang meminta para ulama dan tukang jual ayat itu untuk memutuskan nasib diri Anda. Be yourself! Be your real self yang bisa memutuskan apa yang akan menjadi isi kepala Anda. And after that what?

After that is to continue transforming yourself by … well, what else but the renewing of your mind.


+++

10. CARL GUSTAV JUNG DAN HIGHER SPIRIT


Ngomong-ngomong tentang "higher spirit", bukan orang Timur aja nyang punya ternyata. Carl Gustav Jung, seorang pioneer Depth Psychology yang orang Switzerland itu, diem-diem ternyata punya simpenan higher spirit juga. Menurut Jung, namanya itu Philemon, and I don't have any other explanation or excuses to hold my personal view of it than refering to the facts that many other people living in the past and even today could and did claim to also have such spirits.

They claim that the spirit living in their own consciousness as separate, clearly identifiable in matters such as personality, vocabulary used, and even mood and other traits common to exist in a living person. Itu banyak, bahkan di Indonesia banyak yang
klaim bahwa ada roh leluhur, jin, atau bahkan malaikat yang hidup di dalam dirinya, dan memberikan bimbingan dengan suara-suara yang jelas dan berbeda dengan yang dimiliki orang-orang itu sendiri. Terkadang, si "higher self" itu cuma muncul ketika orangnya sedang trance (kesurupan), terkadang bisa juga muncul ketika orangnya sedang dalam keadaan mood kontemplatif, terkadang bisa muncul anytime tanpa ada pertanda aneh-aneh. Banyak variasinya dan, nampaknya, yang cukup umum adalah klaim bahwa yang ada di dalam diri itu adalah suatu kepribadian yang berbeda dan, biasanya, memiliki kearifan lebih tinggi dan kekuatan rohani lebih besar daripada yang dimiliki oleh orang itu sendiri. Itu menurut yang aku amati.

So, to state it positively bahwa itu adalah bagian dari diri, dan selayaknya disebut sebagai higher self mungkin juga merupakan suatu "klaim" yang masih perlu dibuktikan pula. So what? Tapi jangan aku yang buktiin, deh. Aku, kan, praktisi, dan bisanya cuma bantu orang dengan memakai terminologi yang as neutral as possible. Biasanya aku lihat-lihat juga, kok, kalo orangnya bisa menerima, aku memakai istilah higher self, tapi kalo orangnya agak kental budaya spesifiknya, aku akan pakai term yang diterima di budayanya itu. Namun, lucunya, di Indonesia sekarang banyak juga orang yang budayanya mixed (seperti aku juga). Jadi, mereka terkadang gak pasti harus merujuk itu sebagai apa. Sebagai jin, sebagai spirit, sebagai higher self, atau sebagai malaikat?

Teyus gimanah? Teyus yang practical aja, deh. Yang paling disukai istilah mana? As long as the person is comfortable with a specific term, I'll use it for that person. And that person only. Begini, neh, cara pandang seorang praktisi. Abis gimana lageeh? ... Trus, aku juga pernah ditanya tentang apakah kalau sesuatu yang ada di dalam diri orang itu dipisahkan akan menyebabkan kematian which I answered that I've actually never thought of that. Gimana mao pisahinnya, that's the question, jawab aku. Itu, kan, sama aja kayak mao bilang:

"Now, Leo, you have to discard that guiding spirit (whoever he/she/it is called) living inside your spirit. Whether you are willing or not, you have to discard it. From now on, blah blah blah, blah blah blah...."

Nah, supposed ada skenario semacam itu, is it possible? Menurut aku, it's impossible. Gak bisa dipisahkan karena the guiding spirit (higher self or whatever called) is always part of me. Part of my self. Bagian dari diri saya sendiri. Kalo bisa dipisahkan, piye caranya? Metodenya itu gimanah, gitu? So, the answer is, according to my understanding is inconclusive. Gak tahu, ya, setahu aku gak bisa dipisahin. Kalo bisa dipisahin juga gimana, somebody might insist on my answering it which I shall reply that I simply don’t know. Aku belum pernah ngalamin keterpisahan seperti itu. Yang selalu aku alami adalah kesatuan itu.

On the other hand, kalau dalam pengertian energi memang, ya, ada energi-energi negatif dan positif, yang bisa menempel di diri seseorang dan itu bisa dipisahkan tanpa menyebabkan seseorang itu meninggal. Dalam Kristen itu namanya exorcism (pengusiran roh jahat). Dalam kejawen mungkin dikenal dengan nama ritual ruwatan. Dalam ruwatan yang lengkap akan digelar wayang kulit dengan lakon tertentu yang dipercayai mempunyai kekuatan magis (magickal power) to banish the evil spirits or sengkala. Istilah Jawa itu "sengkala" if I'm correct. Nah, sengkala iku apa? Ana hubungan dengan "kala", kan? En "kala" iku apa kalo bukan time, waktu. Dimensi waktu. Ada waktu yang bisa bikin sesuatu menjadi petaka, dan itu adalah yang namanya sengkala. (Despite it, ada juga yang namanya niskala. Nah, niskala iki apa kalo bukan nonkala which is nonwaktu. No time. But we'd beter talk about it at another occasion).

So, to continue with the ritual we are talking about, maka akan diucapkanlah dengan penuh pede oleh Sang MR (Master of Ritual): Wuurrrrr wes ewes-ewes, bablas sengkalane! Cihuy! Gitu, kan, critanya. Ehm, kalo di Kristen namanya halleluyah. Puji Tuhan, walopun in my understanding si Tuhan cuek azzah. Wong yang bikin sengkala manusianya sendiri, wong sengkalanya gak ada, wong semuanya itu inside the mind azzah, but ok, deh, kata God. Pujiannya gw terima, kata God. En jangan buat doca yagi yah, bay bay!!!

Gitu kalo ritual exorcism dijalanin, eventhough with any other name.... Everything is in the mind. Jadi, ada mind yang dibersihkan dari segala sesuatu yang berkaitan dengan kala. Kala, as has already been mentioned above, means time. Segala sesuatu yang berhubungan dengan dimensi waktu memang mempunyai potensi untuk menjadi petaka. Dan itu ada kaitannya dengan pikiran (the mind) which is nonetheless, tidak lain dan tidak bukan adalah dimensi belief system.

Nah, belief system itu, kan, culture, budaya bangsa, or even nonbangsa yang dipakai, diyakini, or dicemooh, but tetap dipakai. Itu, kan, sama aja kayak para akademisi yang ngajar di PT, dan yang kalo secara up front always bilang gak percaya klenik tapi ternyata punya backing si mbah ini atau mbah itu yang memberikan jampi-jampi cupaya segalanya berjalan lancar-lancar azzah. Sooo, everything is in the mind, kan? You can follow it, kan? Memang ada energi itu, tetapi energi itu, kan, disimulasi oleh the mind itu, kan? Dan yang mempunyai mind itu cuma manusia saja, kan? You, me, and those persons who requested and were given the rituals to banish the so-called evil spirits.

Kalo tentang khodam yang sering juga ditanyakan, menurut pengertian aku it is only energy. Cuma dalam bahasa Arab. Ada pula yang namanya ilmu khodam which is in practice gak beda jauh dengan reiki (berasal dari Jepang), taichi (berasal dari China), dan kundalini (berasal dari India). Cuma, ilmu khodam, kan, pakai ayat-ayat, ... dan so pasti ayat-ayat itu bahasanya Arab asli. Tapi, itu energi saja, kok. Dalam bahasa Sanskrit disebut prana. Dalam Japanese disebut reiki. Dalam Chinese disebut chi atau khi. En, mao gak mao, dalam bahasa Arab disebut khodam (that's the khodam that we understand nowadays). So what? Memang energi itu (khodam, reiki, prana, chi, dsb.) bisa dipisah dan orangnya gak apa-apa. Bisa ditambahkan energi itu ke orang tertentu (kalau sifat energinya dinilai baik), dan bisa pula dikurangkan atau dibuang dari orang tertentu (kalau sifat energinya dinilai tidak baik).

This is mind game and more. Mind game and more. Yang "more" itu yang tidak dikuasai oleh para psychologists tradisional but yang cuka dimaen-maenin dengan penuh
enjoyment oleh mereka yang udah coming out as a trans-personalist cepeyti caya.


+++

11. MAKHLUK HALUS DAN BELIEF SYSTEM


Menurut pengalaman aku, yang sering disebut sebagai "makhluk halus" oleh orang Indonesia sebenarnya cuma bagian dari psyche. Bagian dari jiwa orang yang mengklaim itu. Terkadang malahan bukan klaim dari orangnya, melainkan "mitos" yang dipegang secara turun temurun. Jadi, secara kultural memang memiliki form (bentuk). Dan karena telah memiliki "bentuk" tertentu, maka tentu saja memiliki "energi". Tetapi semuanya itu adanya di dalam psyche atau jiwa anggota-anggota lingkungan budaya di mana belief system itu dipakai.

Apa yang disebut sebagai "malaikat pelindung" di satu subkultur (dalam hal ini, Katholik Jawa) bisa diartikan sebagai "jin" di satu subkultur lainnya (Jawa Islam), dan bisa berarti "leluhur" di subkultur lainnya lagi (Jawa abangan). So what?

Yang penting adalah kesehatan jiwa itu, kan? Yang penting bisa berfungsi secara optimal dan bertransformasi sehingga menjadi orang-orang yang lebih manusiawi, dan bukan menjadi seperti anjing-anjing yang menggonggong dan kalau digebuk cuma ngaku bercanda doang itu, kan?

Kalo segala paranormal gak keruan itu, memang hobinya untuk bilang ada makhluk halus ini atau itu. On the other hand, mereka itu, kan, bicara dalam terminologi yang ada dalam belief system mereka sendiri. Aku bisa mengikuti karena terbiasa untuk menerjemahkan simbol-simbol yang digunakan dalam satu kultur ke kultur lainnya. Ada simbol-simbol yang paralel sehingga it is very possible that Bunda Maria di budaya Katholik akhirnya menjadi Kanjeng Ratu Kidul di dalam budaya Jawa. Very much possible, and it happens.

Energi is energi dan memang bukan makhluk halus. E = mc2. Hukum kekekalan energi. Energi bisa menjadi massa dan sebaliknya apabila ada kecepatan. It's very simple. On the other hand, "makhluk halus" is definitely socially constructed. Makanya musti dilihat dulu, yang ngomong "makhluk halus" itu background budayanya apa.

Kalau kasih konseling ke clients, mao gak mao, kan, harus diikutin cara penalarannya. Kalo orangnya superstitious, which is more or less the fact with orang-orang kita, maka mao gak mao harus kasih solusi on that line juga. Terkadang bisa dijebretin en bilang itu nonsense, gak ada makhluk halus. Terkadang bisa kalo aku merasa begitu.

Tetapi, terkadang juga harus berbicara nyerempet-nyerempet dikit sebab memang “terdeteksi" adanya energi beda yang berasal dari dalam psyche (jiwa) client itu. Misalnya tentang roh-roh leluhur itu, terkadang memang kuat sekali berasanya, ada energinya, dan itu asalnya dari belief system. Nah, belief system manusia itu, kan, gak maen-maen kalo udah dijalanin dengan iman, apalagi sudah berjalan turun temurun dan masih dipraktikkan sampai sekarang. So, tact and wisdom is needed to handle such ... tujuannya tak lain dan tak bukan agar clients bisa mencapai stabilitas baru, agar bisa smooth mengarungi proses transformasi menuju bentuk stabilitas kejiwaan yang lebih tinggi.

Aku, kan, pengikut Carl Jung juga jadi, agak gimana gituh. Archetypes istilah yang dibuat oleh Jung, dan mungkin that's a better term. Makhluk-makhluk halus itu seringkali bisa diinterpretasikan sebagai arrchetypes yang hidup di dalam psyche clients itu sendiri. Dan ada energinya memang. Dan itu besar sekali, dan itu bisa mendorong proses transformasi. Dan, kalau di-handle dengan benar, bisa di-utilisasi untuk membantu menemukan solusi bagi permasalahan hidup yang sedang dihadapi oleh clients.

Energi itu macem-macem, lho, aku bisa berasa langsung. Kalo ada, memang bisa berasa di fisik. Tetapi, kalo gak ada, biarpun dia claim ada, pasti gak ada rasanya. But, ... ini, kan, energi prana, reiki, chi, ... atau bahkan yang disebut khodam. Aku bisa deteksi. Cuma mesin apa yang bisa deteksi itu, that I don't know.


+++

12. DIALEKTIKA INTUISI-NALURI


Seorang teman menulis kepada saya sbb.:

“Apa kabar, Bung Leo? Semoga baik-baik saja. Saya pingin melanjutkan diskusi beberapa waktu lalu tentang intuisi dan naluri. (1a) Kalau menurut saya, pemahaman bahwa intuisi itu bersifat ilahiyat (spiritual) berkedudukan di atas dan naluri itu bersifat hewani dengan kedudukan lebih rendah sebenarnya itu juga merupakan belief system. Bisa jadi kedudukan intuisi dan naluri sama-sama di atas atau sama-sama di bawah. Mereka memiliki posisi yang sejajar dengan sifat yang berlawanan. Keduanya berinteraksi sedemikian rupa mengikuti hukum dialektika bergerak terus menuju pada kesempurnaan. Ini ibarat program virus dengan antivirus. Kedua program tersebut berinteraksi secara dialektik yang akhirnya menyebabkan kualitas kedua program itu semakin tinggi. Demikian juga dengan intuisi dan naluri, mereka berinteraksi terus- menuju pada kualitas yang lebih tinggi sampai pada tingkatan tertentu di mana dua-duanya gak ada, karena keduanya lebur menjadi aku. (1b) Pada tingkat tersebut (aku) sesungguhnya sudah tidak ada lagi baik-buruk, benar-salah, pahala-dosa, surga-neraka, hamba-Gusti, dan lain-lainnya. Bukankah begitu?

Jika memang demikian, maka adalah suatu hal yang wajar jika pada saat tertentu intuisi kita sangat dominan dan pada saat yang lain naluri kita yang dominan. Jadi, kalau ada orang yang korup, selingkuh, dan lain-lainnya, maka sebetulnya yang bersangkutan memasuki proses di mana naluri sedang dominan (meningkatkan kualitas). Tapi sebaliknya, jika seseorang sayang sama sesama, rindu sama Tuhan, dan lain-lainnya, berarti yang bersangkutan lagi dalam proses di mana intuisi berada pada posisi dominan (meningkatkan kualitas). Dari cara pandang ini, berarti dua macam perbuatan di atas (korup dan selingkuh di satu sisi dan sayang sama sesama dan sama Tuhan di sisi yang lain) sama-sama tidak dapat dikatakan salah atau benar, tidak ada dosa dan pahala, dua-duanya adalah bagian dari sebuah proses.

Dan yang saya jawab sebagai berikut:

Dialektika intuisi vs. naluri memang bekerja seperti itu. Kita manusia hidup, dan memang dibekali "dari sononya" dengan kemampuan-kemampuan intuitif dan instingtif. Secara alamiah, kita memang seperti itu. Tanpa dibuat-buat, kita memang sudah intuitif dan sudah instingtif. Cuma, ada kemampuan yang "halus", dan ada kemampuan yang "kasar". Ini juga merupakan istilah-istilah saja. But you know what I mean, of course.

Kemampuan yang "halus" adalah yang intuitif, dan kemampuan yang "kasar" adalah yang instingtif. Yang memerlukan kemampuan batin adalah yang intuitif. Yang
memerlukan kemampuan badani adalah yang instingtif. Yang rohaniah adalah yang menggunakan intuisi. Yang badaniah adalah yang menggunakan naluri. Very simple memang, ... dan memang begitulah adanya. Apakah yang satu lebih tinggi, dan apakah yang satu lebih rendah? You wrote like that. And I answer here, ... well, kan, kita memiliki kepala fisik dan kaki fisik juga. Kepala letaknya di atas secara empat dimensional, dan kaki letaknya di bawah. Itu fakta, ... memang demikianlah adanya. Tapi, apakah kepala memiliki "derajat" lebih tinggi daripada kaki, I don't think so. Sama saja, kan? Cuma memang yang satu letaknya di atas, dan satunya lagi letaknya di bawah. Derajatnya sama, sama-sama perangkat manusia hidup untuk bisa berfungsi apa adanya. Tetapi, ... kita berjalan kaki dengan kaki, kan? Dan kalau kaki lalu bilang bahwa karena derajatnya sama dengan kepala, ... lalu dia mengancam dan bertindak secara unilateral … bahwa: "Mulai saat ini saya sebagai kaki ingin berada di atas, dan kepala harus ada di bawah".

Begitu katanya, dan dijalankanlah. Akhirnya apa? Hmmmm ... Hmmmmm ... Hmmmm ... itu sudah terbukti, kan? Ada kaki yang ingin menjadi kepala ... dan kepalanya diinjak-injaklah. Dan kita lihat orangnya jadi seperti apa? Dan kita gak bisa bilang apa-apa ... kita cuma bisa bilang, kasihan oh kasihan. Manusia kok sampai menjadi seperti hewan? Hewan saja masih jalan dengan kakinya yang di bawah. Nah, ini ada manusia, kok, berjalan dengan kepalanya yang di bawah, kakinya di atas? Luar biasa sekali! Bodohnya itu, lho, luar biasa sekali. Dan kita gak bisa bilang apa-apa, kita cuma bisa geleng-geleng kepala saja melihatnya. Hak orang itu untuk menggunakan kepalanya sebagai kaki, dan kakinya sebagai kepala. Tuhan aja gak bisa protes, wong kita ini semua dikasih free will (kehendak bebas) oleh Tuhan. Secara alamiah natural sudah diatur, bahwa memang ada yang di atas dan ada yang di bawah. Tetapi, kalau ada orang yang ingin memutarbalikkan itu semua, itu bisa saja. Go on, kata Gusti Allah, ... Go on my dear, ... I love you all the same, kata Gusti Allah.

Dan kita lihat itu di mana-mana di muka bumi ini segala orang yang nalurinya itu menjadi kepala, dan intuisinya menjadi telapak kaki. Menjadi telapak kaki, kan, artinya diinjak doang, dan orang itu complain, kok, gak bisa konek dengan yang Illahi. Dan aku bilang, don't complain … kok, mao konek, wong yang bisa dipake buat konek, kan, diinjek-injek, ... dan yang harusnya diinjek-injek malah dipuja-puji dan dipake sebagai
perangkat untuk konek. Gak bisa, ... gak jalan. Dan yang seperti itu adalah manusia-manusia yang naluriah. Mereka bilang bahwa mereka itu normal aja, ya, memang normal aja, memang bisa aja seperti itu.... Jalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas memang bisa. Dan gak ada yang larang, ... wong kepala, kepala dia, kaki juga kaki dia. Boleh aja, kan? Dan akan terlihat seperti badut. Lucu sekali..., No problem, kan? Dan itu kita lihat ada di mana-mana. Secara spiritual, kita melihat banyak orang terbalik seperti itu, dan secara spiritual kita tertawa saja. Bukan menghakimi, tetapi tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Lucu, lucu ... ha ha ha. So what? Tuhan aja tertawa, kok. Bukan menghukum, tapi tertawa. Ntar juga sadar ndiri, kata Tuhan.

Nah, lalu yang kesadaran (awareness) itu apa? Menurut aku, kesadaran kita itu berlapis-lapis. Memang ada kesadaran rendah, dan ada kesadaran tinggi. Karena kita masih memakai bahasa manusia, gak bisa dihindari ada istilah tinggi- rendah, atas-bawah ... itu perlu karena kalau gak pakai dikotomi, maka kita gak ngerti. In the end, memang gak ada dikotomi lagi, gak ada itu atas atau bawah, depan atau belakang, kiri atau kanan, dsb.... In the end, semuanya itu gak ada. But, ketika kita sampai ke tahap itu, atau ketika kita visit that situation, keadaan hening itu hanya bisa dirasakan, dan gak bisa dideskripsikan. Itu adalah awareness beyond awareness.

Jadi, bahkan rasa eling itu bukanlah tujuan. Bukan tujuan dari segala olah rohaniah dan siksa badaniah itu, ... bukan tujuan terakhir. Tujuan terakhir sebenarnya, according to my humble opinion is to move beyond awareness. To reach consciousness beyond conciousness itu. Kesadaran yang berada beyond kesadaran itu. Dan itu tidak bisa digambarkan. Kita cuma bisa menunjukkan jalannya secara satu per satu. Contoh: please be yourself. Please be jujur. Please be intuitive. Please ini atau please itu ... dan semua plas-plis-plas-plis itu memang merupakan metode belaka. Metode untuk menuju pada kesadaran beyond kesadaran. Itu God, ... kalau menuruti tradisi agamais. Itu our source of all sources, ... all that is. Dan, memang, secara intuitive kita tahu bahwa ketika sampai di sana telah tidak ada lagi atas atau bawah, depan atau belakang, kiri atau kanan. Telah tidak ada lagi kontradiksi itu. Tetapi cara mencapainya, menurut aku, mau gak mau harus melalui dimensi intuisi atau dimensi mata ketiga atau dimensi batin itu. I know that for sure. Kalau menggunakan naluri tok untuk mencapai itu, ... that's impossible, Mas. You know yourself that it is impossible. Naluri, kan, cuma sebagai foretaste aja, ... cuma sample aja. Itu bukan the real thing. Itu will not lead us to the source of all sources.

So, the answer is: sure, dialectics is a fact of life, ... Yet, we have to move and reach the state where all dialectis stops and true live begins. In other terms: nibbana, nothingness, Shiva Nataraja ... auuummmm ... auuuummmmm … auuuummmmmmm....


+++

13. SPIRITUALITAS DAN SENSUALITAS


Zamannya nilai-nilai kerohanian dianggap sebagai hal-hal yang bertolak belakang dengan daya tarik fisik atau sensualitas sudah lewat. Kita sudah melewatinya dengan selamat, walaupun masih banyak anggota masyarakat yang rancu dan menganggap bahwa kerohanian berarti antidaya tarik fisik dan sensualitas adalah kerohanian yang tumpul. Zamannya tidak seperti itu lagi.

Dulu yang dipentingkan adalah kebersihan tubuh, tok. Itu dianggap sebagai simbol kebersihan jiwa. Sekarang, kebersihan tubuh harus sepadan dengan daya tarik seksual dari si pemilik tubuh sendiri supaya memenuhi syarat agar menjadi seorang spiritual yang utuh. Orang yang mendalami spiritualitas dan mengubur habis daya tarik seksualnya adalah mereka yang hidup di Arabia pada abad ke-7 M.

Seribu empat ratus tahun kemudian, di abad ke-21 M. ini, orang yang mendalami spiritualitas adalah yang bisa menjaga dan memancarkan seksualitasnya ke segala arah. Bukan demi perzinahan, seperti yang dikuatirkan oleh orang-orang Arab pada 1400 tahun yang lalu, tapi demi menjaga citra diri (self image) yang sehat.... Kalaupun ada perzinahan juga, itu adalah tanggung jawab si pemilik tubuh sendiri, dan bukan lagi urusan komunitasnya seperti di masa lalu.

Dulu, orang yang ganteng dan cantik sengaja dibikin jelek agar dihormati sebagai orang spiritual. Sekarang, orang yang aslinya jelek bisa dibikin ganteng dan cantik. Semakin berhasil perubahan fisik diusahakan, berarti semakin mantap citra diri positif yang berhasil diupayakan.

Tidak ada lagi gunanya di masa pascamodern ini untuk menggebuk dan mengubur habis segala keindahan tubuh yang dikaruniakan oleh YME kepada kita…. Dan tak ada gunanya lagi eksistensi orang-orang yang saat ini masih rancu mengutuk habis mereka yang menonjolkan sensualitas tubuhnya. Wong urusan spiritualitas adalah urusan dhewe-dhewe…. Dan segala "gerakan mundur ke belakang" yang mau mengubur keindahan tubuh adalah kelompok penyimpang yang asli. Penyimpangan jiwa…. Sikap itu normal 14 abad yang lalu, tetapi merupakan sikap jiwa yang sakit apabila dipertahankan saat ini....


+++

14. RASIO DAN EMOSI


Perasaan (emosi) selalu mengikuti hal-hal yang dipercaya sebagai kebenaran. Hal yang dipercaya sebagai kebenaran disebut sebagai “belief system” dalam ilmu-ilmu sosial. Belief system tidak harus selalu berkaitan dengan kepercayaan, tetapi mencakup segalanya tentang manusia dan hubungannnya dengan diri sendiri, sesama, dan yang transenden.

Contohnya: apabila seorang laki-laki memiliki sistem kepercayaan (belief system) bahwa seorang suami harus selalu dilayani oleh istrinya, maka ia akan selalu bertengkar dengan istrinya kalau istrinya itu tidak mau melayaninya. Dan pertengkaran itu akan penuh dengan emosi, karena menurut logika laki-laki itu, si istri sudah salah dari semula.

Pada pihak lain, seorang laki-laki yang memiliki sistem kepercayaan bahwa suami dan istri berstatus sama, saling melayani, tidak akan meledak dengan emosional ketika istrinya menolak melayani. Kan, bisa gantian?

Jadi, emosi selalu mengikuti sistem kepercayaan (belief system). Sistem kepercayaan yang dirinci dengan rasio/nalar ketika dihadapkan kepada fenomena sosial tertentu akan menghasilkan emosi-emosi. Dengan kata lain, emosi mengikuti gerak rasio/nalar. Rasio itu sendiri tidak bergerak di ruang vakum. Rasio selalu bergerak di dalam belief system. Karenanya, untuk mengubah sesuatu yang sudah tidak dikehendaki, ubahlah sistem kepercayaannya (belief system-nya). Kalau belief system-nya berubah, otomatis perilaku manusianya akan berubah. Emosi yang menyertai perilaku juga berubah.

Ada macam-macam emosi. Rasa takut adalah salah satu dari dua kutub emosi. Kutub yang satunya adalah cinta kasih. Di antara kedua kutub ini terdapat bermacam nuansa emosi: dari rasa persaingan, rasa senasib, rasa curiga, rasa cemburu, … sampai rasa cinta universal dan rasa cinta romantik. Macam-macam. Biasanya macam-macam emosi itu digunakan oleh kelompok kepentingan berbeda-beda demi memenangkan persaingan.
Persaingan bisa untuk memenangkan cinta seorang gadis, atau pelayanan seks dari seorang pemuda; bisa untuk memenangkan uang dari budget suatu instansi; bisa untuk memenangkan promosi jabatan. Macam-macam.

Kalau tidak percaya, lihat saja sinetron. Macam-macamlah emosi itu dan semua pelaku saling tunggang-menunggangi untuk menjadi pemenang persaingan. Pecundang akan gigit jari, dan pemenang akan tepuk tangan. Pemirsa TV akan ikut tepuk tangan atau, paling tidak, ikut nyengir azzah. Nyengir seneng, geli, atau sebel. Gak masalah.... Yang jelas, gak ada cerita menang without ngasorake seperti pepatah Jawa. Zaman sekarang orang yang menang bersorak-sorak. Yang kalah gigit jari.

Karena ini semua adalah komedi manusia: baik di dalam sinetron maupun dalam realita nyata kehidupan sehari-hari yang kita jalani, kita biasanya tidak memertanyakan lagi.

Yang mungkin bisa menjadi pertanyaan adalah manipulasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk memeroleh uang atau hal tertentu dari kita sebagai pengguna barang atau jasa tertentu. Kalau upaya menjual barang dan jasa adalah pekerjaan yang halal, manipulasi yang menggunakan rasa takut adalah perbuatan haram yang dihalalkan.

Contoh:
1). Orang yang sedari kecil diajar untuk percaya surga dan neraka akan takut untuk meninggalkan kelompok agamanya. Pemimpin agama yang lihai akan dengan tidak
tahu malu mengeluarkan ancamannya: "Kalau tidak mau masuk neraka, jangan berani meninggalkan agama ini!" Jadi, si pengikut itu akan tetap di dalam kelompok agamanya seumur hidup walaupun motivasinya sebenarnya cuma karena takut masuk neraka.

2). Orang yang percaya kepada paranormal tidak berani menolak ketika disodori keris pusaka penolak nasib sial walaupun harganya berjuta-juta. Si paranormal dengan tidak tahu malu akan bilang: "Kalau tidak mau kena santet, perlu keris ini. Cuma sekian juta
saja." Dan dibelilah keris itu walaupun dengan bersungut-sungut. Kenapa? Karena takut ucapan si paranormal benar. Daripada kena, mendingan beli.

3). Dokter-dokter kandungan banyak panen dari bedah caesar bertahun-tahun terakhir ini. Apakah itu karena lubang keluar bayi di perempuan-perempuan sekarang semakin menyempit? Nggak begitu juga. Tetapi, karena biaya lahir dengan bedah caesar berkali-kali lipat daripada lahir normal. Dan si perempuan yang sudah mengerang-ngerang perlu ditakut-takuti dulu: "Kalau tidak bedah caesar, nanti bisa sungsang." Dan dibedahlah, sreeet … sreeet ... gampang, kan, pake gunting azzah. Dan berjuta-juta rupiah mengalir. Derassszz.... Kenapa? Karena takoet!

4). Psikolog jarang yang praktik memberikan konseling. Kalaupun praktik, jarang yang netral. Kebanyakan psikolog mau memaksakan jalan pikirannya kepada kliennya yang konsultasi, padahal seharusnya psikolog bersikap netral dan tidak melakukan interferensi ke dalam sistem kepercayaan kliennya. Tetapi, banyak konflik juga di sana karena si klien takut menolak apa yang dipaksakan oleh psikolognya untuk diterima. Alasannya apa? Takoet sakit jiwa. Jadi, psikolog yang otoriter bisa memaksa kliennya untuk menjadi orang yang bukan dirinya sendiri dengan alasan bahwa kalau tidak diikuti nasihatnya, si klien bisa sakit jiwa. Padahal, si psikolog kemungkinan mengalami gangguan jiwa juga, tapi itu jarang dipertanyakan. Contohnya: seorang remaja yang mengalami ketertarikan kepada sesama jenis dipaksa untuk menekan habis kecenderungan itu. Si remaja ditakut-takutin pake ajaran agama. Padahal, si psikolog harusnya jujur kepada kliennya itu bahwa ketertarikan kepada sesama jenis adalah normal saja. Di dalam daftar “American Psychological Association” tertulis jelas, bahwa homoseksualitas dan biseksualitas bukanlah penyakit. Tetapi psikolog Indonesia jarang yang berani jujur. Beraninya takut-takutin klien. Jadi, mungkin kita harus menyiapkan program mendidik psikolog khusus untuk memberikan konseling kepada para psikolog.


++++

15. PARANORMAL ITU TIDAK NORMAL


Istilah "paranormal" adalah istilah salah-kaprah. Semua orang mengira bahwa istilah itu berasal dari bahasa Inggris, padahal tidak. Itu adalah kata asli Indonesia, asli disalahkaprahkan oleh orang Indonesia.

Dalam bahasa Inggris, kata "paranormal" adalah kata sifat untuk menunjukkan fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan hukum alam yang telah diketahui oleh manusia. Jelas kata itu bukanlah merujuk kepada manusia. Fenomena paranormal adalah fenomena alam yang belum bisa dijelaskan dengan hukum alam.

Kalau manusia paranormal seperti apa? Nah, itulah dia, di dalam bahasa Inggris tidak dikenal adanya istilah manusia paranormal. Manusia paranormal adalah ciptaan budaya Indonesia.

Di dalam bahasa Inggris, manusia yang mempunyai kemampuan batin, indra keenam, intuisi, kemampuan menyembuhkan, melihat masa depan, dsb. disebut sebagai "psychic". Artinya: orang yang memiliki kemampuan psikis (batin atau kejiwaan).

Dan seorang "psychic" tidak harus berarti seorang spiritual. Seorang psychic bisa saja orang yang taat beragama, bisa seorang ateis, bisa seorang ilmuwan, bisa anak SD, bisa orang eksentrik. Dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan spiritualitas atau
tingkat kerohanian seseorang.

Indonesia adalah negeri salah kaprah. Sudah pakai istilah salah, pengertiannya juga salah!

Jadi, di Indonesia, mereka yang disebut atau menyebut diri sebagai "paranormal" dianggap sebagai orang yang tingkat kerohaniannya tinggi. Padahal tidak. Kalau kita bertemu orang yang spiritualitasnya tinggi, tanpa mereka perlu gembar-gembor kita bisa merasa sendiri, kok! Sedangkan kalau kita bertemu paranormal yang menyohorkan diri atau bertindak seolah-olah orang yang sudah dekat dengan "Tuhan", otomatis kita merasa
tidak enak sendiri. Rasanya seperti orang itu berusaha menipu kita mentah-mentah.

Padahal, kalau kita banyak doa dan meditasi, kita tidak bisa dibohongi. Semua orang itu transparan seperti kaca, bisa terbaca secara langsung. Dan kita otomatis akan langsung tahu. So, you'd better trust your own intuition when dealing with paranormal.


+++

16. MANTRA GAYATRI


Dalam perjalanan untuk bersembahyang di Pura Besakih yang terletak di lereng Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali, saya tertidur sebentar di dalam mobil yang membawa kami. Saya tertidur beberapa kali, setiap kalinya cuma beberapa menit saja. Dalam salah satu acara tertidur itu, saya bermimpi (mungkin bukan mimpi, tapi penglihatan/vision)
melihat bungkusan kain hitam di tangan saya yang saya coba untuk buka. Mungkin itu artinya adalah batu-batu kristal yang saya pakai untuk meditasi. Bungkusannya memang kain hitam.

Ketika membuka bungkusan kecil itu rasanya, kok, ribet amat.... Tapi, tiba-tiba ada satu kata yang masuk ke dalam pikiran saya (dalam keadaan tidur atau trance itu, tapi saya sadar benar). Perkataannya cuma satu: “gayatri”. Saya langsung terbangun dan mulai berpikir. Pertama, saya tidak tahu apa arti gayatri. Itu adalah bahasa Sanskerta. Yang saya tahu, ada dewi yang bernama Gayatri. Jadi, asosiasi saya pertama kali adalah Dewi Gayatri. Apakah saya mendapatkan ilmu Dewi Gayatri?

Setelah sampai di Besakih, teman seperjalanan kami yang orang Bali langsung menuju pura leluhur masing-masing untuk bersembahyang, dan setelah itu, baru kami bersama-sama menuju pura utama untuk berdoa kepada Tuhan YME. Itu adalah pengalaman saya yang pertama kali berdoa di dalam pura Bali. Dan saya tidak pernah menyangka bahwa pura pertama yang akan saya masuki untuk berdoa adalah Pura Besakih, pura terbesar dan salah satu yang tersuci di Bali.

Tetapi kata “gayatri” itu terus terngiang-ngiang di telinga. Saya tahu, bahwa saya telah menerima sesuatu dari YME bahkan sebelum berdoa di Besakih, tetapi saya tidak tahu itu apa. Setelah bertanya-tanya, tahulah saya bahwa gayatri berarti mantra Gayatri, mantra yang dipakai untuk meditasi langsung pada Tuhan YME. Apakah itu berarti bahwa meditasi saya selama ini memang telah mencapai level Gayatri, atau apakah saya disarankan oleh bawah sadar saya sendiri untuk mulai memakai mantra Gayatri? Mungkin keduanya. Yang jelas, kata itu muncul begitu saja di dalam kepala saya. Saya tidak minta sesuatu kepada Tuhan YME, tetapi saya percaya bahwa kalau kita sudah siap, “guru” akan datang. Guru sejati yang dikirimkan langsung oleh yang di atas.

Apakah pengalaman saya di atas termasuk pengalaman supranatural? Mungkin ya, tapi pengalaman seperti itu buat saya termasuk rutin, jadi saya tidak menganggapnya terlalu istimewa. Tetapi memang saya tidak bisa tenang sebelum menemukan mantra itu, menghapalkannya, dan melafalkannya terus-menerus di dalam meditasi saya. Menjadi semacam wirid untuk mengganti doa-doa yang selama ini saya gunakan. Rasanya
petunjuknya seperti itu.

Dan inilah mantra Gayatri itu: “Aum bhur bhuvah svah, tatsaviturvarenyam bhargo devasya dhimahi, dhiyo yo nah prachodayat. Om....”

Artinya (dalam bahasa Inggris): “AUM. In all three worlds –terestrial, astral, and celestial– may we meditate upon the splendor of that Divine Sun who illuminates all. May its golden light nourish our understanding and guide us on our journey to its sacred seat. OM….”

Efeknya apa setelah meditasi memakai mantra itu? Hm, semua cakra jadi terbuka lebih lebar. Jadi lebih konsentrasi, dan kedua telapak tangan saya jadi merah padam walaupun tidak memegang apa-apa. Rasanya saya tidak boleh pakai kristal lagi untuk meditasi, sebab di penglihatan itu diperlihatkan bahwa saya tidak berhasil membuka bungkusan kristal-kristal itu, tetapi langsung diberikan kata “gayatri”. Jadi agaknya harus pakai mantra Gayatri saja.

Mungkin pengalaman spiritual seperti ini akan membantu rekan-rekan yang mengalami hal serupa. Tidak ada yang aneh sebenarnya. Tuhan adalah satu, baik yang dinamakan Allah, Yehowa, maupun Tritunggal Brahma-Wisnu-Siwa. Di atas Tuhan yang bisa dimengerti sifat-sifat (asma)-Nya ini, masih ada Tuhan yang tidak terperikan, tidak
terbayangkan, tidak bisa dimengerti oleh siapa pun. The Infinite, the Illimitable, the Undefinable. Namanya adalah Acinthya dalam istilah Bali, dan simbolnya adalah rajah Ongkara. Tapi itu terlalu jauh, kita hanya bisa menjalankan apa yang telah diungkapkan kepada roh kita. Dan seyogyanya dijalankan saja sampai saat berikutnya ketika
pengertian lebih tinggi diungkapkan kembali oleh YME ke dalam roh kita. That is how it works, at least it is so for me. And possibly for some of you too.


+++

17. APAKAH SAYA SEORANG SPIRITUAL?


Nomor 1. Tanyalah kepada diri Anda sendiri secara diam-diam; pertanyaannya: “Apakah saya seorang spiritual?”. Kalau jawabannya “ya”, berarti Anda bukan seorang spiritual. Anda hanya ingin orang percaya bahwa Anda seorang spiritual. Bila jawabannya “tidak”: maka Anda mungkin seorang spiritual.

Nomor 2. Tanyalah kepada orang lain: “Apakah saya dipandang sebagai seorang spiritual?”. Bila dijawab “ya”, sudah jelas bahwa Anda bukan seorang spiritual; orang lain yang percaya bahwa Anda seorang spiritual tidak otomatis menjadikan Anda seorang
spiritual. Itu hanya imej Anda saja. Jadi, jangan GR. Bila dijawab “tidak”, maka Anda mungkin seorang spiritual.

Nomor 3. Tanyalah kepada diri Anda sendiri: “Apakah saya seorang yang taat beragama?”. Bila Anda jawab “ya”, berarti Anda bukan seorang spiritual karena seorang spiritual tidak akan peduli apakah dia sendiri beragama atau tidak, apalagi dengan
istilah “taat”. Bila Anda jawab “tidak”, maka Anda mungkin seorang spiritual.

Nomor 4. Tanyalah kepada orang lain: “Apakah saya dianggap orang yang taat beragama?”. Apabila dijawab “ya”, maka Anda sudah pasti bukan seorang spiritual; seorang spiritual tidak akan menimbulkan kesan sebagai orang yang taat beragama tertentu. Apabila dijawab “tidak”, maka Anda mungkin seorang spiritual.

Nomor 5. Tanyalah kepada diri Anda sendiri: “Apakah saya tahu Tuhan itu apa?”. Apabila Anda jawab “ya”, maka Anda bukan seorang spiritual; seorang spiritual tidak akan mengaku bahwa dia tahu Tuhan. Tuhan adalah yang ada di luar segala batas dan definisi; kalau bisa diketahui dan didefinisikan, maka itu bukan Tuhan. Apabila Anda jawab “tidak”, maka Anda mungkin seorang spiritual. Setidaknya, Anda membuka kemungkinan bagi Tuhan untuk menjadi Tuhan.

Nomor 6. Tanyalah kepada orang lain: “Apakah orang lain percaya Anda tahu tentang Tuhan?”. Apabila jawabnya “ya”, jelas Anda bukan seorang spiritual. Anda hanya bisa menyebarkan konsep tentang Tuhan yang didefinisikan oleh manusia-manusia lain,
atau bahkan oleh Anda sendiri. Konsep itu sendiri bukanlah Tuhan. Apabila jawabnya “tidak”, maka Anda mungkin akan menjadi seorang spiritual sebab Anda akan mengerti
sendiri tentang sesuatu yang tidak bisa dimengerti kecuali dialami sendiri; tentang Tuhan sebagai sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dan diajarkan kecuali dialami oleh pribadi per pribadi sendiri….


+++

18. PENGALAMAN RELIJIUS MENURUT WILLIAM JAMES


Selama ini semua tulisan-tulisan dengan warna agama yang dikirimkan ke milis mendasarkan argumennya pada logika belaka; penalaran berdasarkan prinsip-prinsip induksi-deduksi dan penelusuran arti dari ajaran-ajaran agama. Baik agama yang dianut oleh pengirim maupun pembahas posting, maupun agama lain yang ditelaah.

Apakah tidak ada cara lain? Tentu saja ada, walaupun barangkali cara itu tidak familiar. William James, seorang perintis psikologi dari Amerika Serikat, dalam bukunya yang sudah berusia satu abad dan berjudul “Varieties of Religious Experience” (sudah
diterjemahkan ke bahasa Indonesia) berusaha mengerti fenomena keagamaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan individu manusia. Manusia sebagai individu, dan bukan manusia sebagai kelompok angka-angka statistik belaka atau manusia sebagai
pembuat rekor output industri. Manusia sebagai manusia.

William James melihat bahwa agama (reliji) hanya berarti apabila dialami sebagai pengalaman pribadi. Artinya, ada pengalaman pribadi yang bisa diterangkan dengan menggunakan simbol-simbol dari agama tertentu yang dihayati sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari narasi kehidupan seseorang. Agama dalam arti itu tidak lagi berputar di segi argumentasi belaka, tetapi sudah masuk kedalam kesaksian pribadi
tentang bagaimana sosok imanen dan transenden yang dinamakan “Tuhan” telah beraksi secara konkret dalam kehidupan pribadi seorang penganut agama.

Aspek inilah yang sangat dangkal di Indonesia. Argumen yang ada hanya berputar pada agama mana yang paling benar. Tentu saja, jawabnya tidak ada. Sama saja dengan bertanya, agama mana yang paling salah. Jawabnya tetap, tidak ada agama yang salah. Agama adalah buatan manusia. Konsepsi belaka. “Tuhan” juga adalah konsepsi belaka, suatu abstraksi dari sesuatu yang diasumsikan dialami secara pribadi oleh orang per orang.

Menurut James, ajaran agama atau reliji adalah suatu wadah dialog antara penganut dan sesuatu yang dipercayainya sebagai “Tuhan”. Harus ada dialog berupa pengalaman pribadi. Apabila itu tidak ada, maka yang terjadi adalah seperti orang buta yang menuntun orang buta. Seperti menggunakan buku penuntun doa untuk memimpin orang-orang lain yang membeo di belakangnya. Hasilnya seperti apa, tidak akan dimengerti, dan gunanya untuk apa, juga tidak diketahui. Paling jauh orang itu hanya akan membuka buku lain lagi untuk memeroleh jawabnya, atau bertanya kepada orang lain yang dianggap mengerti. Inilah situasi di Indonesia.

William James di dalam bukunya melihat, bahwa ada dua macam manusia penghayat keagamaan, yaitu manusia yang lahir dua kali (twice born) dan manusia yang lahir satu kali saja (once born).

Manusia yang lahir dua kali adalah manusia yang mengalami suatu pengalaman relijius traumatis: suatu perjumpaan pribadi dengan yang absolut. Perjumpaan pribadi itu bisa diceritakan dengan narasi yang terstruktur rapi sehingga akan dimengerti oleh orang
lain juga. Narasi akan berupa deskripsi tentang hal-hal yang sedikit demi sedikit akhirnya membawa seseorang sehingga mengalami hal traumatis tersebut. Dan setelah hal traumatis berupa pengalaman relijius yang menggoncangkan itu dialami, subyek akan berubah total. Berubah total dalam arti akan menjadi seorang yang percaya penuh bahwa “Tuhan” memang berperan dalam hidupnya dan bahwa ada misi tertentu di hidupnya.
Tuhan tidak lagi menjadi suatu kata kosong seperti yang dialami oleh sebagian besar dari kita, tetapi merupakan suatu kata penuh makna yang terkait erat dengan hidupnya hari per hari, menit per menit, detik per detik. Tuhan hidup di dalam diri subyek.

Manusia yang lahir satu kali adalah mereka yang tidak pernah mengalami pengalaman relijius traumatis. Hidup berjalan sebagaimana adanya tanpa merasa perlu adanya
intervensi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Tanpa merasa perlu adanya intervensi yang benar-benar terasakan bahwa “Tuhan” berbicara kepada subyek dengan kata-kata yang jelas dan tidak bisa diartikan lain. Karena tidak ada keinginan dan harapan bahwa Tuhan perlu hadir secara pribadi, maka kehidupan subyek akan berjalan seperti itu saja selama hidupnya. Memang relijius, tetapi relijius suam-suam kuku saja. Tidak ada yang istimewa, semuanya seperti terstruktur dalam buku petunjuk. Hidup seperti apa adanya. Gembira bila sedang gembira, dan sedih bila sedang sedih Mereka yang mengalami kelahiran dua kali secara relijius terutama berasal dari kalangan Protestan, dan mereka yang cuma lahir sekali terutama berasal dari kalangan Katholik. Itu menurut penelitian William James dengan kesaksian-kesaksian tertulis yang tak terhitung banyaknya di dalam bukunya itu.

Mereka yang mengalami kelahiran dua kali adalah mereka yang hidupnya bisa berubah total setelah bertemu “Tuhan”. Bisa menjadi seorang yang taat beragama walaupun tadinya seorang yang tidak percaya. Bisa melakukan hal-hal luar biasa walaupun tadinya tidak memiliki tenaga dan daya untuk itu. Tetapi mereka yang hanya lahir sekali saja hanya akan seperti itu saja selama hidupnya. Pengalaman relijiusnya terutama bersifat komunal, dan bukan pengalaman pribadi bertemu dengan “Tuhan” dalam suatu ruang dan waktu tertentu.

Masyarakat Indonesia terutama terdiri dari mereka yang lahir satu kali saja. Jarang kita bertemu seseorang yang asli, yang mengalami sentuhan "Tuhan", yang memiliki pengalaman relijius traumatik sehingga tidak lagi tergoyahkan di dalam imannya. Yang tahu bahwa sesuatu yang dipercayainya adalah benar walaupun semua orang lain tidak percaya.

Dan lahir dua kali tidaklah harus berarti memiliki suatu pengalaman relijius dalam arti ortodoks konvensional atau menuruti ajaran-ajaran majelis ulama ini atau majelis ulama yang itu. Tidak seperti itu maksudnya. Kelahiran dua kali melalui pengalaman relijius traumatik adalah pengalaman pribadi yang berada di luar jangkauan kategori-kategori KTP. Bisa saja dikategorikan sebagai musyrik atau bidah. Tetapi itu genuine, asli, dan itulah yang berarti besar secara rohaniah karena tidak ada lagi yang bisa menggoyahkan keyakinan orang itu.

Kalau yang lahir hanya satu kali, pengalaman relijiusnya hanya seperti itu saja. Komunal berupa hari raya yang semakin lama semakin terasa membosankan. Yang mencari "Tuhan" ke sana kemari tetapi tidak juga ditemuinya. Begitulah kurang lebih menurut
William James.


+++

19. DI MANAKAH TUHAN ?


Ketika bencana menimpa tiba-tiba, tanpa diduga, tanpa disangka, tanpa diharapkan ... bahkan tanpa terpikirkan sama sekali, di manakah Tuhan?

Pertanyaan tentang "di manakah Tuhan ketika bencana menimpa?" bukan hanya datang akhir-akhir ini saja. Di setiap kebudayaan, setiap masa, setiap periode, setiap abad kehidupan manusia, pertanyaan itu selalu hadir. Dan hadir tepat pada saat bencana itu datang. Di manakah Tuhan? Mengapa harus saya yang menanggung bencana ini, Tuhan? Adakah Tuhan ada?

Ketika setengah juta orang Aceh tersapu badai tsunami, di manakah Tuhan? Ketika ribuan orang Yogya mati tertimpa reruntuhan rumah mereka sendiri saat gempa bumi terjadi, di manakah Tuhan?

Tidakkah saya sudah berbakti kepada Tuhan? Tidakkah saya sudah membayar sedekah? Tidakkah zakat fitrah dan segala hutang saya kepada fakir miskin yang diwajibkan oleh Tuhan telah saya bayar dengan sempurna?

Tapi di manakah Tuhan? Di manakah Tuhan yang saya sembah? Di manakah Tuhan yang saya percayai?

Jawaban yang paling mendekati kebenaran mungkin hanya bisa diberikan oleh Nabi Ayub (lihat bagian Perjanjian Lama dalam Alkitab). Ayub adalah seorang yang sangat
taat beribadah, dan menerima segala berkat dari Tuhan. Tetapi setan datang ke hadapan Tuhan dan meminta izin untuk mendatangkan segala bala itu. Apabila Ayub bisa tergoda dan mengutuk Tuhan, maka menanglah setan, begitulah perjanjiannya. Dan karena Ayub adalah yang paling bertakwa di antara manusia di zamannya, maka berarti tak akan ada lagi makhluk berupa manusia di dunia yang bisa menyembah Tuhan dengan ikhlas dan pasrah, apa pun yang diterimanya.

Dan Tuhan mengizinkan. Sekali lagi saya tulis, Tuhan mengizinkan. Tuhan mengizinkan setan untuk mendatangkan segala bala bencana bagi Ayub, seorang manusia yang sangat bertakwa dan dicintai Tuhan. Tetapi, Tuhan apa itu yang mengizinkan bencana datang
bagi umatnya?

Tuhan adalah Tuhan, dan kitab suci Yahudi dan Kristen menuliskan bahwa Tuhan "mengizinkan" setan untuk mendatangkan bencana bagi Ayub. Hal ini bisa menjadi
suatu simbol tentang pengertian bahwa bencana bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja. Dan tidak ada perbedaan antara umat Tuhan dan umat setan. Ayub, seorang penyembah Tuhan yang paling bertakwa sekalipun, tidak luput dari hal izin-mengizinkan yang diberikan oleh sesembahan seluruh alam semesta.

Tuhan mengizinkan.

Dan runtuhlah segala harta kekayaan dan keluarga yang dimiliki oleh Ayub. Ribuan ternaknya habis. Anak-anaknya mati tertimpa bangunan tempat mereka berpesta. Ayub sendiri terserang penyakit kulit yang tak tersembuhkan. Gatal-gatal, sehingga dia menggaruk kulitnya sendiri sampai tinggal tulang. Dan tetap tidak bisa mati.

Sebagaimana layaknya manusia beradab, berdatanganlah sahabat-sahabat Ayub untuk menengok dan menghiburnya. Seorang sahabat berusaha menghibur dengan mengingatkan Ayub akan dosa-dosanya. Hm, tidak ada itu, kata Ayub. Sahabat yang lain mencoba menghibur dengan satu dan lain cara. Semuanya memberikan pengertian-pengertian yang tak satu pun bisa diterima oleh Ayub.

Pertanyaan asal tetap ada: “Mengapa harus saya, Tuhan?”

Dan Tuhan tetap diam membisu, walaupun di langit antah-berantah entah di mana, komunikasi antara setan dan Tuhan tetap berlangsung. Begitulah yang terekam di
kitab suci. Dan setan tertawa-tawa, dan Tuhan tetap menjawabnya tanpa ekspresi.

Wah, ternyata si Ayub masih bertahan, kata setan. Ternyata dia masih percaya padaMu, Tuhan, kata setan. Repot juga, yah, menjadi umat Tuhan, tetap percaya walaupun bencana menimpa.... Kurang lebih begitulah komentar setan di hadapan Tuhan.

Tapi Tuhan tetap diam saja tanpa ekspresi.

Dan itu berlangsung sampai Ayub ditinggalkan seorang diri. Duduk di bawah pohon kering kerontang di tengah padang pasir. Milik tidak lagi dia punya, sanak saudara juga tidak. Sahabat semuanya sudah bergiliran membezuknya. Dan tubuhnya yang penuh bisul bernanah mengakibatkannya dianggap sebagai persona non grata, orang yang tak diinginkan. Itulah yang menyebabkan dia duduk seorang diri seperti seekor anjing pengidap penyakit kulit. Tak ada yang mendekat, tak ada yang menghiraukan.

Kitab suci mencatat bahwa tidak ada malaikat yang datang menghibur Nabi Ayub. Tidak ada keajaiban apa pun yang terjadi selain hal-hal biasa saja sebagaimana layaknya yang pasti terjadi ketika seorang kaya raya yang penuh berkat tertimpa mala petaka. Ketika tak ada lagi harta miliknya yang tersisa.

Setelah semuanya meninggalkannya, orang salih yang bertakwa itu mulai menumpahkan segala keluh-kesahnya ke hadapan Tuhan. Nah, ternyata tidak kebal juga dia. Memang bukan kutukan terhadap nama Tuhan, tetapi keluh-kesah. Complaints. Dia mengeluh: “Mengapa saya, Tuhan?”

Dan Ayub mendasarkan keluh-kesahnya atas kebenaran yang ada di dirinya. Atas segala baktinya terhadap Tuhan maupun sesama. Mengapa semua itu tidak dihitung oleh Tuhan? Mengapa Tuhan mengizinkan segala bencana untuk datang terhadap orang yang paling bertakwa? Apakah Tuhan kekurangan orang zalim sebagai sasaran bencana? Dan ... mengapa setan bisa memeroleh audiensi di hadapan Tuhan, sedangkan manusia bertakwa harus menjadi taruhan antara setan dan Tuhan tentang kesanggupan bertahan ketika bencana datang?

Dan, Tuhan tetap diam saja.

Kitab suci hanya menuliskan bahwa segalanya itu baru berakhir ketika Ayub menyadari bahwa segala kebenarannya, segala baktinya itu, ternyata tidak berarti apa-apa. Tuhan adalah Tuhan, dan Tuhan akan melakukan apa yang Tuhan inginkan.

Tidak ada yang namanya ritual menyogok Tuhan dengan ibadah dan amal jariyah. Semuanya kembali kepada Tuhan. Apa yang ingin Tuhan lakukan, itulah yang
dilakukanNya. Segala kebenaran manusia yang dipupuknya melalui amal ibadah tidak menjadi hitungan.

Ketika hal itu disadarinya, barulah Ayub tersedu-sedu. Ayub menangis dan melaburkan segala abu serta pasir kering kerontang itu ke seluruh wajahnya. Dia minta ampun karena mencoba menilai Tuhan dengan perangkat manusia. Kriteria manusia ternyata tidak berlaku.

Tak banyak yang tertulis di kitab suci setelah episode itu selain bahwa Ayub akhirnya sembuh dari penyakit kudisnya dan memeroleh kembali dua kali lipat dari segala harta benda yang pernah dimilikinya.

Cuma itu saja. Cuma setelah Nabi Ayub menyadari bahwa segala status "orang benar" yang dimilikinya tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan. Tuhan adalah Tuhan, dan Tuhan akan melakukan apa yang diinginkanNya.


+++

20. APAKAH DOA ITU?


Ternyata memang masyarakat Indonesia termasuk salah satu yang paling spiritual atau rohaniah di dunia. Segalanya dimulai dengan doa, baik “bismillah” maupun “atas nama Bapa” ... dan diakhiri dengan doa pula. Amin. Tetapi apakah doa itu?

“Om shanti shanti om” ... seperti diucapkan di Bali adalah “assalamu’alaikum” menurut pengertian Arab. Yang manakah yang benar, karena menurut Yahudi, kata itu seharusnya berbunyi “shalom”, dan bukan “salam”?

Kita di Indonesia banyak mengambil kosakata Arab sehingga tradisi Yudeo-Kristen di Indonesia terlihat kearab-araban.... Seperti Arab, tetapi bukan. Apakah itu salah?

Hindu di Indonesia juga terhinggapi dan dihinggapi oleh salah-kaprah itu. Di SD kita banyak dijejali tentang monoteisme dan politeisme. Dan Hindu dibilang sebagai politeistik, menyembah banyak dewa. Dulu saya menerima indoktrinasi itu begitu saja.
Sekarang saya tertawa kalau masih ada yang bilang bahwa Hindu itu politeistik.

Saya sekarang mengerti bahwa Hindu itu monoteistik. Tuhan hanya satu, dan dewa-dewi yang banyak itu hanyalah manifestasi dari Tuhan yang satu. Sangat sederhana sekali, dan tak perlu dibuat ribet.

Masyarakat Indonesia memang pada dasarnya memiliki bakat untuk mendalami kerohanian. Untuk menjadi spiritual bahkan tanpa bersusah-payah menunjukkan bukti seperti orang-orang Barat itu. Kita di sini bisa bilang bahwa kita beragama, walaupun buktinya secara agregat sangat sedikit. Dan kita dengan bangga bisa mengangkat kepala di hadapan masyarakat Barat yang kita cap sebagai ateis, walaupun buktinya banyak,
bahwa mereka menerapkan ajaran agama-agama tanpa banyak gembar-gembor seperti para petinggi agama (tertentu) di masyarakat Indonesia.

Inilah paradoks spiritualitas. Banyak dari mereka yang menjalani praktik spiritualitas tidak mengklaim dirinya sebagai spiritual. Dan banyak dari mereka yang mengklaim dirinya (atau masyarakatnya, atau kelompoknya) sebagai spiritual atau rohaniah, ternyata
berpraktik kebalikannya. Praktiknya ternyata tidak spiritual, atau hanya semata-mata di keduniawian semata, termasuk menghujat kelompok-kelompok lain dan memonopoli surga untuk kelompoknya sendiri.

Paradoks spiritualitas adalah normal. Saking normalnya sehingga kita di Indonesia melihatnya sebagai biasa-biasa saja. Biasalah...!

Kali ini saya ingin mengajak rekan-rekan sekalian yang berbahagia untuk sekedar berbagi pengalaman dan pengertian tentang doa. Apakah doa itu?

Sebagian dari kita berdoa untuk mengumpulkan pahala. Supaya pahala itu menumpuk sekian banyak sehingga Tuhan akan melupakan segala dosa. Supaya pahala lebih
banyak dari dosa sehingga Tuhan –yang di sini divisualkan sebagai tukang timbang, seperti pedagang grosir yang menimbang berat barang– bisa memutuskan bahwa si pendoa layak masuk surga.

Sebagian dari kita berdoa untuk menyembah. Sebagian menyembah Tuhan (atau dewa, atau dewi, atau Buddha, atau Yesus, atau apalah....) demi penyembahan itu sendiri. Tanpa pamrih, tanpa alih-alih mengumpulkan pahala. Sebagian lagi demi mengumpulkan pahala di surga ... gak beda seperti mengumpulkan bonus; seperti bonus terbang gratis promosi kredit card Citibank atau ... mungkin promosi Matahari Department Store.
Bonus, bo!

Atau mungkin memohon-mohon kepada Tuhan supaya rezekinya berlimpah-limpah. Mohon saja berkali-kali, malah kalau dengan puasa bisa lebih afdol. Tuhan akan lembek hatinya dan mengabulkan permintaan si pendoa. Permintaan bisa macam-macam, dan bukan soal kerezekian saja. Bisa juga soal jabatan. Minta naik jabatan kepada Tuhan, minta supaya disayang sama bos, minta supaya istri tidak nyeleweng, minta supaya suami setia walaupun sudah diterjang proposal selingkuh kanan-kiri. Minta supaya anak-anak jadi orang.

Menjadi orang atau manusia itu susah ternyata. Banyak maunya, dan banyak jalannya. Kalau metode tertentu ternyata kurang sip, masih ada metode lainnya. Agama satu kurang afdol, masih bisa pilih agama lain. Cuek azzah, katanya. Yang penting Tuhan denger doa saya, katanya. Itu katanya, lho!

Memang lucu. Yang lucu itu bukanlah ajarannya, tetapi para pelakunya. Persis seperti pendukung tim sepak bola. Saling berteriak menjagokan timnya (baca: agamanya).

Buat saya dan sebagian orang, barangkali, perilaku para pelaku agama yang mengaku sebagai orang yang memiliki kerohanian atau spiritualitas tinggi itu bukanlah hal aneh. Memang lucu, tetapi tidak aneh, dan tidak mengagetkan. Sebagai data, mereka valid. Valid untuk penelitian sosiologis (sosiologi agama) atau psikologis (psikologi agama).

Yang menjadi tanda tanya bagi saya dan sebagian orang adalah apa yang dilakukan para pelaku keagamaan itu dengan kepercayaan agamanya itu. Apakah Tuhan yang mereka akui sebagai sesembahan itu hanya slogan semata? Atau adakah suatu iman tertentu yang diyakini sedemikian rupa sehingga para pelaku keagamaan itu bisa menjadi lebih manusiawi seperti dikehendaki oleh sesuatu yang disebut sebagai Tuhan itu?

Atau, apakah memang benar bahwa sebagian Tuhan dari agama-agama memang tidak bertuhan sehingga pelaku keagamaan tertentu yang telah dikuasainya menjadi begitu brutal, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

Barangkali jawabnya cuma bisa ditemui dalam doa yang mereka lakukan. Para peneliti, lihatlah apa doa mereka? Dan lihatlah kaitan antara doa dan perbuatan.

Adakah yang sinkron? Adakah yang menyambung antara doa yang dipanjatkan ke atas dan perbuatan yang semata horizontal ke samping. Kalau ada, maka bisa diasumsikan sebagai sehat. Kalau tidak ada, maka itu sakit.

Yang sehat atau sakit bukanlah agama-agama itu, melainkan pelaku-pelakunya. Lihatlah pengertian tentang apakah doa itu di kalangan mereka yang menjagokan agama. Dan bandingkahlah dengan praktik nyata di lapangan kemanusiaan. Apakah benar dipraktikkan atau cuap-cuap belaka. Ada pendapat lain?


+++

21. PENDEKATAN UNITY VS. PENDEKATAN DUALITY


Maybe akan ada yang bertanya-tanya juga setelah mata ketiga itu apa, yang akan saya jawab bahwa setelah mata ketiga is mata keempat, mata kelima, dst. … sampai mata ke-tak terhingga. Kalau matanya sudah tak terhingga berarti sudah sampe ke final destination which will never sampe-sampe karena kita memang gak pernah meninggalkan the starting place which is also the finished line. Gak pernah misah, jadi gimana mau nyampe, hmmm hmmm hmmm....

So, kita melihat dari arah sini ke suatu titik di sana. On the other hand, yang di sana itu juga melihat ke suatu titik di sini which is diri kita di sini ini. Kita melihat itu, dan kita sebut itu "Tuhan". Tuhan melihat kita, dan disebutnya "dirinya". One body, one spirit, gak pernah misah dari dulu, sekarang, dan sampai kapan pun.

Lalu di dunia ini apa, that's the question, kan? Well, di dunia ini, kan, cuma becanda doang. Cosmic drama. So, God himself itu gak bisa experience dirinya sendiri karena cuma satu, maka diciptakanlah other Gods.

Pertama kali cuma ada himself, God yang pertama. Lalu diciptakanlah herself dari dirinya sendiri juga. Nah, herself it God yang kedua. Karena sekarang sudah ada himself dan herself, maka mudahlah berkembang biak, dan jadilah themselves. Kita itu semuanya themselves.

Nah, karena sekarang sudah ada banyak, maka God yang pertama, si himself itu bisa enjoy. Enjoy apa? Ya, enjoy dirinya sendiri, wong, semuanya dari dia, kok.

Jadi, seperti ada multiplikasi. Dan multiplikasi itu dari dirinya sendiri. Seperti membelah diri.

Yang jadi masalah, themselves itu mengira dirinya itu terpisah dan mencari-cari segala daya dan upaya (teknik-teknik) untuk kembali ke herself, dan akhirnya ke himself sebagai the original source.

Padahal gak pernah misah. Selalu satu, always one even from the begining.

Nah, cara pandang yang seperti itu bisa dibilang pendekatan "unity". Jadi, seperti Swami Vivekananda dan para mistikus itu, semuanya selalu bisa merasakan unity, dan pendekatannya itu iman. I know that I know that we are always one, gak pernah misah.

Tetapi, pendekatan "unity" itu terlalu berat bagi kebanyakan orang, maka agama-agama/ tarekat-terekat/aliran-aliran itu menggunakan pendekatan "duality". Jadi, diajarkanlah tentang ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yin, dan ada yang. Ada maskulin, dan ada feminin.

Di dalam setiap hal yang "kiri" selalu ada benih untuk hal yang "kanan". Di dalam setiap kebaikan selalu ada benih dari kejahatan, dan di dalam setiap kejahatan selalu ada benih dari kebaikan.

Melalui pendekatan "duality" itu akhirnya kebanyakan manusia akan belajar. Belajar untuk memahami bahwa kalau mau bergerak, ya, harus menggunakan pendekatan
dualitas. Karena ada "kejahatan", maka saya harus bertindak agar "kebaikan" itu bertambah. Karena saya merasa "maskulin", maka saya harus cari yang "feminin" supaya bisa bikin anak sehingga memiliki keturunan, and so on and so forth.

Tetapi, ketika segalanya telah dijalani (yang oleh orang-orang Hindu/Buddha disebut sebagai jalan dharma/bhakti yoga), ketika telah pula ikhlas dan pasrah (menerima konsekuensi dari jalan "duality" yang sering pula disebut sebagai karma), maka akhirnya akan sampai pula pada satu titik di mana mau gak mau jalan "unity" itu harus diambil juga.

Kalau kita sudah siap, kita harus melakukan lompatan kuantum dan mengambil jalan "unity". Kalau kita memakai pendekatan "unity" artinya kita menjadi diri sendiri saja, jalan saja. Gak peduli ada yang bilang itu "kiri" atau "kanan", kita akan jalan saja. We know that we know that we have never been apart. Ini, kan, cosmic drama saja. Maksudnya, agar the one itu bisa enjoy dirinya sendiri. Dan kita bagian dari the one. Selalu begitu, worlds without end.


+++

22. SPIRITUALITAS SANGAT BERKAITAN DENGAN SEKSUALITAS


Mau tidak mau memang kita harus sampai juga ke pengertian bahwa spiritualitas sangat berkaitan dengan seksualitas. Spiritualitas yang menggunakan cakra mata ketiga itu selalu diseimbangkan oleh cakra seks. Itu pengamatan aku dan pengalaman aku juga. Mereka yang meditasi dengan mata ketiga (kelenjar pineal) akan memiliki sexual appetite yang besar. Semakin kuat meditasi di cakra mata ketiga itu, sexual appetite itu akan makin besar. Itu yang aku amati. Dan itu bisa dari kelompok keagamaan mana saja, atau dari kelompok spiritual mana saja; as long as the person practices meditation on the third eye, maka gairah ezek-ezek itu akan makin membesar dan membludak. Itu, kan, energi. seks itu energi untuk pembuahan, untuk prokreasi. Untuk kehidupan, ... dan bukan untuk merusak dan membuat amboeradoel segalanya seperti orang yang menggunakan nafsu seks semata untuk menjadi seperti hewan liar. Gak begitu pengertiannya, and it takes a whole lot to explain. Jadinya aku keluarkan sedikit demi sedikit begitu supaya orang gak kaget and can accept it gracefully that sex is neutral.

Cara bagaimana sex could be bad or good, kan, tergantung dari maksudnya belaka. Tergantung dari etik yang dipakai itu apa. Tergantung apakah ada unsur sukarela atau pemaksaan. Apakah ada intimidasi jender atau penekanan mental melaui belief system (seperti melalui agama). Sex per se is neutral, always like that. Nah, yang membuat sex itu menjadi bad, kan, orang-orang naluriah itu yang menggunakan hormon untuk memuaskan naluri semata. Hanya naluri karena gak konek dengan mata ketiga. Dan itu ada, dan itu banyak juga. Segala criminals itu menggunakan alasan seks sebagai pendorong; lha iya, tapi seks yang bagaimana? Seks yang naluriah, kan? Nah, seks yang naluriah itu benernya bisa juga berjalan hanya dengan mesin semacam pengocok telur, dan itu, mbok, ya, digunakan untuk orang-orang naluriah yang suka memaksakan kehendaknya sehingga perempuan baik-baik (yang walaupun tidak bersuami dan sudah memiliki anak) akhirnya bisa terjebak (kamar dikunci dan diperkosa).

Hmmm ... perempuannya juga "gatel" … itu, kan, alasan doang. Alasan sebenarnya adalah pemerkosaan. Dan perempuan Timur, kan, terlalu malu hati untuk berteriak caya diperkoca. Padahal iya, dan yang melakukan itu orang yang naluriah seperti hewan walaupun secara fisik berbentuk manusia....

Gairah seksual yang berasal dari mata ketiga tidak seperti itu orientasinya. Memang ada dorongan ke arah esek-esek, tetapi bukan dengan melakukan pemaksaan. Bukan dengan menjerumuskan perempuan atau laki-laki yang tidak menyadari adanya jebakan yang diciptakan. Tidak seperti itu. Kalaupun muncul, selalu ada jalan keluar. Sex is sex dan ada etik yang harus dipatuhi dan tidak seperti doggy-doggy yang suka memerkosa janda muda itu. Tidak seperti itu, energi dari mata ketiga is very different.... Saya sendiri masih mencari-cari celah untuk menuliskan tentang hal itu. One by one, step by step. Suffice at this moment to say that sex per se is neutral. Bahwa seks itu bukanlah alasan sehingga manusia itu menjadi seperti binatang. Kalau manusianya memang seperti binatang dan tidak mau berubah, apa pun bisa dijadikan alasan, sex is one of those alasans.

Spirituality on the other hand accepts sex as part of human nature. And we'd better learn to accept it as it is. As long as sex could be expressed ethically, then we can grow more mature in that regard.... While there is a whole bunch of misconceptions about sex. Sex in practice is not the same as theory as many people would have liked to believe in the face of confrontations with human sexuality. Everybody knows that, I believe. Nah, kita itu harus seperti apa jadinya? Apakah harus mengikuti teori-teori? Apakah harus ikut preskripsi yang dibuat ratusan tahun lalu? Itu pertanyaan yang sangat etikal, bukan? Apalagi kalau orangnya memang memraktikkan meditasi di mata ketiga sehingga memunculkan energi seks yang meluber dengan dahsyatnya itu, dan mau disalurkan ke mana itu? Dan I have not really talked about it which I hope to do in the very near future.


+++

23. LEO, APA KAMU LIHAT AKU FEMININ?


Seorang rekan di Bali yang saya sebut Rex menulis suatu pertanyaan singkat untuk saya: “Leo, apa kamu lihat aku feminin?” Dan saya menjawabnya secara panjang lebar sebagai berikut:

Dear Rex, you are as feminine as you can be, even though your sex is male. I am as feminine as I can be, even though my sex is male. Any man is as feminine as any man can be, even though his sex is male.

Kenapa kefemininan seorang laki-laki harus dipertanyakan? Apakah Anda tidak tahu bahwa banyak laki-laki yang secara batiniah dan emosional lebih "feminin" daripada perempuan? Dan banyak perempuan yang secara batiniah dan emosional ternyata lebih "maskulin" daripada laki-laki?

Femininitas dan maskulinitas adalah dua kutub dari satu kontinum yang sama. Kontinum afeksi.... Dalam kontinum afeksi ini kita berkiprah memberikan stimulus kepada orang-orang lain dengan menggunakan energi bawaan yang kita miliki. Sebagian dari kita, notwithstanding his or her sex, memiliki energi afektif yang dominan maskulin. Sebagian memiliki yang dominan feminin.... Sebagian besar orang berada di tengah-tengah. Energi afektifnya adalah campuran maskulin dan feminin.

Apakah maskulin lebih bagus? Atau, apakah feminin lebih bagus? Jawab saya: tentu saja tidak. Tiap jenis energi afektif memiliki spesialisasinya sendiri. Energi maskulin lebih untuk penyembuhan fisik. Energi feminin lebih untuk penyembuhan emosional.

Stimulus yang bersifat maskulin lebih bersifat direct, to the point. Kasar. Vulgar.

Stimulus yang bersifat feminin lebih bersifat indirect, coy, hideous. Soft. Semilir.

Possibly at this time you could grasp what I mean by masculinity and femininity. And this continuum of masculinity vs femininity is not related at all with sexual orientation. Orientasi seksual adalah hal yang lain lagi. Anda bisa saja memiliki energi afektif
dominan feminin, dan secara seksual memiliki orientasi utama hetero. Kok, bisa?

Ya, bisa saja. Namanya juga manusia hidup. Dan manusia hidup itu memiliki variasi yang tak terhingga. Don't believe all those BS preached by religious leaders or ignorant psychologists. Dikatakan, kalo cowok pasti hetero, kalo gak hetero pasti homo. Gak begitu, kok!

Hetero or Homo is orientasi seksual. Sedangkan orientasi energi afektif bisa feminin, maskulin, atau campuran keduanya.... Jadi, bisa saja ada cowok yang maskulin banget penampilannya tapi orientasi seksualnya homo. Lalu, bisa juga ada cowok yang feminin banget penampilannya, tapi orientasi seksualnya hetero.

Apakah ada yang menyimpang? Of course not. Apanya yang menyimpang? Segala pelabelan simpang-menyimpang dalam bidang kejiwaan itu, kan, cuma buatan para psikolog yang kurang kerjaan itu. Segalanya dianggap menyimpang, except themselves?

Jadi, please be comforted in the understanding that it is ok to be feminine. Yes, you are a male, and it is 100% ok for you to be feminine. It means you have an inborn empathetic understanding toward others who suffer. That you could accept other people as they
really are. That you are not afraid to admit that sometimes you are afraid. That you need other people to warm you, to soothe you....

Those are real feminine qualities that we men have to learn. Or, to be more accurate, to rediscover in ourselves. Banyak nilai-nilai feminin yang kita sebagai laki-laki miliki telah kita buang waktu kita menanjak dewasa karena masyarakat kita bilang bahwa sifat-sifat itu "banci". Siapa yang "banci"?

Kalau saya bilang, yang "banci" itu adalah para laki-laki yang tidak mau mengakui kefemininan dirinya sendiri. Tidak mau mengakui perasaan-perasaan halus yang dimiliki oleh dirinya. Mereka pikir bahwa menjadi laki-laki harus menjadi seperti Rahwana, seperti warok, seperti the devil ... seperti dhemit. Whatever.

Mereka salah besar. We are the true men. We accept our femininity as part of ourselves. I love you, Rex.


+++


BAGIAN II: KUMPULAN TANYA-JAWAB


+++

1. AGAMA IS WHAT YOU CALL AGAMA

G = Gunawan
L = Leo


G = Dear Bung Leo, Anda berbicara tentang akibat agama, efek agama, dll., tapi tidak pernah membahas apa definisi agama. Bagaimana mungkin Anda membahas sesuatu di mana Anda sendiri tidak tahu apa definisinya? Ini berarti Anda berbicara tentang sesuatu yang Anda tidak tahu dan tidak Anda kuasai.

L = Well, ... saya rasa saya sudah mendefinisikan apa itu "agama". Agama is apa yang disebut orang sebagai agama. Termasuk di sini yang bilang agamanya itu adalah agama karohunan. Atau, ada juga yang bilang punya agama Sunda, agama leluhur, agama Jawa. Termasuk juga yang agamanya itu ateisme. So, ... agama is apa yang penganutnya bilang sebagai agama.

G = Agama, terdiri dari 5 di Indonesia, tidak semua agama mengajarkan satu Tuhan, ada agama yang memiliki 3 Tuhan, ada juga agama yang tidak percaya Tuhan (semiateis), ada agama yang memiliki kitab, ada juga yang tidak memiliki kitab. Apakah ustad itu simbol agama? Apakah pendeta itu simbol agama? Dan sebagainya....

L = Itulah bejatnya politik agama di Indonesia. Agama-agama yang ada di dunia itu jumlahnya hampir tidak terhitung. Nah, ini ada negara yang keblinger (baca Indonesia), dan dengan semena-mena menetapkan bahwa hanya ada 5 agama yang diakui.

Lalu, siapa yang gila di sini? Yang gila adalah politik agama di Indonesia. Negara itu tidak berhak menentukan agama-agama apa saja yang bisa dianut oleh warganya. Agama itu tidak berhak menentukan agama-agama mana saja yang benar dan yang salah. Negara itu tidak berhak untuk menentukan bahwa warganya itu harus beragama. It doesn't work that way!

Yang jelas, di dunia ini agama-agama itu lebih dari 5 itu, yang konon, diakui sebagai agama "sah" oleh negara Indonesia. Lha, emangnya ada agama sah dan tidak sah? Emangnya ada agama yang halal dan agama yang haram???

Agama itu merupakan pilihan dari setiap pribadi manusia. Itu HAM. Hak Asasi Manusia untuk beragama ataupun untuk tidak beragama. Lalu, agama apa pun yang mau dianut oleh manusia, itu juga HAM. Mau pilih salah satu agama yang "diakui" oleh negara Indonesia, ya boleh saja. Mau ikut agama yang tidak diakui oleh negara Indonesia, ya bisa saja, so what ? Mau bikin agama baru, ya boleh saja. Itu HAM, hak asasi dari tiap manusia.

Negara itu terpisah dari agama-agama. Agama-agama itu mengatur dirinya sendiri dan tidak diurusin oleh negara. Nah, Indonesia ini, kan, negara yang punya kebijakan gila juga. Masa ada Departemen Agama???

Departemen Agama itu aslinya departemen urusan haji. Nah, kalau seperti itu masih bisa diterimalah, karena itu menyangkut ngurusin transportasi orang yang pulang-pergi ke Tanah Suci (tanah yang disucikan, benernya, sih, tanah yang biasa-biasa saja, gak ada bedanya dengan tanah yang Anda injak di bawah sepatu Anda sekarang ini).

Tapi departemen urusan haji akhirnya jadi keblinger dan menjadi Departemen Agama (salah satu departemen yang paling korup di Indonesia, saingan dari Departemen Kehakiman, hmmm hmmm hmmm....). Pembentukan Departemen Agama itu kelakuan salah-kaprah, dan siapa pun yang menjadi pemimpin Indonesia di masa depan harus koreksi itu. Agama-agama harus diatur oleh dirinya sendiri dan bukan oleh negara.

G = Jadi apa definisi agama itu? Ayo, kita pecahkan permasalahan dengan cara yang benar ... dengan mencari satu definisi kata dari analisa sederhana.

L = Agama adalah apa yang disebut oleh penganutnya sebagai agama. Jadi, orang-orang Ahmadiyah itu bilang agamanya adalah Islam Ahmadiyah. Itu agama mereka, ...
dan negara, MUI, atau orang-orang dari sekte Islam lainnya tidak berhak untuk meneror orang-orang Ahmadiyah. Apalagi membakar rumah-rumah ibadah mereka.

Kelakuan orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap penganut Islam Ahmadiyah adalah tindakan pidana/kriminal.

Para pemimpin agama Islam non-Ahmadiyah yang menyerukan "jihad" terhadap Ahmadiyah seharusnya dituntut secara pidana. Itu kriminalitas.

Agama adalah apa yang disebut oleh penganutnya sebagai agama. Dan kita tidak berhak untuk mencap agama orang lain sebagai "sesat". Well, benernya boleh juga, sih, kalau masih terbatas di mulut saja. Tapi kalau sudah melakukan pengrusakan secara fisik, itu tindakan pidana. Jelas, kannn???

G = Bahkan Anda juga belum membahas apa kata gila menurut definisi Anda, karena ada juga orang jenius yang juga dikatakan sebagai orang gila….

L = Gila is tidak waras. Saya rasa saya sudah mendefinisikan itu. Please, baca lagi, yah!

G = Ada kemungkinan Bung Leo ini sering sekali menggunakan insting, intuisi, pengalaman spiritual, atau bisa digolongkan kemampuan otak kanan (EQ), tapi
Anda jarang menggunakan otak kiri (IQ). Jadi sebaiknya gunakan langkah-langkah analisa yang terstruktur dalam membahas sesuatu. Gunakan bukti-bukti empiris, kalau
bisa, dalam bentuk tabel.

L = Kalau saya pakai tabel untuk menulis, gak ada orang yang akan baca. Anda juga gak bakal baca.

G = Man, kita hidup di dunia nyata, dan harus berbicara fakta, lho … bukan angan-angan atau logika-logika kepercayaan yang didapat dari pengalaman-pengalaman pribadi. Pengalaman yang Anda alami berbeda dengan yang orang lain alami....

L = Pengalaman itu memang beda-beda. Tetapi kita bisa menarik benang merahnya. Ada suatu hal yang paralel. Saya melihat dari sisi ini. Orang lain melihat dari sisi itu. Bahkan simbol-simbol (kata-kata) yang saya gunakan itu bisa juga berbeda dengan simbol-simbol (kata-kata) yang digunakan oleh orang lain.

Tetapi, sebenarnya esensi (hakikat) dari yang dibicarakan (diungkapkan) itu sama saja. Kita bisa mengalami "God" karena kita memang berhubungan dengan God secara roh. Nah, ... saya memakai kata-kata itu.

Ada orang lain yang mengungkapkan pengertian (pengalaman) itu dengan menggunakan kata-kata berbeda (simbol-simbol berbeda). Tetapi saya akan tahu bahwa yang dibicarakannya itu hal yang sama secara esensi/hakikat. Dan orang-orang itu juga tahu. So, jadinya tahu sama tahu, ... nyambung, kan???

Kalau Anda mau terbuka, maka bisa nyambung. Kalau Anda mau tertutup seperti para ustad di MUI itu, ya, cappe dehh!!!

G = Pengalaman adalah guru, betul sekali ... tapi faktanya, pengalaman adalah guru untuk diri kita sendiri. Saran saja, jika ingin menjadi guru bagi orang lain, jangan gunakan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Karena guru yang hebat bukanlah murid dari seorang Guru. Obyektif … obyektif, bukan subyektif!

L = That's what I've been doing. Segala pengalaman subyektif yang dikumpulkan dan di-sharing setiap hari itu, kan, namanya data. Dan data itu adalah data yang obyektif. Namanya data pengalaman spiritual. Dan itu 100 % obyektif. Kalau saya rekayasa data-data itu, namanya baru subyektif. Tetapi, karena datanya itu datang dari rekan-rekan semua, maka saya obyektif.


+++

2. MAKNA LINTAS AGAMA

A = Ardian
L = Leo

A = Terima kasih, Mas Leo dan para sesepuh lainnya, karena aku sudah diperkenankan gabung dalam group ini. Wah, meskipun aku berhak menyandang gelar M.A. dalam bidang Religious Studies, kayaknya aku masih harus belajar banyak pada Mas Leo tentang studi lintas-agama. Dan aku dukung terus, Mas, proyek lintas-agama ini. Memang hanya lewat spiritual saja agama-agama dapat menemukan titik temunya, karena kalo bicara masalah teologi yang ada hanya perdebatan yang gak akan pernah selesai....

L = You are welcome, Mas A. I'm glad you did join, hmmm hmmm hmmm.... Well, please sharing dunk, apa aja, tulis aja di milis SI. So, you are a master dalam bidang Religious Studies. Kalo aku, sih, memang merasa menggunakan pendekatan lintas-agama. Maksudnya, aku itu menganggap semua agama itu metode-metode belaka. Metode bagi manusia untuk bisa melakoni spiritualitas dirinya sendiri. Spiritualitas (kebatinan) manusia itu universal, ada di setiap manusia di abad apa pun. Tetapi karena budaya-budaya yang berbeda, cara pengungkapannya pun berbeda-beda. Tetapi esensi (hakikat) tentang pengalaman spiritual (batin) yang ingin diungkapkan melalui bahasa itu tetap saja sama. Secara esensial, apa yang diungkapkan melalui atribut-atribut keagamaan itu sebenarnya sama saja, yaitu pengalaman spiritual (batin) dari si manusia sendiri.

Lalu ada yang namanya "teologi". Nah, di dalam tiap agama itu ada teologi (ilmu ketuhanan). Lalu, teologi yang juga berbeda-beda itu ngomong "Tuhan" yang juga
berbeda-beda, hmmm hmmm hmmm.... Akhirnya, kan, saling memaki saja. Teolog di agama A memaki teolog di agama B, ... lalu teolog di agama A dan B sama-sama memaki teolog di agama D yang gak mau kalah memaki semua teolog di agama-agama A, B, dan C. So, benernya, kan, itu ribut-ribut antara penalaran di dalam sistem kepercayaan belaka. Dan sistem kepercayaan itu, kan, cuma merupakan upaya memahami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan memakai bahasa sehari-hari. Lalu digunakanlah perumpamaan dan analogi.... Ada analogi God as "Bapa". Ada analogi God as "Acynthia", ada God as "Thian", ada God as "Alam Semesta", dan seterusnya. The question, kan, yang mana yang valid. Menurut aku, semuanya itu valid karena mereka itu semata-mata upaya untuk menjelaskan pengalaman spiritual manusia. Spirit itu, kan, batin … dan batin itu rohani, bentuknya roh. Dan karena roh berarti tan kasat mata. Gak bisa dilihat dengan mata
fisik. So, ... upaya komunikasi itu akhirnya menggunakan simbol-simbol. Dan simbol-simbol itu memang abstrak.

The problem begins when people start treating symbols as essenses. Masa simbol dianggap esensi? Itu, kan, yang terlalu mboten-mboten, tetapi itulah yang terjadi. Simbol-simbol itu diributkan, diteorikan, diperdebatkan, ... dibungkus dengan segala macam penalaran teologis yang canggih. Lalu, ... tentu saja, gak akan ada yang nyambung. Teologi di agama A gak nyambung dengan teologi di agama-agama lainnya karena semua yang namanya "teologi" itu cenderung narsis. Narsislah, wong cuma mematut dan memuji diri sendiri di depan cermin. So, teologi-teologi itu semuanya narsis.

Nah, lalu ada syahadat. Tiap agama itu memiliki syahadat yang none other than kompromi politik. Kompromi politik antara kelompok-kelompok di dalam agama itu sendiri di masa lalu. Nah, ngapain sekarang kita meributkan syahadat di dalam agama-agama itu? Biar saja. Syahadat itu bagian dari institusi agama dan bukan bagian dari pengalaman spiritual (batin) dari manusia pribadi per pribadi. Nah, pendekatan lintas-agama yang saya gunakan itu mengakui pengalaman spiritual (batin) manusia itu sebagai valid. Semuanya itu sah apa pun simbol yang digunakannya. Saya tidak melihat simbol-simbol itu sendiri sebagai esensi, melainkan semata-mata sebagai istilah untuk mengungkapkan yang hakiki, yaitu pengalaman batin di tiap manusia. Dan itulah makna lintas-agama.


+++

3. MATA KETIGA DAN MEDITASI

B = Billy
L = Leo


B = Mas Leo, saya ini baru belajar tentang spiritualitas. Mas Leo bisa tolong saya, mungkin kasi petunjuk website-website mana yang bagus untuk dikunjungi n dibaca,
ato Mas Leo punya saran-saran bagus untuk pemula? He he….

Saya ada beberapa pertanyaan juga, nih:
1. Mata ketiga itu apa tepatnya? Karena yang saya baca beda-beda definisinya….
2. Cara meditasi yang basic/simple bagaimana, ya, kira-kira?
3. Apakah ada meditasi yang “benar” dan yang “salah”?

Thanks a bunch, milis Anda
sangat membantu :)

L = Dear Mas Billy, Thanks for your questions. Hmmm hmmm hmmm ... saya gak punya website favorit, tapi selalu menggunakan search (Yahoo, Google) kalau ada hal-hal yang ingin saya cari. Kalau tentang definisi mata ketiga, memang beda-beda, dan saya mendefinisikannya sebagai tempat menyatunya roh manusia dengan roh Tuhan.

Manusia memiliki roh, namanya roh manusia. Tuhan itu roh dan berhubungan dengan roh manusia. Tempat berhubungan antara Tuhan dan manusia itu namanya mata ketiga. Terkadang saya menyebutnya sebagai tempat “manunggaling kawula lan Gusti”. Kawula itu roh manusia, dan Gusti itu roh Tuhan. Dari union with God itu akan muncul hal-hal yang bisa membantu kita untuk menjadi semakin spiritual (rohaniah) sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia yang memiliki roh. Akan muncul wisdom, knowledge, powers to heal, powers to perform our jobs, powers to teach other people so that they may also see the light coming from another direction. Dan itu semua bermula dari mata ketiga, ketika kita menerima fakta bahwa roh kita itu bisa bersatu dengan roh Tuhan, maka mata ketiga kita dikatakan terbuka atau mulai bekerja. Bukan sebelumnya tidak bekerja, melainkan bisa saja telah bekerja namun belum disadari.

Nah, ketika kita menerima fakta bahwa mata ketiga itu tempat menyatunya roh kita dengan roh Tuhan, maka mata ketiga itu akan bekerja dengan kesadaran penuh (awareness, eling) di diri kita. Kita gak akan heran lagi ketika muncul berbagai manifestasi dari mata ketiga di diri kita....

Cara meditasi yang basic/simple adalah dengan mengikuti apa yang Anda rasa paling nyaman. Kalau merasa nyaman dengan mendengarkan musik sambil liyar-liyer, itu juga meditasi. Kalau merasa bisa tune in ke sumber segala sumber melalui musik rock, so be it. Jalankan saja itu.... On the other hand, kalau Anda merasa harus mengikuti postur "standard" meditasi dengan duduk bersila, ya lakukanlah. Bisa juga dengan duduk tegak di atas kursi. Kemudian pusatkan perhatian/konsentrasi Anda pada titik di antara kedua
alis mata Anda. Pusatkan saja perhatian Anda di sana, gak usah berpikir apa-apa. Memang tidak melihat apa pun di sana, tetapi Anda bisa beristirahat di sana. Istirahat saja, enjoy saja, itu meditasi yang paling simple. Saking simpelnya, saya sendiri dari dahulu sampai sekarang cuma pakai cara itu saja. Ngapain ribet-ribet, ya gak? So, in the end, you'll come to a conclusion bahwa tidak ada cara meditasi yang "benar atau salah". Aku gak pernah bilang yang ini benar, terus yang itu salah. Never. Aku ini berpatokan pada hasil, faedah. Apakah yang melaksanakan cara meditasi seperti itu merasa memeroleh hasil atau faedah dari tekniknya itu. Kalau ya, so what? ... Kalau merasa belum memeroleh hasil, ya, bisa dicoba berbagai teknik lainnya sampai akhirnya menemukan yang paling nyaman bagi dirinya sendiri. Yang penting titik itu, lho, yang letaknya di antara kedua alis mata itu, lho, dirasakan saja di sana. Hmmm hmmm hmmm ... you'll understand more later, and you'll share your experiences more with all of us later.


+++

4. OUT OF BODY EXPERIENCE (OOBE)

M = Mohan
L = Leo


M = Salam hormat, Pak Leo.... Terima kasih atas segala nasihat yang telah Bapak berikan. Nasihat-nasihat Bapak akan sangat saya perhatikan.

Pak Leo, saya memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan, karena selama ini saya tidak memiliki seseorang yang dapat saya jadikan tempat untuk bertanya.

Begini Pak Leo, sekitar 5 hari yang lalu, setelah selesai sembahyang, sekitar jam 12 malam (malam itu saya tidak melakukan meditasi), saya berbaring sebentar (terlentang, menghadap ke atas), tiba-tiba di antara kedua alis mata saya seperti ada yang menekan kuat sekali, rasanya seperti menyentuh tengkorak belakang kepala saya. Saya merasakan konsentrasi yang sangat kuat, kemudian saya bangun, tetapi terjadi perubahan situasi dan warna dalam ruang kamar saya. Saya melihat badan saya tertinggal di bawah, saya juga melihat banyak orang di dalam kamar saya (mereka semuanya diam, tidak melihat ke arah saya, berpakaian serba putih dengan ikat kepala putih), saya merasa sangat takut dan berbaring lagi di atas badan saya.

Pak Leo, sebenarnya apa yang terjadi? Karena dulu saya juga sering mengalami hal seperti itu. Salah satu contoh lagi, ketika pada waktu siang saya, adik saya, dan seorang teman saya sedang duduk menonton tv, tiba-tiba saya tertidur, kemudian saya bangun, saya memanggil-manggil teman dan adik saya, tapi mereka seperti tidak melihat saya, mereka diam aja, lalu saya lihat badan saya tertinggal di bawah. Saya mohon, tolong, Bapak beri penjelasan tentang hal ini….

Terima kasih banyak atas perhatian dan nasihat-nasihat yang Bapak berikan, saya sangat menghargainya.

Salam,
(Mohan)

L = Dear Mas Mohan, thanks for sharing. Yang Anda alami itu tidak lain dan tidak bukan merupakan pengalaman keluar dari tubuh (Out of Body Experiences /OOBE).

Hmmm hmmm hmmm ... gak usah takut karena kalau kita memiliki bakat untuk OOBE, and you have that talent, maka kita akan keluar-masuk dengan mudahnya ke tubuh kita sendiri. Ada yang OOBE ke dimensi lain dan menjumpai hal-hal yang aneh-aneh. Tetapi Anda ini OOBE ke dimensi ruang dan waktu yang kita tempati sekarang ini, dan Anda melihat apa yang ada, di dimensi ruang dan waktu. Anda bahkan bisa melihat tubuh Anda sendiri. Nah, kalau mengalami hal seperti itu lagi … please, jangan takut. Anda akan OOBE lagi, dan lagi, dan lagi.... Ada hikmahnya, ada tugasnya, ada misinya. Your mission is to help other people melalui OOBE. Contohnya, ada orang yang tidak bisa diberitahu dengan mulut, dan Anda bisa memberitahunya melalui OOBE. Memang orang itu tidak bisa melihat Anda, ... dan Anda tidak perlu heran. Tetapi, bicara saja. Walaupun dia tidak melihat, tetapi batinnya itu bisa merasa. Dan dia akan merasakan komunikasi dengan Anda. Jadi, hal yang di dunia fisik itu mustahil dilakukan, dalam hal tertentu malah bisa dilakukan dengan lebih mudah melalui OOBE. Itu salah satu kegunaannya. Coba saja dulu. Masih banyak kegunaannya yang lain, yang Anda bisa ketahui sendiri melalui eksperimen. Hmmm hmmm hmmm ... you could even visit me while out of body. Give it a try, ok?

+++

5. ADA BENANG MERAH ANTARA ROH DAN JIWA

Z = Zelda
L = Leo


Z = Om Leo, saya sedang bingung, saya mau post ke milis tapi, kok, rasanya pertanyaan saya ini gak mutu, he he he.... Selama ini, saya meyakini dualisme tubuh dan jiwa. Saya pikir jiwa itu sama dengan roh; lalu ada yang bilang manusia itu terdiri dari tiga hal: tubuh fisik, jiwa, dan roh.

Begini penjelasan dari temanku itu: yang paling kasar tubuh fisik, terus tubuh energi yang berlapis-lapis; tubuh energi paling luar, ya, aura itu, spektrum cahaya/warna ke dalam kian halus, jiwa itu yang paling halus, jiwa itu modem bagi tubuh dan roh; hanya jiwa yang tenang dan bersih yang dapat berkomunikasi dengan roh, roh itu selalu suci, sinar illahi, kalau jiwa bersih, bisa mendapat tuntunan roh (kalau Nasrani mengenalnya sebagai roh kudus), lalu akan muncul di perilaku, roh ini bisa berhubungan langsung dengan Tuhan.

Roh abadi, jiwa ikut mati bersama tubuh, tapi bisa juga jiwa ini tetap tinggal ketika tubuh jasad mati, mungkin karena masih ada ambisi yang belum terpenuhi ketika hidup. Intinya, jiwa itu masih bisa ditempeli oleh nafsu. Kalau dimanfaatkan oleh setan, jadilah jiwa-jiwa ini jadi hantu; kalau roh ada juga yang penasaran, tapi dengan doa orang yang masih hidup, roh yang belum naik ini bisa dimintakan ampunan agar bisa naik; itu kata ustad kejawenku, he he he.... Sedangkan jiwa/nafsu-nafsu yang masih berkeliaran setelah orangnya mati, kita mintakan ampunan juga agar kembali ke bumi. Nafsu-nafsu itu dari bumi. Dari makanan yang kita konsumsi, makanya beberapa agama mengajarkan diet vegetarian untuk mengendalikan nafsu-nafsu hewani. Saya kira, jiwa itu sama dengan roh.

Menurut Om Leo, gimana??? Saya, kok, jadi bingung. He he he ... ada penjelasan lain?

Thx,
(Zelda)

L = Dear Mbak Zelda, thanks for sharing. Pengertian tiap orang itu memang tidak sama. Ada yang memiliki pengertian seperti ditulis di atas itu, ... ada yang mirip-mirip dengan itu, dan ada juga yang sama sekali beda. Hmmm hmmm hmmm ... emangnya kenapa? It's ok to have different understandings, kita, kan, masih bisa melihat esens dari pengertian-pengertian yang secara verbal memang berbeda-beda itu. Perkataan dan istilah yang digunakan bisa berbeda, tapi kita bisa menarik benang merahnya. Hmmm hmmm hmmm.... "Benang merah" itu, kan, istilah saja, gaya bahasa saja. Tapi, apakah benar-benar ada "benang merah" di situ secara fisik? Ya, jelas gak ada. Hmmm hmmm hmmm ... begitu pula dengan berbagai penjelasan. Kita bisa menggunakan pengertian antara (intermediate concepts) untuk menjelaskan sesuatu hal yang lebih abstrak. Nah, banyak dari istilah-istilah yang terkadang terdengar aneh sebenarnya cuma "pengertian antara" untuk menjelaskan hal-hal yang secara rohani lebih tinggi, dan lebih sukar untuk dijelaskan tanpa menggunakan "pengertian antara" tadi. Contoh: gereja Katholik memiliki konsep tentang "api pencucian" (alam orang mati di mana jiwa-jiwa yang belum bersih akan "dicuci"). Tapi apakah benar-benar ada api pencucian atau tidak is not the question. Itu cuma "pengertian antara" untuk menjelaskan tentang etika spiritual. Tentang bagaimana hidup yang bertanggung jawab, tentang bagaimana menapaki spiritualitas kita sehingga kita gak muter-muter di sini saja seperti orang-orang yang naluriah semata itu, tentang bagaimana kita bisa menjadi lebih manusiawi, lebih rohaniah (spiritual), lebih mendekati sifat ketuhanan. Hmmm hmmm hmmm ... itu penjelasan aku. May you be able to grasp its significance. Gak usah bingung lagi, terima aja penjelasan orang lain, dan kita lihat maksudnya itu apa. Nah, ada benang merahnya, kan?


+++

6. MEDITASI DI KELENJAR PINEAL

A = Adi
L = Leo


A = Hai Pak Leo, lama tidak kontak.... Saya ada pertanyaan yang masih belum terjawab mengenai meditasi yang konsentrasi pada pineal gland. Tepatnya pineal gland itu terletak di mana dan buat apa meditasi model begini, Pak Leonardo yang baik?

L = Yang saya maksud dengan meditasi di pineal tidak lain adalah meditasi biasa dengan konsentrasi di kelenjar pineal. Kelenjar pineal adalah mata ketiga dalam bentuk fisik. Letaknya di tengah batok kepala, di antara kedua alis. Counterpart-nya adalah mata
ketiga astral. Mata ketiga astral tidak berbentuk fisik dan akan tetap ada. It is immortal.

Menurut saya, mata ketiga adalah pusat dari batin manusia. It is the center of our mind. The soul is the mind. Without mind, we are soulless. The mind needs not to think all the time, however. The mind could just observe. The mind could just be. Just be the mind.

The ultimate mind, the essence of our minds, is the mind of God. God, Acynthia, the Undescribable.

Setahu saya, yang umumnya bermeditasi di pineal adalah mereka yang berasal dari aliran Tao. Tao memiliki banyak simbol, dan simbol utamanya adalah the elixir. The elixir ini mengalir dari cakra mata ketiga.

Yesus menyebut tentang "The Source of live-giving water coming from our innermost being". The Source itu ada di mata ketiga.

Pada pihak lain, berbagai aliran Buddha kebanyakan bermeditasi dengan pusat di dada; di cakra jantung. Akibatnya adalah penekanan welas asih yang berlebih-lebihan. Welas asih dan sikap pasif adalah side effect dari meditasi di cakra jantung.

Kalau meditasi di cakra mata ketiga, side effect-nya adalah munculnya kemampuan-kemampuan untuk melihat hal-hal yang "gaib"; walaupun tidak sengaja diminta. You have to give it a try to prove it!

Menurut saya, napasnya biasa saja. Biasa seperti dalam meditasi pada umumnya. You have to meet me face to face to see how I really do it.

Ada berbagai jenis meditasi. Meditasi yang menggunakan berbagai visualisasi adalah salah satunya. Saya sendiri tidak suka menggunakan visualisasi karena, menurut
pengalaman, visualisasi hanya menyebabkan hilangnya konsentrasi.

Konsentrasi itu perlu. Dan saya konsentrasi di mata ketiga, tok. Duduk bersila biasa (bisa kaki kiri diletakkan di atas paha kanan), punggung tegak, masing-masing telapak tangan menghadap ke atas dan diletakkan di atas paha kiri dan paha kanan (bisa juga telapak tangan dikatupkan dan diletakkan di tengah).

Mata fisik tertutup, tapi tidak sepenuhnya. Mata fisik itu tetap melihat ke arah bawah. Mata ketiga terbuka lebar dan melihat ke arah atas dengan sudut sekitar 45 derajat. Itu saja.

Saya sendiri pakai beberapa mantram yang diulang-ulang. Gunanya untuk konsentrasi, selain doa. Jadi, meditasi juga berarti doa karena memang ada doa yang diulang-ulangi.

Kalau ingin mengenal diri sendiri, mengamati bagaimana samsara tercipta, mungkin meditasi mengenal diri yang diadakan oleh Pak Hud itu akan lebih cepat membantu. Mungkin meditasi pineal, apabila dijalankan sampai full, juga akan membantu mengenal diri. Any kind of meditation is useful, even meditating with open eyes. Any kind of meditation is more useful than not meditating at all.

A = Terima kasih, Pak Leo. Lalu, mantramnya berbunyi apa yang Pak Leo pakai, kalau boleh tahu....

J = “Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga, berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami, dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat, amin (ini doa Bapa Kami).”

“Aum bhur bhuvah shava, thatsavitur varenyam, bhargo dhevasha dhimahi, dhiyo nach prachodayat, om... (ini mantra Gayatri).”

“Alhamdulillah hirobil aalamiin ar rahmaanir rahim, maaliki yaumiddin iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, ihdinashshiraathal mustaqiim shiraathalladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdzuubi ‘alaihim, walaadhdhaaliin, amin (ini surat Al Fatihah). “

A = Serta penjelasan mistiknya ... saya sendiri pakai mantram di luar meditasi.

L = The mystical meanings of those prayers depend on your own understanding. Kalau saya sendiri memang banyak mengambil pengertian dari kabalah Yahudi, dan dari apa
yang saya pelajari, doa-doa di atas itu termasuk yang paling indah.

Sebenarnya bisa pakai mantram apa saja. Tapi, kalau bisa memakai suatu mantram yang Anda percayai memiliki khasiat besar untuk membantu diri sendiri dan orang lain, mengapa tidak? Menurut saya, lebih baik pakai mantram yang kita benar-benar percayai.

Untuk apa pakai Hare Khrisna kalau kita tidak percaya pada Khrisna? Untuk apa pakai doa Sai Baba kalau tidak percaya pada Sai Baba?

A = Jadi kalau konsentrasi pada pineal gland, apakah saya bayangkan pineal gland di tengah batok kepala di belakang tengah-tengah alis itu dalam wujud jasmaninya seperti kacang, atau berbentuk cahaya? Kalau berbentuk kacang secara jasmani, kira-kira warnanya apa, sih? Kemerah-merahan?

L = Saya gak pernah membayangkan pineal gland itu. Yang saya lakukan adalah merasakannya. Saya akan merasakan pusat kesadaran saya ada di pineal. Yang kemudian
terjadi adalah munculnya pure awareness. Aware of being aware. Itu saja.

A = Apa betul meditasi buddhis berkonsentrasi pada cakra jantung? Karena meditasi buddhist itu, kan, anapanasati (konsentrasi pada pernafasan alami di ujung hidung atau di perut) dan vipassana....

L = Meditasi buddhis memang konsentrasi pada pernafasan, tetapi setelah konsentrasi itu menjadi kebiasaan otomatis, akhirnya menetap di cakra jantung. Itu pengamatan saya sambil lalu saja, bukan berarti semuanya harus seperti itu.

Ada tambahan sedikit tentang meditasi pineal itu, yaitu tentang penyembuhan. Apabila Anda ingin membantu orang sakit dengan meditasi pineal, lakukanlah apa adanya saja. Cukup meditasi di depan atau samping orang itu, dan penyakit dari orang itu akan tertarik
masuk ke tubuh Anda melalui telapak tangan kiri Anda. Energi positif akan Anda alirkan melalui telapak tangan kanan Anda. Anda tidak perlu kuatir apabila kemudian Anda merasakan symptom orang yang sakit itu berpindah ke diri Anda. Teruskanlah bermeditasi sendiri sampai symptom itu hilang. It is that easy!

A = Pak Leo, apakah menempelkan lidah ke langit-langit dalam mulut digunakan sebagai penghubung aliran-aliran cakra seluruh tubuh?

L = Kelihatannya begitu, rasanya begitu, dan dipercayai seperti itu oleh kita yang telah tersentuh oleh metode meditasi buddhis yang mengajarkan untuk menempelkan lidah ke langit-langit mulut dalam meditasi. Pada pihak lain, mistisisme Barat (Kristen, Gnostic,
Hermetic, etc.) tidak peduli dengan lidah yang ditempelkan ke langit-langit dalam mulut. Mau ditempelin boleh, gak ditempelin juga boleh. Mistisisme Islam juga gak peduli dengan posisi lidah. Mistisisme Jawa juga gak peduli. Hasil akhirnya, toh, sama saja: we'll be aware of being aware.

Itu sama saja dengan kepercayaan tentang mata yang harus tidak tertutup sepenuhnya dalam meditasi. Tradisi Hindu mensyariatkan mata yang sedikit terbuka di ujungnya. Kelihatannya, dan rasanya memang lebih mudah untuk tetap konsentrasi dan tidak tertidur kalau mata sedikit terbuka. Pada pihak lain, mistisisme Barat tidak peduli dengan mata yang tertutup penuh, terbuka penuh, atau setengah tertutup dan setengah terbuka. Sama saja.

Begitu pula dengan postur meditasi. Ada postur duduk bersila dengan sikap lotus sempurna. Ada sikap setengah lotus. Ada bersila ala Jawa. Ada bersila ala Jepang. Ada duduk di atas kursi tanpa bersila. Apakah itu berpengaruh? Menurut yang fanatik dalam salah satu aliran, postur-postur itu berpengaruh. Sedangkan kita tahu bahwa semuanya itu tidak berpengaruh asalkan badan tetap tegak; asal tulang punggung sampai puncak kepala tetap tegak.

Jadi banyak juga variasi di sini. Repotnya, para penganut bermacam aliran dengan tradisi berbeda-beda itu banyak yang tidak mau mengakui validitas variasi itu. Mereka bilang bahwa pernak-pernik yang terdapat di dalam tradisi mereka yang valid. Di luar itu tidak
(kurang) valid. Padahal padha wae. Gak ada bedanya.

Termasuk variasi di sini adalah meditasi "jalan-jalan". Itu meditasi secara aktif dengan berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari. Kalau pernah dicoba, sebenarnya enak juga meditasi seperti itu asal tidak diajak bicara saja. Kita akan bisa jalan-jalan atau melakukan aktivitas biasa, tetapi pikiran akan "blank", kosong. Kosong total. Nah, kalau diajak bicara, kan, berarti tidak kosong lagi. Jadi, meditasi "jalan-jalan" yang (katanya) bisa sambil bicara ngalor-ngidul seperti yang Vincent lakukan, itu harus dipertanyakan.

Lebih tepat kalau meditasi "jalan-jalan" disebut sebagai meditasi "aktif" yang bersifat "on and off". Terkadang "on", terkadang "off". Nah, kalau jenis yang ini memang fasih saya lakukan. Saya bisa seperti itu berjam-jam waktu melayani orang yang konseling secara
nonstop menggunakan tarot maupun tidak. Tidak berpikir sama sekali, melainkan diam saja. Orang akan bertanya, dan saya akan jawab berdasarkan apa yang masuk seperti kilat di pikiran saya. Sama sekali tidak berpikir. Tapi meditasinya pasti bersifat "on and off". Tidak meditasi total, karena ada tanya-jawab dengan orang-orang lain juga. Itu pengertian saya.

Mungkin ada orang lain yang akan tetap menggolongkan aktivitas semacam yang saya lakukan itu sebagai meditasi juga, walaupun ada aktivitas tanya-jawab yang dilakukan. It's up to them, though.

A = Apakah Bapak merasakan atau melihat adanya bakat penyembuh pada diri saya?

L = Of course you have a talent to become a healer. As long as you could self-heal your body, you are a healer. At least you are a healer for yourself and, should you opt to extend yourself more, for other people as well.

A = Keadaan samadhi, apakah Bapak masih merasakan tubuh jasmani dan masih bisa mendengar sensori luar?

L = Bukankah samadhi yang tidak bisa merasakan tubuh jasmani dan tidak bisa mendengar suara apa pun dari luar adalah yang tidak bisa teringat lagi ketika kita
tidak dalam keadaan samadhi berikutnya? Bukankah itu seperti "deep sleep": kita tahu bahwa kita ada di sana, tetapi tidak bisa mendeskripsikannya. Tidak bisa mendeskripsikan bahwa di sana ada apa saja. Yang bisa saya tuliskan hanyalah pikiran yang kosong itu: thoughtless. Aware of being aware, without any thought at all. Itu yang bisa saya tuliskan karena itulah yang bisa dibawa ke dalam kegiatan sehari-hari. Bisa di-induce any time. Saya bisa "blank" anytime saya mau karena saya pernah mengalami "blank" dalam meditasi. It's my opinion only, though. Other people might have different views. Now, back to your question, my answer is yes, saya tetap merasakan tubuh jasmani dan masih bisa mendengar sensori luar bahkan dalam keadaan samadhi. Memang begitu, kok!


+++

7. BERTEMU LORD GANESHA DI DALAM VIHARA BUDDHIST

M = Mohan
L = Leo


M = Dear Sir, kemarin malam saya bermimpi, mungkin mimpi saya ini bukan apa-apa, tetapi saya hanya penasaran karena saya jarang sekali bermimpi.

Begini, rasanya saya melihat jalan yang sangat panjang seperti tidak ada ujung dan pangkalnya, terdapat dua dinding yang sangat tinggi di kanan dan kiri jalan itu (semacam gang/lorong yang sangat panjang), dan saya berjalan di jalan itu. Bersama saya juga terdapat banyak manusia lain yang juga sedang berjalan searah dengan tujuan saya, semuanya berjalan tidak bersuara (diam). Tiba-tiba dari arah belakang, datang mobil baja yang sangat besar dan memiliki lebar yang sama persis dengan gang/jalan yang saya lalui. Perlahan tapi pasti mobil itu menggilas semua orang yang ada di depannya. Seketika saya menjadi panik. Saya bingung bagaimana caranya agar bisa menghindar. Tiba-tiba, di sebelah kanan saya muncul sebuah pintu dan saya masuk ke pintu itu, maka saya selamat. Hanya saya yang masuk ke pintu itu, sehingga yang lain tidak selamat.

Kemudian saya merasakan hembusan angin yang sangat lembut dan sejuk dari arah dalam pintu itu. Saya pun mencoba untuk melihat ke arah angin itu, dan saya melihat sebuah vihara Buddha di situ. Sebagian hati saya ingin untuk sembayang di situ tapi sebagian hati saya yang lain merasa ragu (mungkin karena saya seorang Hindu dan itu adalah vihara Buddha). Tiba-tiba, entah dari mana muncul seorang perempuan dan berkata kepada saya: "Masuklah, gak apa-apa", kemudian saya jawab: "Saya gak pernah sembahyang di sini", dia menjawab: "Gak apa-apa sembahyang aja", kemudian perempuan itu menghilang.

Saya pun masuk ke vihara itu, dan saya melihat seorang Chinese sedang sembahyang yang di hadapannya saya lihat ada "vibuthi" yang tercampur dengan sisa-sisa dupa. Orang cina tersebut mengambil vibuthi itu tanpa membersihkannya dulu, kemudian saya membersihkan vibuthi itu dan menaruhnya ke kening saya, lalu saya masuk ke dalam. Saya mencari-cari Sang Buddha di dalam, tetapi yang saya temukan adalah Lord Ganesha. Saya merasa senang sekali hingga saya menangis (karena vihara adalah tempat Sang Buddha, tetapi saya menemukan Lord Ganesha yang saya puja di situ). Saya memujaNya seperti orang gila, mula-mula saya membisikkan mantram Ganesha dikakiNya sehingga kedua matanya terbuka, tetapi saya tidak puas, kemudian saya membisikkan mantram tersebut di mataNya, tetapi saya juga tidak puas, dan kemudian saya membacakan mantram tersebut ditelingaNya, lalu mimpi itu pun sirna. Dan saya kembali tenang dalam tidur saya....

Maaf, ya, Pak Leo, mimpinya panjang. Saya yakin ada sesuatu di balik mimpi itu, tetapi saya tidak mengerti itu apa. Saya mohon bantuan Bapak. Terima kasih sebelumnya....

L = Dear Mohan, what a wonderful vision! Itu suatu penglihatan yang luar biasa. Banyak yang berjalan di lorong kehidupan, tapi hanya sedikit yang dibukakan pintu. Mimpi itu begitu jelas artinya. Lord Ganesha is Buddha, dan Buddha is Lord Ganesha. Sama saja. Bahkan di dalam vihara, Anda akan menemukan Buddha sebagai Lord Ganesha. Dan di dalam a Hindu temple, seorang buddhist akan menemukan Buddha. What's the difference?

In essence, Buddha is Ganesha, dan Ganesha is Buddha. Sama saja. Semua itu simbol-simbol belaka untuk communicate sesuatu yang very essential. The essence is the spirit of God. Dan itu bisa mengambil bentuk macam-macam simbol seperti Buddha, Ganesha, Shiva, ... Jesus, Saint Mary, macam-macam simbol untuk communicate essence yang sama. I'm glad you did write. Well, ... by the way, I did see Ganesha in my vision. Beberapa tahun yang lalu, ketika sedang meditasi, tiba-tiba Ganesha muncul di hadapan saya. Itu vision saya yang pertama ketika meditasi. Setelah itu muncul vision-vision yang lain, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Dewi Kuan Im (Bodhisatva Avalokitesvara), dan lain-lainnya. Tapi, yang pertama kali muncul di vision saya ketika meditasi itu memang Lord Ganesha. Very serene, very soothing, ... calmed. He is part of you, and you are part of Him.


+++

8. KITA MENJADI INKARNASI SHIVA

N = Nyoman
L = Leo


N = Met siang, Pak Leo!

L = Siang Mas Nyoman, apa kabarnya?

N = Baik, Pak. Pak Leo, gimana? Sibuk???

L = Gak juga, baru on line, lagi baca e-mails.

N = Boleh tanya? Beberapa hari lalu setelah kita chat, malemnya saya mimpi di atas kepala saya ada untaian batu permata warna-warni, trus bisa time travel kayak siapa, tuh, yang di milis, tapi dengan bantuan batu yang warna merah. Artinya apa, ya, Pak?

L = Seperti Mbak Indri yang bisa "time travel". Kalau Anda, Mas Nyoman ... well batu-batu permata yang Anda lihat ada di atas kepala Anda itu adalah simbol dari reinkarnasi-reinkarnasi Anda. Simbol dari jiwa-jiwa Anda yang telah ada dan akan ada. Tiap batu permata merupakan simbol dari satu jiwa. Dan itu jiwa Anda juga.

Ada banyak batu permata yang berbeda-beda warnanya. Artinya, Anda telah menjadi bermacam-macam orang dengan bermacam karakter maupun pembawaan. Setiap batu
permata berwarna itu merupakan simbol dari satu diri Anda.

Dan di mimpi itu Anda diperlihatkan mampu untuk memasuki alam kesadaran tinggi dengan bantuan satu batu permata berwarna merah. Hmmm hmmm hmmm.... Menurut aku, warna merah itu simbol dari kekuatan feminin. Itu diri Anda yang memiliki energi feminin. Jiwa Anda yang ikhlas dan pasrah.

Ikhlas dan pasrah itu feminin, Mas. Kita semua naik ke "atas" dengan sikap ikhlas dan pasrah, ... dan memang benar itu feminin. Kita itu semuanya yoni. Kalau kita menjadi yoni, maka Sang Hyang Tunggal bisa turun dan masuk ke dalam yoni itu. Jadinya, kan, “manunggaling kawula-Gusti” juga.

Karena kita menjadi feminin, dan roh Yang Esa itu maskulin ... maka terjadi manunggaling kawula-Gusti. Dalam metafisika Barat disebut sebagai union with God. Yang pakai pengertian Islami menyebutnya, antara lain, sebagai makrifatullah. Nah, pengertian-pengertian itu intinya, kan, semuanya sama: manunggaling kawula-Gusti, union with God, makrifatullah.

Setelah itu, mau "time travel" atau mau "no travel" at all juga tidak akan berpengaruh. Setelah Anda bisa experience manunggaling itu, segala "time travel", segala pengalaman yang disebut “wah” atau supranatural itu cuma bonus belaka.

Mereka itu bonus belaka dan bukan yang pokok. Pokoknya itu kita menjadi Shiva incarnated. Kita menjadi inkarnasi Shiva yang hidup di mayapada dan memberikan contoh bagaimana a person could become whole.

Wholeness itu yang dicari, kan? Dan bukannya segala kasekten itu, kan? Well, kesaktian or whatever phenomena itu memang ada, dan cuma pernak-pernik belaka. Being one with God is the main thing. And nothing else could replace it. Gak ada yang bisa menggantikan genuine and real experience of being united with God.

Dan itu merupakan ekspektasi, ... harapan dari semua manusia. Metodenya itu macam-macam. Ada yang lewat yadnya, ada yang lewat bhakti. Ada yang lewat yoga, tantra, ... ada yang wirid, zikir, novena, ... atau menjadi fakir semacam para swami di India itu juga ada. Ada yang kontemplasi terus seperti para rahib Katholik yang memilih hidup di biara. Ada yang seperti itu.

Tetapi ada juga yang biasa-biasa saja, dan even that ... tidak menghalangi untuk manunggaling juga, kalau waktunya sudah sampai. Dan Anda diperlihatkan itu melalui mimpi. Ada "batu merah" yang bisa Anda pakai untuk "naik" ke atas. Untuk "masuk" ke dalam diri Anda sendiri itu. God is within you.

Gak perlu jauh-jauh memang, cukup masuk ke dalam diri Anda sendiri saja. And you'll find God there. You'll be united with God there. Inside you. Within you.

N = Ok thanks, tapi kenapa, ya, petunjuk atau hal-hal seperti itu datangnya mesti lewat mimpi, ya, Pak? Kenapa nggak bisa saat tersadar/terjaga, ya? Paling yang saya alami waktu terjaga biasanya saat sembahyang, merasa tubuh ini kayak berputar putar; itu aja, belum bisa akses kali, ya?

L = Well, jangan dipikirin, Mas. Aku ini juga begitu. Di aku, hampir semua pengertian itu munculnya lewat mimpi. Nah, jadi harus ada yang muncul dulu di mimpi. Aku harus merasa ada yang muncul dahulu.... Lalu, biasanya akan ada kejadian-kejadian yang membuat aku ingat kembali akan mimpi itu. Nah, pada waktu ingat mimpi itu ... biasanya, saat itulah muncul pengertian logis dari apa yang sebenarnya sudah diberikan melalui penglihatan di dalam mimpi sebelumnya.

Kalau langsung mengerti dalam keadaan melek total, biasanya memang susah, Mas. Kita itu kalau melek total, bawaannya maunya mikir saja. Dan kalau dipikirkan, siapa yang sanggup? Aku, kan, kalau bicara itu langsung, tanpa berpikir. Kalau aku harus berpikir, mana sanggup? So, memang kita harus mengandalkan yang ada di dalam diri kita itu. Yang memang memiliki kemampuan lebih itu. Hmmm … itu mata ketiga atau mata Shiva yang ada di diri kita itu.


+++

9. ELING LAN WASPADA (AWARE AND ALERT)

M = Manto
L = Leo


M = Sugeng sonten! Menjalankan kebaikan dan tidak menyakiti makhluk hidup, apakah itu sudah cukup?

L = Sudah cukup bagi orang kebanyakan. That's enough for most people. Tapi ada sebagian orang yang ambisius. Sidharta Gautama yang akhirnya menjadi Buddha itu ambisius sekali. Gak mau dia itu cukup makan dan cukup pakaian. Gak mau dia itu cuma semata berbuat baik dan menghindari kejahatan saja. Sidharta Gautama itu ingin mencari God.

M = Pengen juga … puasa sampe kurus kering, ya, Mas?

L = Lalu dia tapa segala macam, berguru segala macam ... sampai akhirnya putus asa karena tidak berhasil mencapai apa yang dicarinya. Lalu dia akhirnya tertidur di bawah pohon boddhi. Capek meditasi. Tertidur aja. Pas bangun, dia melek dan tercerahkan. Dibilang sebagai mencapai pencerahan. Ternyata yang namanya pencerahan itu gak perlu dicari lagi karena memang sudah ada. You are it. It is you.

M = Nah itu, lhoh, keren banget, gak dicari malah ada.

L = Ternyata padha wae, sami mawon. The same. As it is above, so it is below. Yang di atas sama dengan yang di bawah. Yang di bawah sama dengan yang di atas. Buwana ageng is the same as buwana alit, and vice versa, ... hmmm hmmm hmmm.

So, in the end, the answer is yes. Memang berbuat baik dan tidak menyakiti itu cukup untuk semua orang. Tetapi, kita harus melewati tahap di mana kita bilang bahwa itu tidak cukup.

Kita musti mengalami jatuh bangun ketika mengejar yang di atas itu ke sana kemari. Sakit, ya, sakit. Jatuh, ya, jatuh. Bangun lagi, jalan lagi, lari lagi.

M = hmmmm, begitu, yaa….

L = Sampai akhirnya kita tahu bahwa kita tidak perlu mencari-cari. Dan akhirnya kita kembali ke pertanyaan pertama: "Apakah berbuat baik dan tidak menyakiti itu cukup?"

Kalau pertama kali ditanya kita bilang tidak cukup. Maka setelah jatuh bangun itu akhirnya kita bilang.... Well, apa lagi? Kita akan bilang: "cukup." Itu ternyata cukup. Tapi setelah semuanya itu dijalani. Hmmm hmmm hmmm.

M = Yaaa, yaaa ... padahal kebaikan yang kita lakukan belum tentu baik buat yang lain, ya ... hmmm, ya, kalau capek, ya, tidur aja … gak perlu meditasilah, ngantuk.

L = Well, it's actually a philosophical question. The answer is yes. Ya, tidur is meditasi. Namanya meditasi tidur. Zrrrr Zrrrr Zrrrrr….

M = Ha ha ha….

L = Iyalah. Kan, katanya kita itu always meditasi. Gak perlu duduk diam, tapi selalu meditasi. Selalu eling. Berarti, tidur juga meditasi, kan? Zrrr Zrrr Zrrrrrrr….

M = Iya, yaaa, fokus dengan apa yang di sekitar kita.

L = Fokus sekaligus gak fokus. Bahasa Inggrisnya itu alert. Alert means ... apa, ya, bahasa Indonesianya? Tanggap tapi rileks. Eling, alert, .... waspada. That's the word waspada. Waspada itu alert. Eling lan waspada artinya aware dan alert.

M = Tercerahkan sama belum tercerahkan, sebenernya apa yang membedakan?

L = Yang membedakan itu kata "belum". Yang satu gak pake kata "belum", yang satunya lagi, pake.

M = Apakah yang belum tercerahkan tidak tahu akan kebaikan?

L = Yang belum tercerahkan itu tidak tahu bahwa kata "belum" itu bisa di-delete. Caranya, ya, delete saja.

M = Apakah yang tercerahkan itu yang bisa buat mukjizat?

L = Yang tercerahkan itu tidak bisa buat mukjizat. Yang tercerahkan bisanya tutup mata karena yang terlihat terlalu cerah....


+++

10. KEPADA MEREKA SEMUA YANG MINTA, BAGIKANLAH!

Y = Yohanes
L = Leo


Y = Salam, Pak Leo…. Saya Yohanes. Saya kira-kira awal agustus 2007 pindah ke rumah baru. Semenjak itu, aktivitas doa saya meningkat tajam dan begitu juga dengan kepasrahan dan penyerahan. Kira-kira pertengahan September saya mendapat anugerah ketika saya berada di gereja….

Menurut penglihatan tante saya yang memang mempunyai kelebihan mampu melihat hal-hal yang tak terlihat, saya mendapat satu anak kunci dan sekaligus satu tabernakel di punggung saya.

Setelah itu, malam-malam berikutnya setiap saya berdoa rosario semakin banyak anugerah datang ... ada pedang, ada perisai, ada mahkota duri, ada tongkat,
ada jubah ... tapi, tiap malam hanya ada 1 benda….

L = Did you "see" the "gifts" yourself ?

Y = Nah, itulah masalahnya, ada beberapa gift yang bisa saya lihat dan rasakan. Pedang, perisai, dan mahkota duri saya bisa rasakan. Pedang dan perisai bisa saya lihat. Oh, ya, gift yang belum saya sebutkan adalah satu salib besar plus armor seperti baju perang
ksatria salib….

L = Well ... aku melihat sampeyan ini orang yang lebih balanced dibandingkan dengan kebanyakan orang. Lebih seimbang dalam arti kata bisa sebanding antara otak kiri dan otak kanan. Aku lihat sampeyan ini akan menjadi orang yang akan membuka mata mereka yang masih superstitious (percaya takhayul). Sampeyan akan bisa menerangkan bahwa apa yang kita alami itu sebenarnya merupakan hal-hal yang lumrah dan wajar saja sehingga tidak perlu dianggap sebagai hal-hal yang "wah".

Bahwa yang muncul di diri kita itu adalah imbol-simbol belaka yang perlu interpretasi. Perlu diuraikan dengan kata-kata yang bisa dimengerti oleh masyarakat luas. Dan artinya itu tidak eksklusif, tetapi universal.

Memang simbol-simbol yang muncul itu bentuknya unik, tergantung dari background budaya di mana kita berasal. Dan itu berbeda di diri setiap orang. Jadi, simbol yang berbeda bisa muncul di orang yang berbeda.

On the other hand, makna dari simbol itu bisa sama. Bisa sama karena yang ingin dikomunikasikan oleh roh kita yang lebih tinggi itu sebenarnya merupakan pengertian universal yang berlaku bagi semua manusia.

Tetapi, karena kita manusia yang menggunakan bahasa, maka message yang disampaikan oleh roh kita yang lebih tinggi itu juga harus mengunakan bahasa. Dan bahasa yang digunakan itu adalah bahasa yang kita mengerti, yang sesuai dengan bacground kita masing-masing yang memang berbeda. So, digunakanlah bahasa simbol.

Bahasa simbol itu merupakan bahasa piktoral. Berupa gambar-gambar. Nah, gambar-gambar yang muncul di diri Anda itu adalah simbol-simbol. Mereka itu memiliki arti. Arti itu harus diuraikan lagi. Harus diinterpretasikan kembali.

You got definitely Christian symbols. Tetapi, apakah itu berlaku untuk yang Kristen dan Katholik saja? Tentu saja tidak. Itu berlaku untuk semua. But, because your bacground is Christian, makanya simbol-simbolnya itu, bahasanya itu, menggunakan imagery yang diambil dari khazanah Kristiani.

Semuanya bekerja berdasarkan prinsip seperti itu, Mas. Jadi, yang berlatar belakang Hindu Bali akan memeroleh penglihatan dengan arti sama tapi dengan simbol-simbol
yang bentuknya berbeda. Message bisa sama, tetapi bentuk simbol berbeda. Yang berlatar belakang agama dan kebiasaan berbeda akan memeroleh penglihatan berupa simbol yang lain lagi, walaupun esensi atau makna dari simbol-simbol yang berbeda itu berarti sama. Yang esensial itu selalu sama, yang berbeda itu cuma cara membungkusnya saja. Nah, simbol-simbol itu adalah bungkusnya.

Y = Oh, okay … memang sampai saat ini saya belum bisa memahami sepenuhnya arti dari masing-masing simbol itu.

L = Ok, simbol yang pertama aku artikan sekarang. Sampeyan memeroleh "kunci" dan "tabernakel" ketika ada di gereja itu, kan?

Y = Yup … bener, Pak….

L = Kunci itu untuk membuka tabernakel. Tabernakel itu tempat menyimpan hosti, atau tubuh Kristus yang telah disucikan. Anda memegang kuncinya.

Y = Yup ... kunci tabernakelnya ada di tangan kanan saya, tabernakel di belakang saya….

L = Anda bisa membuka tabernakel itu setiap saat, mengambil hosti itu, dan membagikannya kepada yang memintanya dari Anda. Itu artinya. Hmmm hmmm hmmm.... Itu yang utama, Mas. You are a priest of God. Just do it. Jalanilah lakon itu.

Y = Okay….

L = Pedang itu simbol dari firman Allah. Ucapkanlah apa yang masuk ke dalam pikiran Anda, ucapan yang Anda keluarkan itu akan berlaku seperti pedang. "The Word of God is sharp like a two-edged sword.... Firman Allah itu tajam seperti pedang bermata dua".

Y = Oh, okay….

L = Perisai, mahkota duri, jubah, dan tongkat merupakan simbol-simbol tambahan. Perisai itu pelindung. Jadi gak bisa disantet. Hmmm hmmm hmmm.… Mahkota duri itu mahlota Yesus. Itu simbol iklas dan pasrah. Ikhlas dan pasrah itu mahkota duri. Pakai saja itu. Wear it all the time. Jubah itu cuma perangkat untuk berbicara di depan "umat" atau orang banyak. Kalau tongkat, ... aku lihat itu seperti tongkat yang ujungnya berkelok ke dalam, seperti tongkat uskup. Itu untuk "upacara" saja.

Aku lihat, dari simbol-simbol itu, yang utama adalah kunci dan tabernakel. Buka saja tabernakel itu, ambil isinya dan bagikan kepada semua orang dari dalam gereja, dan
dari luar gereja.... Kepada mereka semua yang minta, bagikanlah! Bagikanlah. Itu pesan dari anak domba Allah. Anak domba Allah tidak mau dikubur di dalam kotak di dalam gedung-gedung gereja. Harus dibuka pakai kunci itu, harus diambil hosti itu, dan dibagikan kepada orang-orang yang ada di jalan-jalan itu. Itu yang utama.... Nice talking with you today, I have to sign out now, till next time, bay bay!!!


+++

11. TRANSPERSONAL IS PENDEKATAN LINTAS AGAMA

M = Martinus
L = Leo


M = Ax dominus semper vobis cum.... Salam kenal, Pak Leo. Perkenalkan nama saya Martinus, saya asli Jawa Timur. Namun saat ini saya sedang melanjutkan studi saya untuk menjadi calon pastor. Saya sangat tertarik dengan psikologi transpersonal
dan saya ingin sedikit memelajarinya. Terlebih untuk kehidupan olah rohani saya. Saya merasa itu sangat bermanfaat bagi perkembangan hidup saya di kemudian hari.

Ada yang ingin saya tanyakan pada Pak Leo…. Pak, apakah mata ketiga itu sama dengan mata hati? Saat berdoa saya hanya menyadari bahwa mata itu saya rasakan ada di dada saya. Bukan tepat di antara kedua alis. Ketika saya mencoba hal itu, berdoa dengan memusatkan pikiran di tengah kedua mata, saya justru sulit berdoa. Bagaimana dengan hal ini, Pak Leo?

Saya bersyukur karena setelah retret kemarin, saya merasa diperbaharui hidup saya, terutama dalam hal doa. Saya mulai menyadari adanya roh kudus dalam diri saya. Saya mulai menyadari bahwa Yesus selalu ada dalam diri saya.

Namun, setelah retret itu, saya bermimpi. Kejadiannya saat siang hari pukul setengah 3. Saya mimpi didatangi oleh dua orang laki-laki. Dia membawa map dan masuk ke dalam rumah saya. Dan menyebut nama saya. Setelah hal itu, tiba-tiba saya terbangun dan mengalami guncangan hebat seperti gempa; saya mendengar suara hujan, orang ribut. Badan saya pun tak bisa bergerak. Kenapa, Pak Leo…?

Pak Leo bagaimana dengan bahasa roh menurut pendapat Pak Leo? Bagaimana orang bisa mengalami itu? Kadang dalam doa, mulut saya pun juga berkata-kata dalam bahasa yang tidak saya mengerti, dan itu sulit untuk ditolak!

Waduh, jadi banyak pertanyaan, Pak Leo. Hanya itu saja, Pak Leo. Saya ingin mengenal Pak Leo lebih jauh! Sekian, Pak Leo! Tuhan memberkati!

L = Dear Mas Martinus, thanks for sharing. I'm glad to hear that you are a calon pastor even though, I believe, it's still a long way until kaul seumur hidup. Dijalani saja, yah ... to get married or not to get married is not the issue. Itu bukan kata aku, melainkan kata Santo Paulus. Hmmm hmmm hmmm ... yang penting adalah kesucian batin which is the mind of Christ (alam pikiran Kristus). Bagaimana sehingga the mind of Christ akhirnya tercipta di our minds is the issue. Itulah yang menjadi ajang pergumulan Santo Paulus. On the other hand, Santo Paulus juga bilang bahwa kita semua itu santa dan santo (saints, dalam bahasa Inggris). Saint means orang suci, in this case, orang yang disucikan. Oleh apa? By the blood of Christ. Disucikan, dibuang segala yang najis itu untuk akhirnya ... hopefully and prayerfully the mind of christ itu tercipta di dalam alam pikiran kita. Sehingga Kristus sendiri yang hidup di diri kita. Kita semua adalah tubuh Kristus. Kenapa disebut tubuh Kristus? Well, karena pikiran Kristus juga ada di diri kita. Itu uraian teologis versi saya sendiri yang, udah jelas, beda dari ajaran gereja Katholik Roma, hmmm hmmm hmmm ... en kalo zaman dulu mungkin saya sudah di eks-komunikasikan oleh GRK. Tapi ini, kan, zaman modern, jadi paling jauh di-ban sazzah, dan itu sudah terlaksana dengan sempurna di milis Api Katholik, hmmm hmmm hmmm....

Well, I'm glad you did write, Mas Martinus. Psikologi transpersonal itu, kan, juga cuma istilah saja. Itu artinya bahwa kita menggunakan segala apa yang merupakan fitrah kita sebagai manusia hidup yang rohaniah. Kita bisa berkomunikasi secara vertikal ke atas (dengan yang illahiah), maupun vertikal ke bawah (dengan dunia mineral). Kita juga bisa berkomunikasi secara horizontal (dengan sesama manusia). That's very common, tetapi transpersonal itu memang menggunakan pengertian-pengertian psikologi dan berbagai pendekatan spiritual (dengan berbagai istilah dan nama seperti reiki, kundalini, meditasi, visualisasi, transfer energi, dsb.). Tujuannya adalah kesehatan jiwa. Kita mau sehat, kan? Semuanya mau, dan itu dalam pengertian transpersonal berarti sehat walafiat. Secara fisik, secara mental, secara emosional, dan secara spiritual. Apa pun asalnya, apabila suatu pengertian dan praktik itu ternyata baik, maka itu bisa dipakai. In the end, jadinya, kan, merupakan pendekatan lintas agama juga. Kalau kita konsekuen menggunakan pendekatan psikologi transpersonal, jadinya akan lintas agama juga. Kita akan mengerti bahwa agama-agama itu semuanya metode-metode belaka. Metode untuk menuju kesehatan jiwa, not with standing the stories about heaven and hell yang cukuplah kita percayai sewaktu kita kanak-anak belaka.

Aku cuma mau menambahkan bahwa memang pengertian cakra-cakra itu berasal dari India, walaupun ada paralelnya dalam pemahaman Judeo-Christian. Di Barat, kebanyakan spiritualitas itu dikultivasi dengan kontemplasi; ingat buku Thomas a Kempis (the Imitation of Christ) ... itu semuanya kontemplasi. Bahkan tulisan-tulisan Madame Guyon dan orang-orang spiritual di masa lalu di Eropa yang tulisan-tulisannya di-ban dengan gembira ria oleh gereja Roma Katholik itu semuanya mengutamakan kontemplasi, dan kontemplasi itu memang di cakra jantung. Jadinya hati itu akan penuh welas asih. Tetapi, ... in the end, semuanya akan naik ke cakra mata ketiga which uses intuisi (datang sendiri tanpa melalui panca indra). Akan muncul pengertian-pengertian begitu saja. Akan muncul wisdom (kearifan), akan muncul knowledge (pengetahuan), dan sebagainya itu, yang datang dari mata ketiga. Nah, mata ketiga itu tempat bertakhtanya roh kudus di diri manusia.

You remember hari pantekosta yang pertama ketika roh kudus itu turun di Yerusalem ke atas para rasul dan murid Yesus, ingat itu, 40 hari setelah kenaikan Yesus ke surga ... ketika roh kudus turun ke atas kepala para murid yang bertekun dalam doa di Yerusalem. Apa yang muncul? Apa yang terlihat? Apa yang dirasakan? Hmmm hmmm hmmm.... Injil menceritakan dengan detail ketika lidah-lidah api itu turun dan hinggap di dahi para murid itu. Itu lidah-lidah api, saudaraku, dan itu di cakra mata ketiga. Dan itu simbol dari roh kudus. Ya, roh kudus itu di cakra mata ketiga walaupun "buntutnya" ada di jantung. Kepalanya itu di cakra mata ketiga (pineal, God spot), dan buntutnya itu di jantung.

Tentang penglihatan sampeyan mengenai "dua orang laki-laki yang membawa map", hmmm hmmm hmmm ... itu, kan, paggilan jiwa Anda sendiri. You'll know later, you'll know later what it means. Mereka itu membawa energi ... well, your kundalini itu terbuka langsung saat itu pula. It just came up to my mind. Itu pembukaan kundalini spontan, Mas. Kundalini Anda sudah terbuka, gunakan saja untuk penyembuhan setelah nanti Anda stabil. Akan ada sakit-sakit sebentar sebelum Anda stabil. Setelah stabil, gunakanlah, itu saja yang aku bisa katakan. Isn't it wonderful? That's one of the gifts of the holy spirit. Menurut aku begitu, walaupun kundalini tidak disebutkan secara spesifik di dalam Injil.

Tentang bahasa roh yang dikenal sekarang, dan dipraktikkan oleh orang-orang Karismatik itu ... barangkali sebaiknya aku gak omongin lagi. Aku ini merasa sudah terlalu banyak mengecam orang-orang Karismatik yang keterlaluan itu ... apalagi pendeta-pendetanya yang suka jual ayat itu. Ngapain ayat-ayat dijualin. Itu gratis, kok. Tinggal baca aja, kok. Tinggal terapin aja, kok.... On the other hand, memang ada karunia-karunia roh yang asli. Itu ada, Mas. I know, itu ada. Tetapi kita harus menggunakan intuisi yang datang dari mata ketiga kita. Kita harus tes dahulu, apa benar dari roh kudus. Itu, kan, caranya … kalau ada yang klaim bahwa itu roh kudus, kita harus tes apa itu benar dari roh kudus. Dan caranya dengan melihat buah-buah roh kudus. Apakah ada buah roh di diri orang itu. Kalau ada, berarti itu genuine. Kalau ternyata gak ada, kalau ternyata merasa benar sendiri dan mengkafir-kafirkan members dari gereja lain, berarti itu buah roh yang lain lagi. In that case, buah dari roh orang itu sendiri which has to be ignored. Biarin aja, ntar di api pencucian mereka bakal disuruh hapalin Perjanjian Baru, hmmm hmmm hmmm.... hapal yang bener, yah, kata malaikat. Jangan diputerbalikkan lagi kayak waktu dikasih kesempatan di dunia. En, pada saat itu, Santo Petrus bakal pegang kunci surga dengan erat-erat. Orang-orang Karismatik itu dikenal suka maen duit, so Santo Petrus bakal tutup mata, gak mao disogok dia. Emangnya gw pendeta Karismatik, kata Santo Petrus. Gw ini batu karang tempat berdirinya gereja Tuhan. Well, the batu karang is Peter's statement that you are the son of the living God. That's the batu karang, and Peter said it to Jesus. Now, Jesus says the same to us all: “You are the sons and daughters of the living God!” (Leo)


+++

12. NAMANYA KONTAK BATIN, EMPATI

N = Nasrullah
L = Leo


N = Met siang, Mas ... apa kabar?

L = Siang, Mas Nasrullah, aku baik-baik aja, en you?

N = Baik-baik aja, Mas ... sehat walafiat. Mas ... tanya dikit, ya? Saya kemaren kena, kata orang, “rep-rep” ... trus saya ikutin aja seperti ada pusaran energi ke atas rasanya fly away, jauh gitu, gak tahu ke mana dan di mana ... dan bangun pagi badanku seger, trus feel good aja … itu apa, ya, Mas?

L = Hmmm, masuk ke "dimensi lain"... Itu dimensi nir ruang dan waktu di mana energi-energi untuk dimensi kita ini berasal. Itu menurut aku.

N = But saya gak inget, keinget bentar tapi susah jelasinnya.

L = Hmmm, seperti melihat "terowongan", terus ada cahaya-cahaya berkilatan di kiri- kanan terowongan. Itu biasanya yang dialami. Itu jalan masuknya. Kalau itu diikuti dengan sadar, maka kita akan masuk dimensi lain dengan full awareness.

Lucunya di dimensi lain itu, apa yang kita pikirkan langsung terwujud. Itu, kan, aneh. Tapi, it's true. Aku berkali-kali mengalami hal itu. Cuma, memang kadang-kadang bisa langsung jatuh tertidur. So, the trick is supaya tetap fully alert dan gak jatuh tertidur.

N = Saya sempat sadar waktu tidur itu dan pengen ikutin aja ... hm, langsung terwujud maksudnya apa, Mas? Cause setelah melalui itu saya melihat istri saya di rumah sendirian, itu aja….

L = Berarti you did experience melihat dari jarak jauh. Itu penglihatan, yah ... bisa juga begitu.

N = Hm … iya, yaa….

L = Banyaklah jenisnya, dari rep-repan itu banyak yang bisa terjadi. Terkadang bisa mendengar simfoni. Full orchestra, very beautiful. Terkadang bisa melihat pemandangan indah. Terkadang mendengar suara-suara. Dan juga terkadang bisa memeroleh penglihatan-penglihatan, macam-macamlah. Aku sendiri biasanya enjoy saja kalau lagi muncul, kalau gak muncul, ya, gak dicari juga.

N = Saya banyak mendengar suara-suara … tapi gak inget lagi, Mas ... itu yang bikin nyesel. Kok, gak inget, yaaaa?

L = Hmmm ... patokannya, kalo gak bisa inget, berarti gak penting. Kalo inget, berarti penting. Kalo ada pesan yang penting untuk kita, biarpun sensasi yang dirasakan kecil saja, pasti tetap teringat.

N = Hm … gitu, ya, Mas. Memang pas waktu itu istriku mimpi tentang diriku (saat ini kami masih berjauhan karena kerjaan).

L = Berarti itu kontak batin, yah. Semacam telepati juga. Komunikasi tanpa alat komunikasi which is very normal. Kita ini, kan, roh. Jadi bisa komunikasi tanpa alat.

N = Hm ... saya dengan istri sejak pacaran dah sering kalo kita SMS bareng dalam waktu bersamaan, saling call dalam waktu yang sama ... hm, lucu juga ... kadang saya suka merasa, misal ada temen mo datang or ada sesuatu bakal terjadi sebelumnya, kadang saya bisa merasakannya.

L = Memang gitu. Lha, aku juga suka gitu. Namanya kontak batin, empati. Bisa juga disebut precognition (mengetahui sesuatu sebelumnya tanpa melalui panca indra), terkadang disebut deja vu juga.

N = Ya, ya ... wheleh makin sip, deh … he he he. Mas, kembali ke soal mimpi itu, kalo kita bermimpi itu merupakan simbol dari/tentang diri kita?

L = Mimpi-mimpi itu jenisnya macam-macam, Mas. Ada yang release hormon saja, release stress saja. Dan ada simbol-simbol yang merupakan pengertian-pengertian spiritual yang ditujukan untuk kita pribadi.

Ada juga mimpi berupa peringatan-peringatan. Ada juga berupa amanat untuk kita jalankan. Jenisnya macam-macam, ... dan kita akan mengerti artinya. Mengerti dengan sendirinya kalau kita aware dan berusaha mengartikannya.

Aku sendiri gak pernah nanya arti mimpi ke siapa pun. Aku berusaha untuk menafsirkannya sendiri. Memang trial and error juga. Tapi kalo gak mao trial and
error, mau belajar dari mana lagi?

N = Hm, kalo bisa tau itu maknanya gimana caranya, Mas? Saya pernah mimpi, sepertinya ada orang Jawa tua pake blangkon di belakang saya, meniup tengkuk belakang punggung. Itu aneh bagi saya.

L = That's your "ancestor", memberikan "energi" untuk berjalan. Itu, kan, simbol saja. Your ancestor itu, kan, dari Jawa, ... gak tau gimana, kok, aku merasa juga begitu. Tengkuk itu tulang belakang which is kundalini. Energi-energi dari bumi, something like that.

N = Wheleh, merinding lagi, neh ... apa ada kaitannya dengan pesan untuk masa datang, nih, Mas?

L = Masa datang, you might have works to do di Jawa. Rasanya seperti itu.

N = Hi hi hi … iya, ya ... saya memang rencana mo pindah ke Jakarta … kumpul sama istriku. Ada kaitan dengan higher self gak, yaa?

L = Ya, ada juga. Yang muncul di mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan itu, kan, your own higher self. Di Jawa bisa dibilang "leluhur", orang Barat bilang "angels". Yang agak ilmiah seperti Carl Gustav Jung bilang, itu namanya "higher self". Artinya sama, ada sesuatu yang lebih tinggi kerohaniannya yang membimbing kita untuk menjalani misi dalam hidup ini.

N = Hm … saya memang sekarang lagi mencari jati diri saya, nih….

L = Ikuti saja, semuanya itu bergerak seperti jigsaw puzzle. Munculnya satu demi satu. In the end, semuanya lengkap.

N = In the end itu kapan, yaaa ... saya merasa bakal ada perubahan besar akan terjadi entah dalam diri, lingkungan, or negeri ini. Hm … kalo itu terjadi, saya cuma pengen selamet aja sampe ke tujuan.

L = Amin.

N = Amin. Sekali lagi, makasih banget atas advice-nya....

L = Sure, you're welcome, till next time, take care, bay bay!!!

N = U too ... bye bye…!


+++

13. AKU GAK PERNAH MIKIRIN TENTANG NGITUNG HARI

A = Arya
L = Leo


A = Siang, Mas. Mas, Gunung Kelud itu menurut sampeyan gimana? Mau meletus aja, kok, susah. Denger dari rumpian orang-orang, sih, ada tarik ulur antara "penunggu" di sana dengan para sesepuh di Blitar, dan ada kaitannya dengan Ratu Pantai Selatan. Kemaren pas lebaran, untung aja aku nekat pulang. Kalo gak nekat, gak bisa ketemu ama saudara.

L = Gak usah dipikirin, ... just be yourself. Kalo memang ada hubungannya dengan kita, pasti kita langsung merasa sendiri, tanpa perlu ikutin orang-orang yang ngerumpi itu.

A = He he ... males mikirin, ya, sampe-sampe tim vulkanologi dibuat pusing.

L = Hmmm….

A = Aku lagi males, nih, Mas, tiga malem begadang kerja ... so, sekarang lagi nge-blank, gak ada yang ditanyain ke Om Leo.... Hari/pasaran itu ada rahasianya gak, Mas? Kalo di Jawa dan kejawen, kan, ada itungannya, tuh. Di Islam, yang aku dapet dari guruku yang dulu juga ada.… Kadang untuk melakukan sesuatu, sedikit ada keraguan, karena udah telanjur terbentuk belief system di pikiran aku.

L = Well, aku gak pernah mikirin tentang ngitung hari. Yang aku tahu, memang ada saat pas, dan ada saat gak pas. Tapi aku ini gak pake ngitung, melainkan mengikuti intuisi. Aku ikutin intuisi. Kalo intuisiku bilang ok, maka aku jalan. Kalo merasa belum ok, maka aku tunda. Begitu caraku yang benernya lebih simple daripada harus ngitung hari which is very complicated.

A = Iya, lebih simple gitu, sih, Mas, kalo intuisi dah kuat kayak Mas. Kalo orang-orang yang belum tau intuisi, jadinya pake cara ngitung hari. Dulu pas mau akad nikah, untuk penentuan hari aku berdoa sendiri dan dapet petunjuk lewat mimpi jelas sekali. Tapi sama guruku sedikit ditentang, karena harinya jatuh hari sabtu. Di sisi lain, mertuaku yang basiknya kejawen, malah mendukung aku, karena menurut itungan beberapa orang tua, hari yang aku dapet, sudah tepat sekali dalam hitungan Jawa.

L = Well, diterapkan sedikit demi sedikit aja, Mas. Aku sendiri memang sengaja gak mao liat primbon. Aku gak mao itu menjadi sugesti sehinggga jadi tergantung. We have to depend on our mata ketiga only dan bukan on primbon.

A = Iya, itu, Mas … aku juga mau menghilangkan sugesti itu.

L = Pakai doa saja, meditasi, wirid, tirakat, ... nanti hilang sendiri. Hilang sendiri seperti apa yang kita percayai di masa kecil dan tidak lagi kita percayai sekarang.

A = Nah, masalahnya wirid yang aku dapet dari guruku ada sedikit pantangan untuk memulainya, Mas, misalnya hari ini, kan, malem Selasa, Mas … karena tadi malem aku gak wirid, berarti harus memulai lagi. Dengan kata lain, nanti malem gak bisa wirid.

L = Hmmm … you have to decide yourself about that. Kalo aku pribadi memang sudah meninggalkan segala pantangan yang aku anggap nggak masuk akal itu. So, you have to decide yourself about that.

A = Kalo gitu, aku pake aja dulu syariat yang sudah ditetapkan dari asalnya. Karena aku belum tau asal-usulnya kenapa jadinya demikian. Mungkin suatu saat kalo sudah tau, bisa laen cerita.


+++

14. TAPI, KAN, FUNGSINYA BUKAN BUAT LIHAT GENDRUWO

A = Alfred
L = Leo


A = Namaste, Leo … semoga bahagia!

L = Namaste, sama-sama.

A = Jadi, menurutmu gimana untuk orang-orang yang mata ketiganya sudah dikulik-kulik/diselaraskan denganmu tapi masih gelap alias tak melihat apa-apa? Aku berkesimpulan tidak semua orang dapat didayagunakan mata ketiganya? Salah?

L = Hmmm … spesialisasi mata ketiga yang ada di tiap orang itu memang berbeda, tergantung elemennya. Kalo elemen api kayak aku ini malah jarang lihat apa-apa. Tapi
kalo elemen air bisa lihat macem-macem. You are mostly elemen tanah saat ini. Yang dominan itu elemen tanah jadi munculnya hal-hal yang konkret-konkret aja, berupa pengertian-pengertian praktis, dan bukan melihat yang aneh-aneh itu. Tapi bukan berarti harus seperti itu terus. You might one day see strange things ... tapi itu juga simbol-simbol saja, yang masih harus diartikan kembali. Kalau sekarang malahan pengertian-pengertian praktis yang muncul, dan gak perlu interpretasi lagi. Jadi, tiap elemen itu ada kelebihan dan kekurangannya. Dan elemen kita yang dominan itu terkadang bergeser juga because we have all those four elements in us. Semuanya itu ada, tetapi suka bergeser.

A = Dominannya bisa ganti-ganti seiring sering latihan meditasi? Soalnya tadi aku sempat baca milis, ada yang menanyakan, kok, gak bisa liat apa-apa … he he he, menurutku, ya, gak semua orang bisa pake mata ketiganya.

L = Mata ketiganya itu ada, tapi, kan, fungsinya bukan buat lihat genderuwo. Bukan buat lihat kuntilanak. Kalo mao liat gendruwo en kuntilanak gak usah pake mata ketiga melainkan cukup ikut pelatihan jadi dukun aja. Ntar dijamin bisa ... malahan kalo udah advanced bisa sekalian jadi "gendruwo" en "kuntilanak". Hmmm hmmm hmmm....

A = Ha ha ha ha , jadi serem sendiri, dong, ntar … he he he he. Tapi, kan, ada standard kalau di perkumpulan meditasi, bahwa mata ketiga yang terbuka akan dapat melihat hal-hal yang gaib, yang akan datang, masa lalu termasuk juga … apa pendapatmu?

L = Itu, kan, intuisi-intuisi, memang datangnya dari mata ketiga. But, mereka itu naif, mereka pikir yang muncul itu selalu berbentuk gambar-gambar. Itu salah besar. Memang bisa berbentuk gambar bagi sebagian orang. Tetapi bagi orang lain lagi, bisa saja intuisi itu muncul berbentuk pengertian. Bisa juga berbentuk suara-suara. Bisa berbentuk mimpi-mimpi. Dan gak selalu berbentuk gambar-gambar. Hmmm hmmm hmmm.... Mereka itu naif sekali.

Aku ini, kan, jarang melihat gambar yang tiba-tiba muncul kalau berbicara sama orang, walaupun kadang-kadang muncul juga. So, cara paling ok adalah teruskan meditasi itu sehingga muncul pengertian-pengertian itu. Pengertian-pengertian itu yang nilainya paling tinggi. Itu wisdom.

A = Terus yang terdeteksi apa biasanya? Rasa?

L = Ya, "rasa" saja, rasa enak atau gak enak. Ke arah kiri atau kanan. Feel … just feel it.

A = Meditasi soul/mata ketiga ini bila dilatih tanpa diselang-selingin dengan meditasi yang konsen di jantung akan menjadikan orangnya kurang toleransi … ini kata buku, lho, bukan kataku.

L = Hm, maybe ya, just do what you feel to be the right thing.

A = Ok, Le, aku cuma concern ntar miliser-nya semua kurang toleransinya.

L = Hmmm, ok-ok aja, ah. Metode itu banyak sekali, semuanya ok menurut aku. Asal gak ekstrem, everything is ok. Aku aja gak ekstrem, kok. Cuma, memang suka "keras" juga sama orang-orang fanatik

A = Ha ha ha ha ha ha … dampak meditation on pineal, tuh!


+++

15. TADI MALAM AKU BANGUN DENGAN KATA-KATA "DARMO GANDHUL"

N = Nazaruddin
L = Leo


B = Met sore, Mas, apa kabar?

L = Sore juga, Mas, gut gut gut, en you ?

N = Good ... hmmmmmmm pretty gut, hmmm frekuensinya nyamber-nyamber, nih!

L = Ha ha ha, the weather is better now di Jakarta, baru habis hujan keras.

N = Oo, pantes ajah, di Palembang mendung, ogut doain hujan, nih, biar adem. Mas pernah punya pengalaman ketemu sama diri sendiri atau liat diri sendiri jadi banyak, gitu?

L = Ya pernah, beberapa kali. Liat diri sendiri yang lebih "rendah". Terus ada diri sendiri yang lebih "tinggi". Terus aku ternyata bisa switch dari diri yang rendah ke diri yang tinggi. Very giddy.

N = Wah, udah manungaling, tuh, Mas. Saya belom, tuh … pengen seperti itu, pengen tau diri sendiri gimana, sih...?

L = Hmmm, itu dalam keadaan antara tidur dan gak tidur, habis meditasi. Ternyata diri sendiri yang melihat itu cuma satu. The one seeing itu cuma satu. Tapi, kita bisa melihat dari macam-macam sudut pandang. Dari sudut pandang diri rendah, dari sudut pandang diri tinggi. Nah, itu example yang paling mudah. Jadi ada diri kita yang lebih rendah (maunya ngerjain orang aja), dan ada diri kita yang lebih tinggi (mau membantu orang). Dan dua-duanya itu ternyata ada secara paralel. Ternyata keduanya itu ada, Mas, dan adanya bersamaan.

N = Menurut Mas, saya sudah ke arah situ belom, yah?

L = Well, itu ada di semua orang. Possibly perlu latihan, wiridan ... sampai akhirnya bisa tiba-tiba melihat diri yang berjalan paralel itu. Tapi datangnya itu gak terduga, Mas, tiba-tiba kita merasa seperti sedang melayang en "melihat" diri A .... terus muncul diri B.

N = Hm … iya, sih... wiridannya pake apa bisa menuju ke arah sana?

L = Dulu aku pakai Al Fatihah dan Qulhu aja.

N = Fatihah berapa kali?

L = Well, up to you. Sampe capek aja, or sampe bosen. Kalo bosen diem aja. Itu juga doa. Silent prayer.

N = Aku dah capek, Mas, dah bosen, vibrasi nya itu-itu doang … musti pake apa lagi, yaah?

L = Ya udah, berarti sekarang diem aja, gak pake apa-apa. Hmmm hmmm hmmm….

N = Hmmmmm ... hmmmmm gitu asyik juga … silent … now I’m silent, hmmm ... nge-blank, Mas.

L = Hmmm, I just wanted to say bahwa diri kita yang melihat itu always one. Kita ternyata bisa melihat dari dalam diri rendah. Terus bisa melihat dari dalam diri tinggi. Kedua diri itu beda, tapi jalan parallel.

Yang "lucu" itu, yang melihat itu always one. Jadi seperti switch dari satu diri ke diri yang lain. Lucu aja rasanya.... Terus, kalo mao melihat dari "luar" diri-diri yang terlihat itu juga bisa. Jadi seperti melayang dan melihat diri-diri kita yang berbeda dan
berjalan bersamaan itu.

N = Iya, Mas. Kok, tau, yah ... saya kadang ngerasa gitu, some times....

L = Well, that’s it. You have that experience ... itu quite common, kok.

N = Makasih, Mas....

L = Cuma biasanya experience seperti itu kita abaikan, kita anggap sebagai daydreaming. Padahal, itulah kita aslinya. Kita ini memiliki "diri" yang berlapis-lapis. Dan ada diri yang satu yang bisa memilih untuk menjalani diri yang mana. Akhirnya, kita akan realize bahwa ternyata kita bukan diri A, juga bukan diri B, juga bukan diri C. Lha, kita yang mana? Kita adalah yang mengalami, yang melihat.

Mengalami dan melihat itu apabila kita memilih untuk menjalani salah satu dari diri itu. Tetapi yang dijalani itu cuma salah satu pilihan saja. Masih ada diri-diri lainnya yang sama validnya untuk dijalani. Dan, bahkan tanpa dipilih, mereka itu tetap saja berjalan bersamaan. Paralel. Hiiiii ... very giddy.

N = Iya, yah....

L = Gitu, lho, rasanya. Very giddy.... Seperti ada parallel realities. Hmmm hmmm hmmm....

N = Jadi kita adalah satu gitu, ya, Mas? Dan satu itu adalah, ya, kita-kita ini…?

L = Ya, pengertian bisa macam-macam ... aku sendiri kalau belum muncul sesuatu yang dimaksudkan sebagai an understanding, biasanya cuma mendeskripsikan saja experiences itu. Gini, lho, rasanya. Of course you have to develop (or wait for) your own understanding. Ntar juga muncul sendiri. Hmmm hmmm hmmm….

N = Kapan, ya, Mas?

L = Anytime ... everyday understanding "kecil" akan muncul, dan every few weeks understanding "besar" akan muncul. Muncul sendiri dari dalam pikiran. Biasanya aku itu kalau bangun tidur, masih liyar-liyer suka inget ada apa aja di dalam mimpi. Masa tadi malam aku bangun dengan kata-kata "Darmo Gandhul". Aku seperti melihat bahwa aku ini melawan "Darmo Gandhul".

N = Wah, itu dah dekat, Mas....

L = Lha, aku, kan, gak tahu Darmo Gandhul itu apa?

N = Perubahan dah dekat kayaknya, aku nangkapnya gitu.

L = Seperti ada yang bilang, bahwa jangan seperti itu. Bahwa aku itu berada di level "atas", dan Darmo Gandhul itu di level "bawah". Something like that.

Lalu aku periksa di internet, ternyata Darmo Gandhul itu suatu serat yang menceritakan masuknya Islam ke tanah Jawa. Itu, kan, ok aja, tapi kenapa aku diberitahu agar menghindari Darmo Gandhul?

Baru sore ini aku dapat pengertian bahwa Darmo Gandhul itu teori konspirasi. Itu ternyata teori konspirasi, seperti semacam "protocols of the elders of Zion". Something like that, dibuat memang untuk memprovokasi. So, aku gak boleh pakai cara itu. Musti pakai cara level "atas". Pakai mata ketiga, dan gak pakai rekayasa seperti kejadian-kejadian yang "diceritakan" di Darmo Gandhul itu. Mungkin itu maknanya.

Well, bisa juga diartikan bahwa aku harus membawa pengertian Darmo Gandhul menjadi universal. Darmo Gandhul itu, kan, mau "membela" pandangan buddhist, tapi
jadinya, kan, permainan naluri juga. Jadinya saling menjatuhkan dan merekayasa kehancuran satu sama lain seperti bisa dibaca very clearly di serat itu.

Nah, aku gak boleh begitu. Musti naik tingkat, harus pakai mata ketiga and embrance all. Itu pengertian yang baru aku dapat sore ini before on line, before talking with you on YM. Hmmm hmmm hmmm….

Kurang lebih seperti itu ... nah, aku ini, kan, masih meditasikan tentang Darmo Gandhul. Apa benar maksudnya seperti yang aku sekarang dapat, atau ada pengertian lain lagi. Dan aku gak mikir melainkan diam saja. Ntar, kan, akan masuk pengertian sendiri. Tiba-tiba bisa mengerti sendiri. That's my method, always works like that. Soalnya kalo musti mikir, kalo musti riset lagi, well, gak sanggup, deh … too time consuming.


+++

16. BAGAIMANA MELIHAT NUR MUHAMMAD

M = Makhmun
L = Leo


M = Assalamu'alaikum wr. wb. Salam kenal, Pak Leo!

L = Wa’alaikumussalam, salam kenal lagi!

M = Saya Makhmun 30 tahun, mengenal ID Anda dari mailing list. Saya searching mengenai mata ketiga tadi, terus lihat bahasan di situ, boleh tanya?

L = Boleh aja.

M = Apakah Nur Muhammad penyaksiannya juga melalui kelenjar pineal yang Bapak sebutkan sebagai kepala roh?

L = Ya. Semua penglihatan batin (rohaniah) selalu melewati mata ketiga (mata batin). Istilahnya macam-macam, tapi pengertiannya sama saja.

M = Cuman saya bingung antara peranan yang di dada ama di pineal, yang mana pusatnya?

L = Pusatnya di pineal, Mas. Tetapi, memang bentuknya seperti "melingkar" begitu, dan ujung bawahnya ada di dada. Menurut aku, sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan di dalam jantung. Ada satu titik di jantung di mana ujung bawah dari mata batin atau mata ketiga itu terletak. Dan ujung atas terletak di pinial itu.

Kemudian ada lagi yang terasa di fisik berupa "cenut-cenut" di titik antara kedua alis mata itu. Jadi, ada tempat secara fisik yang benernya susah dirasakan; yang terasa di fisik malah cenut-cenut di antara kedua alis mata itu. Benernya menurut aku lebih mudah untuk merasakan mata batin itu secara langsung apabila kita abaikan segala sensasi di fisik itu.

Rasakan saja secara batin. Rasakan saja aliran energi batin itu yang masuk dari tengah kepala dan mengalir ke bawah. Itu bukan energi fisik, melainkan energi roh. Semacam kekuatan batin gitu, jadi gak pas benar kalau dibilang sebagai prana dan semacamnya, walaupun biasanya memang membawa juga prana itu. Yang pokok adalah yang batin itu, dan dari yang batin itu lalu muncullah yang prana. Nah, yang fisik itu adalah turunan berikutnya.

M = Boleh saya diberitahu praktik melihat nur Muhammad melalui kelenjar pineal ?

L = Dirasakan saja, mas. Diniatkan saja. Rileks saja, gak usah tegang. Nanti juga akan tahu sendiri. Nur Muhammad itu, kan, istilah saja. Apa bedanya dengan istilah lain yang pengertiannya sama. Dicoba saja, nanti juga akan tahu sendiri.

Nur Muhammad itu kekuatan batin kalau menurut aku. Kemampuan untuk menjadi seorang nabi. Nah, nabi itu kenapa disebut nabi? Karena bernubuat, kan? Nubuat itu datangnya dari kilatan-kilatan yang muncul di mata batin. Langsung dikeluarkan begitu saja. Nur itu sendiri tidak terlihat, kalau menurut aku. Nur itu sudah menyatu dengan nur yang ada di diri kita sendiri. Ketika roh kita menyatu dengan roh yang atas, maka kita memiliki kemampuan batin untuk mengucapkan nubuat. Itu jalan para nabi. Dan itu jalan spiritual. Everybody can do that, kalau mau.

M = Apakah Energi itu mengalir terus-menerus tanpa orang melatihnya atau mengenal istilah-istilah kebatinan ato belajar spiritual? Cukup diniatkan?

L = Energi dari mata ketiga akan mengalir terus-menerus kalau orangnya menggunakannya terus-menerus juga. Kalau mata batin itu dipakai, tentu saja segala
efeknya akan berjalan otomatis. Dan itu tanpa perlu orangnya menguasai segala istilah-istilah spiritual. Istilah, kan, bisa berbeda-beda, yang penting pengertiannya dan yang lebih penting lagi adalah praktiknya. Kalau mengerti segala istilah spiritual tapi gak dipraktikkin buat apa? Sama aja boong, kan?

M = Iya, Pak Leo, thanks....

L = You're welcome. Sampe nanti, yah … bay bay!

M = Ok, Pak!


+++

17. BUKAN UNTUK KOMUNIKASI DENGAN BANGSA DHEMIT

P = Pungky
L = Leo


P = Met malem, Pak, mau tanya, nih!

L = Sure, Mas, please do!

P = Saya akhir-akhir ini intens banget, kasih doa untuk mata ketiga saya. Trus, saya lanjutkan dengan zikir “ya Allah” 3300 kali, trus zikir “subhanallah” sekuatnya. Luar biasa sensasinya, saya sampe takut sendiri.

L = Lha, iya, aku juga berasa dari sini. Gak usah takut, Mas, memang seperti itu.

P = Kalo rasa takut itu semakin kuat, maka saya hentikan seketika zikir saya.

L = Aku sendiri waktu lagi getol-getolnya zikir, pernah lihat bayangan Syekh Abdul Qadir Jaelani muncul tiba-tiba di depan mata.

P = Saya cuma gak kepengin disamperin makhluk dari kalangan jin.

L = Pasrah aja, kalo pasrah gak takut. Tapi, yah, gak apa-apa, deh, soale dulu aku juga pernah ngalamin yang takut itu.

P = Soale, saya yakin banget, itu mungkin kondisi yang disebut "delta". Oh iya, urutannya gini, kan: alpha, beta, trus delta.

L = Beta yang paling umum kalo kita melek, di bawah itu baru alpha, setelah itu theta. Nah, delta yang paling rendah memang.

P = Kalo kondisi hening yang tertinggi tapi kita dalam keadaan sadar, namanya apaan, tuh, saya lupa … he he he he. Ya, kira-kira gitulah, Pak, kondisi hening, hanya terdengar desah nafas dan lafal. Dua kali ini saya merasakan.

L = Namanya, ya, hening. Samadhi. Itu aku sebut kosong. Nothingness.

P = Kalo udah memuncak gitu, biasanya langsung saya lepas. Soale, dari beberapa cerita yang saya dengar, memang kemudian kita serasa memasuki alam lain.

L = Ya, gak apa-apa, wong energinya udah jalan sendiri dari situ. Ngocor terus ke bawah. Energinya keluar terus, Mas, gak ada habis-habisnya.

P = Energi siapa, Pak?

L = Energi dari mata ketiga. Mata ketiga, kan, sumber energi buat kehidupan fisik kita. Itu energi dari dimensi lain, di luar dimensi ruang dan waktu kita ini.

P = Yang saya rasakan, saya seperti sudah dikelilingi kabut, sinar, atau apalah namanya, berwarna putih kekuningan.

L = Itulah energinya, menurut pengalaman aku memang kuat banget. Jadi gak ada capeknya kita. Seks jadi kuat lagi … ho ho ho....

P = Mungkin kalo saya udah mantap, akan saya teruskan zikir itu. Sekedar ingin tau, apa yang terjadi kalo setelah itu? Ho ho ho ... seks, ya? I love it!

L = Ya, kadang-kadang aku juga jadi kelabakan dengan yang itu. Mao dikemanain? Mao dikemanain?

P = Ya, swadaya, toh … atau ke sawah cari lubang belut.

L = Ha ha ha … aku, kan....

P = Eh, iya, Pak, mau tanya lagi, mungkin orang yang linuwih, sakti dan sebagainya mengalami kondisi itu kali, ya, saat meditasi? Hening, kosong, blank, whatever-lah….

L = Well, orang yang rohaniah atau spiritual, ya. Tetapi orang yang "linuwih" dalam pengertian kanuragan gak gitu. Beda. Samadhi itu, kan, yang dituju oleh pengikut Buddha, pengikut Shiwa, sufi, kabalah, dan sebagian aliran Kristen yang asli. Something like that. Sama aja. Bahkan orang pagan dan ateis juga mencapai itu.

Itu kodrat kita untuk istirahat di mata ketiga atau mata batin. Tekniknya pake istilah macem-macem, tapi kalo wis nyampe, rasanya sama. Koneksi dengan all that is.

P = Itu yang kadang bikin saya risau, jangan-jangan kalo zikirnya saya teruskan, saya nanti malah disamperin bangsa jin. Trus, ini ada hubungannya dengan dunia lain gak, Pak? Wong saya zikir itu tujuannya untuk mendekat ke Dia, bukan untuk komunikasi dengan bangsa dhemit.

L = Lha, ya, ada … kita, kan, "hidup" di dimensi-dimensi lain juga. Cuma karena frekuensinya beda, kita nge-blank kalo di dimensi lain. Dhemit itu energi negatif, gak usah dipikirin.

P = Saya cuman gak mau dikotori dengan hal begituan, saya cuman berharap ridhoNya.

L = Al Fatihah, Mas. Aku bisa nangis kalo lafal Al Fatihah, itu yang paling sempurna. Itu doa dalam bahasa Arab yang paling indah. Doanya ikhlas dan pasrah.

P = Iya, Pak, itu saya baca dan khususkan untuk mata ketiga, saya baca sebanyak 27 kali. Setelah itu, saya sambung dengan zikir “ya Allah” 3300 kali. Lalu setelah itu, untuk pamungkas, saya baca zikir “subhanallah” sebanyaknya, tapi biasanya, sih, baru 1 putaran tasbih, udah terasa banget "blank"-nya, serasa di alam lain gitu, lhoh.

L = Ya, subhanallah itu juga ikhlas dan pasrah. Itu memang frekuensi mata ketiga. Seperti itu ... diam aja juga enak kalo udah gitu.

P = Jadi, tiap kali mo zikir, saya pegang dua tasbih di kedua tangan saya, yang kiri tasbih kecil (33 mata) utk menghitung putaran tasbih besar (100 mata). Rasanya gimana gitu lhoh ... sulit diceritakan ... sulit digambarkan, keyboard saya ini gak bisa nampung sensasinya....

L = Yes, I can feel it. Nggguuueeeng nggguuuennnggg … nggguuueeengggg….

P = Apaan, tuh?

L = I can feel it. It's ok, enjoy aja. Aku juga baca beberapa doa sekaligus. At the same time. Ha ha ha … no problem, you'll understand it later.... Well, I have to sign out soon. Talk with you again later, yah? Bay bay!

P = Ok, saya juga udah ngantuk, Pak. Thx for sharing!


+++

18. TIDAK MENIKAH DAN BELIEF SYSTEM

N = Nurafni
L = Leo


N = Selamat siang, Pak Leo. Pak, dia lagi on line, tuh. Aku sama dia diem-dieman, biasanya gak gitu. Tapi, dia udah mau ngobrol, tapi gak seperti biasanya. Wah, maaf, ya, Pak Leo, ini mungkin gak penting, nanti saya mau tanya ke Bapak lagi, ah. Eh, tapi yang kemarin juga belum dijawab.

L = Sure, yang mana?

N = Motivasi orang yang gak ingin nikah, yang sudah mencapai tahap universal, kalo gak salah.

L = Begini, Mbak, mungkin bukan "motivasi" istilahnya, tetapi kesadaran.

N = Oooh....

L = Kesadaran (awareness) yang dimiliki oleh tiap orang itu berbeda. Ada yang kesadarannya mutlak 100 % dibentuk oleh budaya. Budaya itu termasuk tradisi,
agama, nilai-nilai teman-teman sepergaulan, lingkungan asal, termasuk pendidikan.

Kalau budayanya bilang semua orang harus menikah, ya, dia itu akan menikah. Biarpun hati nurani dia itu gak mau menikah karena dipikirnya dia gak suka harus seperti itu, tetapi karena dia mau kompromi dengan budaya itu, maka menikahlah.

Indonesia kita ini termasuk masyarakat yang aneh kalau mengikuti jalan pemikiran yang tercerahkan (enlightened). Menurut kebanyakan orang Indonesia, menikah adalah perintah Tuhan…. Menurut aku, itu masya Allah. Masa Tuhan kurang kerjaan suruh orang menikah? Emangnya kalo manusia gak menikah Tuhan jadi tersinggung? Emangnya kemuliaan Tuhan akan berkurang kalau manusia gak menikah?

Tapi sudahlah … itu, kan, manusia yang mengatasnamakan Tuhan. Biar aja. Padahal, menurut aku sendiri, kita mau menikah atau tidak menikah is ok-ok aja. Tuhan juga ok-ok aja.

N = Lalu bagaimana kaitannya dengan libido? Atau kebutuhan “yang satu” itu?

L = Nah, libido, kan, hormon. Hormon seks. Rasa kepengen esek-esek. Kalo kepengen esek-esek tok, kan, gak harus menikah. Esek-esek bisa sendiri, bisa berdua, bisa bertiga ... dan gak harus menikah. Kawin juga esek-esek, cuma gak pake surat aja.

Dan esek-esek itu gak harus menjadi liar (or lieur) seperti di masyarakat tidak beradab. We are civilized people. Kita ini masyarakat beradab, tetapi, kok, memaksakan orang untuk saling menjerat leher satu sama lain dalam jeruji yang diberi nama pernikahan, dan dikenakan sanksi hukum, baik "hukum" agama, sanksi-sanksi budaya, tekanan-tekanan lingkungan sekitar, dst....

N = Hmmmm....

L = Jadinya ribet, ribet sekali. Padahal asalnya, kan, cuma dorongan libido saja. Hormon seks itu saja. Dan itu, kan, simpel saja. Untuk release hormon itu gak perlu manusia berlainan jenis (bisa juga sesama jenis) sampai akhirnya saling manipulasi. Saling adu pinter siapa yang lebih bisa menguasai yang satunya lagi.

N = Lalu bagaimanakah sebaiknya dunia ini, Pak Leo, dikaitkan dengan pernikahan atau kawin, Buzzz???!!!

L = Menurut aku, pernikahan is good, tapi gak perlu sampai dipaksakan sampai begitu-begitu amat.

N = Dipaksakan gimana maksudnya?

L = Kalau ada yang ingin menikah, it's good, silahkan; tapi kalau ada yang gak mau menikah atau belum mau menikah, dengan alasan apa pun, seharusnya masyarakat
(termasuk keluarga, teman, agama, tradisi, lingkungan, dsb....) tidak memaksa orang untuk menikah.

N = Ya, Pak ... sepakat!

L = Gak perlu nakut-nakutin orang dengan alasan jadi perawan tua. Jadi perjaka tua (eh, laki-laki gak ada yang dibilang perjaka tua, yah?), dst.... Malah ada istilah janda muda ... kalo janda gak boleh muda. Musti kawin lagi sehingga statusnya gak lagi janda.

Emangnya kita ini apa? Itu bukan naluri, lho, Mbak? Segala pemaksaan itu bukan naluri, dan bukan pula intuisi. Segala pemaksaan agar orang menikah itu berasal dari belief system.

Belief system adalah sistem jadi-jadian, buat-buatan orang belaka. Buatan manusia belaka. Mungkin ada gunanya, ada maksudnya ketika belief system itu pertama kali dicanangkan.

Misalnya, dulu, kan, manusia perlu berkembang biak (kayak hewan peliharaan yang musti dikembangbiakkan, that's true) karena jumlah orang masih sedikit. Tenaga kerja kurang.

N = Yah....

L = Di Timur Tengah dulu itu, orang kalo perang, rampasan perangnya berupa manusia.

N = Hm….

L = Ribuan manusia akan diangkut ke wilayah kerajaan yang memenangkan perang itu. Jadi, yang menjadi nilai adalah manusia sebagai tenaga kerja. Orang-orang Yahudi itu berkali-kali diangkut dari tanah mereka. Sekali angkut ratusan ribu orang sekaligus. Dipindahkan ke tempat pemenang perang. Pernah diangkut ke Babylonia. Lalu dipulangkan kembali. Lalu diusir lagi. Begitu seterusnya. Yang jadi masalah, kan, manusia sebagai tenaga kerja.

N = Lalu?

L = Nah, di masa sekarang ini, di mana manusia sudah seabrek-abrek, apa masih perlu belief system seperti itu? (termasuk belief system Yahudi yang mengutip Allah sebagai bertitah: "Berkembang biaklah kamu!").

N = Yah, dunia diciptakan Tuhan bukan untuk itu, kan, Pak Leo?

L = Hm, begini, Mbak, lebih baik kita berbicara atas nama diri sendiri. Gak usah pakai nama "Tuhan" seperti para orang agamais itu. Kita bisa bicara, kok, tanpa perlu mencatut nama "Tuhan".

N = Baiklah.

L = Kita bisa memberikan alasan yang masuk akal. Alasan yang rasional, alasan yang tidak egoistis, dsb. Dan itu bisa dilakukan even tanpa mencatut nama "Tuhan". Kenapa? Sebab konsep "Tuhan" sendiri sebenarnya buatan manusia, itu buatan budaya, itu belief system.

Tuhan memang ada, tetapi Tuhan yang asli itu, kan, cuma bisa dirasakan di dalam diri kita di dalam kesadaran kita sendiri. Di dalam consciousness kita.

Dan Tuhan yang kita kenal di dalam diri kita sendiri itu is really full of loving kindness. Dan gak diktator, dan gak suka maksain pendapat kayak orang-orang yang bawa-bawa nama "Tuhan" itu.

God is really loving, kenapa tukang catut nama God itu jadi begitu kurang ajar sehingga Tuhan menjadi punya imej sebagai Illah yang wallahualam musti disembah en dipuji-puji lebih tinggi dari langit en musti dikasih korban ini en korban itu? Bener-bener konsep yang gak ber-Tuhan, kalo according to my humble opinion.

N = Wah, Pak, aku masih belom ngerti tentang konsep Tuhan yang Pak Leo pahami, Buzzz!!!

L = Hm, pengertian tentang "Tuhan" itu berbeda-beda di setiap orang. Itu ok saja.

N = Yah, betul, Pak, memang aku sedang "mencari".

L = Tetapi, apa Tuhan itu beda? Kalau secara teoritis, Tuhan itu sama, gak beda. Berarti apa, dong, yang beda? Berarti yang beda itu cuma pemahamannya, kan? Pemahaman tiap orang itu beda which is ok-ok aja. Pemahaman ajaran-ajaran agama itu beda-beda which is ok-ok aja. Bahkan, di dalam satu agama pun, alirannya gak kehitung.

Dalam satu agama saja bisa ada ratusan aliran, dan itu pemikirannya tentang "Tuhan" berbeda-beda. Lalu, pengertian tentang "Tuhan" yang mana yang mau kita pakai? Tiap aliran besar dalam agama "mencatut" nama "Tuhan" dengan seenaknya. Mereka memberikan sanksi-sanksi atas "perintah-perintah" yang katanya dari "Tuhan"

Itu pemaksaan. Zaman dulu, bahkan juga sampai zaman sekarang di wilayah tertentu, segala perintah-perintah yang katanya dari "Tuhan" itu memang bisa diimplementasikan dengan hukum positif. Hukum manusia. Misalnya, hukum rajam, hukum cambuk, hukum mati. Semua atas nama "Tuhan".

Itu, kan, gak illahiah. Tidak berperiketuhanan, kalau menurut aku. Wong itu semua hasil karya manusia, segala pemikiran itu hasil karya manusia, kok, nama Tuhan dicatut? Nama Tuhan dicatut untuk memberikan sanksi atas segala budaya manusia.

Tapi mereka yang hidup di waktu itu gak ngerti, kan? Mereka gak ngerti bahwa segala perintah-perintah yang diatasnamakan Tuhan itu benar-benar dari Tuhan, atau dari Tuhan-tuhanan. Dari Tuhan buat-buatan.

The truth is, apa yang kita sebut sebagai dari Tuhan, sebenarnya berasal dari diri kita sendiri. Memang bisa dari kesadaran tinggi yang ada di diri kita. Our higher self. God is our higher self. Tuhan, kan, lebih dekat dari urat leher kita. Itu artinya apa? Artinya, kita, kan, bagian dari Tuhan.

N = Iya....

L = Kita bagian dari Tuhan, berarti Tuhan is our higher self. Nah, karena Tuhan adalah our higher self tentu saja kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Nah, pengertian yang kita dapat tentu saja berlaku untuk saat itu. Pengertian yang didapat oleh para nabi itu adalah pengertian saat itu.

Salahnya, para penerusnya, menyangka bahwa apa yang sudah diwahyukan saat itu berlaku selama-lamanya sampai akhir zaman. Itu salah, menurut aku gak gitu. Menurut aku, Tuhan berkomunikasi dengan manusia all the time. Setiap saat, sepanjang waktu.

Dan, karena situasi kita berubah terus, maka pengertian-pengertian itu juga berubah. Ada yang berubah, dan Tuhan juga ok-ok aja. Tetapi, karena ada self interest dari orang-orang tertentu untuk memertahankan wahyu (tradisi, interpretasi, ....) yang berasal dari zaman baheula itu ... maka diteruskanlah upaya pemaksaan.

Pemaksaan, my dear, pemaksaan nilai-nilai yang sudah tidak pada tempatnya. Dan terjadilah clash. Culture clash. Clash karena apa yang kita pahami sekarang ternyata gak sinkron dengan apa yang dipaksakan sebagai yang seharusnya kita pahami.

Kita merasa jadi orang bego. Sedangkan mereka yang memaksakan nilai-nilai out of date (kedaluwarsa) itu minta dihormati sebagai orang yang pinter. Orang-orang yang berilmu ketuhanan or whatever they call it. Jadi itu, kan, hal-hal yang sebenarnya, bukan saja tidak manusiawi, melainkan juga tidak berperiketuhanan. Inhuman and ungodly.

N = Ya, Pak ... i c.

L = The fact is, kita bisa langsung komunikasi dengan Tuhan. Dan Tuhan itu tidak menghakimi manusia. Seperti hal menikah itu. Kalau mau menikah is ok. Gak mau
menikah juga ok. Menurut aku, Tuhan gak keberatan sama orang yang gak menikah. Menikah or gak menikah sama saja buat Tuhan. Tuhan is very tolerant. Tuhan itu
sangat berperiketuhanan.

Yang tidak berperiketuhanan itu adalah mereka yang punya self interest untuk memaksakan pengertian mereka sendiri.... Well, I have to sign out soon. Talk to
you later, yah? Bye!

N = Yah, Pak, thanks, nanti kita diskusi lagi, bye bye….


+++

19. MATA KETIGA IS MATA BATIN

K = Kurniadi
L = Leo


K = Selamat siang, Pak Leo, bolehkah saya bergabung?

L = Sure, dari mana, Mas?

K = Saya Kurniadi di Semarang, Jawa Tengah. Beberapa waktu lalu saya membaca email di milis mengenai mata Shiva.... Bisakah saya memiliki kemampuan mata Shiva tersebut, karena saya sangat membutuhkannya?

L = Karena Anda menginginkannya, mintalah kepada YME, dan saya yakin itu akan diberikan kepada Anda. Kalau mau, bisa tarik dari saya. Saya mengizinkannya.

K = Caranya bagaimana, Pak Leo?

L = Kalau Anda muslim, bisa dengan wirid Qulhu. Al Ikhlas. Kunci dari mata ketiga atau nur aini adalah ikhlas dan pasrah. Doa yang khusus untuk ikhlas dan pasrah adalah Al Ikhlas atau Qulhu itu.

K = Saya nonmuslim atau lebih jelasnya, Kristen.

L = Ok, pakai doa Bapa Kami. "Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMu...." Itu semuanya ada di mata ketiga. Mata ketiga adalah tempat kita berkomuni dengan Allah, itu tempat roh kudus di diri kita. Bukan di dada, bukan di hati, tetapi di mata ketiga. Letaknya di kelenjar pineal yang ada di tengah batok kepala; itu secara fisik. Tetapi mata ketiga yang sebenarnya bukanlah fisik melainkan di dimensi
roh. Berdoalah dengan doa Bapa Kami, ikhlaskanlah segalanya yang telah lewat di hidup Anda, pasrahkanlah segala yang akan terjadi pada Anda; segalanya berasal dari Dia dan akan kembali ke Dia, dan mata ketiga Anda akan terbuka. Anda akan melihat segalanya dengan jelas. Anda akan melihat seperti Tuhan melihat, apa adanya, tanpa kepura-puraan. Ini bukan ilmu kesaktian, bukan ilmu untuk mencari keduniawian, tetapi ilmu ketuhanan; untuk membantu manusia agar semakin manusiawi, agar semakin rohaniah, agar bisa membantu sesama. Saya percaya Anda akan bisa memerolehnya.

K = Terima kasih, Pak Leo … saya saat ini sedang mencoba menerapkan apa yang Pak Leo beritahukan pada saya.

L = Good, I can feel that.

K = Pak Leo … dalam beberapa menit yang lalu saya menarik energi mata Shiva dari Pak Leo dengan memohon pada Allah Bapa dan membaca doa Bapa Kami terlebih dahulu serta memohon bantuan para malaikat agung ... dan rasa yang kuterima adalah berupa energi hangat di tengah dahiku, lalu timbul pusaran seperti pusaran air yang teramat deras berwarna ungu dan gambaran wajah orang menghampiriku serta diikuti ada semacam gerakan menarik-narik di kedua pelipisku ... menandakan apakah ini...???

L = You already feel it. Itulah mata ketiga Anda, mata batin Anda, nur aini, tempat Anda berkomuni dengan Tuhan. Anda akan datang ke sana tiap kali, tiap saat.... Bila Anda resah, Anda akan memeroleh jawaban di sana; bila Anda bahagia, Anda akan mengucap syukur di sana. Tuhan ada di sana; Tuhan ada di dalam manusia, dan singgasanaNya di sana.

K = Pak Leo … adakah perilaku dari kita atau makanan yang dapat menghambat mata batin kita selain dari hal pasrah yang telah diuraikan oleh Pak Leo?

L = Hm ... Anda akan tahu sendiri. Saya cuma berpesan, be yourself ... jujurlah pada diri sendiri dan pada orang lain. Makanan semuanya halal. Kalau Anda ingin vegetarian silakan, kalau tidak ingin vegetarian tidak masalah.

K = Bagaimana halnya mengenai esensi puasa itu bagi mata batin kita?

L = Puasa, kan, ritual, ya, Mas? Ritual agama. Menurut aku, kalau mau puasa, ya, puasa sajalah, tidak perlu harus mengikuti jadwal gereja. Kalau gak mau puasa, itu juga
gak apa-apa.

K = Betul, all right, Pak. Dapatkah hal itu membantu meningkatkan kepekaan mata batin kita?

L = Bisa, Mas, asal dimulai dengan dorongan yang berasal dari mata batin itu sendiri. Misalnya, tiba-tiba Anda merasa harus puasa karena sedih sekali … akhirnya Anda puasa, Anda doa, Anda novena, dan mata batin Anda akan makin terbuka. Bisa saja hal itu didorong karena Anda akan bertemu dengan seorang yang sakit dalam waktu dekat, jadi Anda merasa harus puasa dan doa … ketika puasa dan doa itu sudah tuntas, Anda bertemu orang yang sakit itu. Pada saat bertemu, Anda cuma cukup ngobrol-ngobrol saja dengan orang sakit itu. Dan itu, sebenarnya, sudah bisa membantu penyembuhan orang itu. Segalanya itu otomatis, Mas. Segalanya dijalankan dengan apa adanya tanpa perlu segala aturan yang dibuat-buat. Kita jalankan apa yang kita rasa harus kita jalankan. Segalanya alamiah. Itulah aturan roh kudus…. Kalau Anda mau menerimanya, segalanya datang melalui bisikan di mata batin kita. Kita menerimanya dengan percaya, dan kita melakukannya. Akhirnya kita bisa membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Akhirnya kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Akhirnya orang akan melihat bahwa Tuhan ada di dalam diri kita, di dalam diri Anda, dan di dalam diri mereka sendiri yang Anda bantu itu.

K = Saya pernah mengalami puasa 3 hari (tanpa terikat sesuatu keinginan apa-apa kecuali ingin membersihkan hati). Tepat pada hari ketiga, terasa seram sekali karena di kiri kanan telingaku terjadi perang silang pendapat suara yang ada serta kilatan gambaran yang
melesat ke sana kemari. Apakah ini rasanya puasa?

L = Hm, itu sensasi saja, Mas. Saya pribadi tidak merasa perlu untuk puasa sampai seperti itu, paling cukup makan dan minum dikurangi saja.... Well, Yesus sendiri makan dan minum apa adanya saja, kecuali ketika 40 hari di padang gurun itu. Menurut saya, puasa makan dan minum tidak terlalu penting, yang paling penting adalah kejujuran untuk mengatakan apa yang ada. Baik bilang baik, buruk bilang buruk tanpa takut orang lain akan tersinggung, tanpa takut akan disakiti oleh orang lain. Dan apa yang perlu dikatakan akan muncul saat itu juga di mata ketiga. Itu adalah suara roh kudus. Roh kudus berbicara kepada mata batin kita, kepada mata ketiga kita. Bukan di hati, tetapi di mata ketiga.

K = Pak Leo ... saya mendapatkan suatu doa kerahiman yang kalau menurut orang Islam diijazahkan … dan menurut yang memberikan, agar dibaca dan dihayati setiap hari Jumat jam 3 dini hari, dan kalau bisa sekaligus puasa tiap hari Jumat, selain doa Novena yang ia sarankan. Apakah manfaat dari doa kerahiman ini begitu besarnya hingga saat ini pun terasa berat bagi saya dan banyak halangan jika ingin melakukan hal yang disarankan orang tersebut?

L = Pakai doa Salam Maria saja, Mas. Kalau saya boleh kasih saran, kembalikan saja doa itu, dan pakai Salam Maria. Pakai Salam Maria setiap hari, dan setiap saat Anda merasa ingin membaringkan kepala Anda kepada Allah yang Maha Rahim ... "Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu...". Dengan doa itu, Anda memohon kerahiman Allah untuk datang dan berada bersama manusia, bersama Anda juga. Doa kerahiman dari orang itu tidak cocok untuk Anda, itu berat, Mas; banyak penderitaan karena ketidakmengertian ada di seputar doa itu. Lebih baik dikembalikan, itu kalau Anda mau mendengarkan saran saya.... Doa Bapa Kami, doa Salam Maria, dan doa kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Tiga doa ini sudah cukup bagi kita, cukup untuk segala keperluan kita di dunia ini.

K = Thanks, ya, Pak Leo ... sarannya akan menjadi perhatian saya dikemudian hari….

L = You are welcome.

K = Oh, ya, Pak ... saya, kan, memelajari beberapa tradisi reiki, kundalini, shamballa, angelic power, dan beberapa keilmuan lainnya ... adakah dari hal tersebut merupakan suatu jebakan keilmuan yang dapat menyebabkan si praktisi menjadi terlalu mengandalkan hal itu? Maaf, Pak, saya terlau banyak bertanya.

L = Hm, you have to pray about that. Buat saya sendiri, segala macam ilmu itu hanya buatan manusia saja. Bila Anda ingin memelajari dan memraktikkannya, fine. Bila tidak, it's also fine. Yang paling penting adalah mata batin Anda itu, mata ketiga Anda itu, karena itu adalah tahta Allah di diri Anda, tempat Anda berkomuni dengan Yang Kuasa.

K = Okeee, Pak ... ehhm, bagaimana pendapat Pak Leo mengenai hirarki dari berbagai ascended masters termasuk Yesus Kristus; ini saya dapatkan dari berbagai sumber baik percakapan tatap muka maupun melalui internet dan buku?

L = Ignore it, ok? Gak ada gunanya itu, Mas. Itu kan buatan manusia saja. Kita juga bisa bikin urutan sendiri, tapi buat apa? Tuhan aja gak bikin urutan seperti itu. That's nonsense, Mas. Nonsense banget. Lucu sekali. So, kalau mau ikuti aku, lupakan saja yang seperti itu. Kita menjadi diri sendiri sajalah, dan gak perlu bikin urutan ascended masters itu. Itu, kan, cuma untuk orang yang gak ngerti hakikat dari hubungan pribadi antara manusia dan Allah: Allah ada di dalam diri manusia, dan manusia ada di dalam Allah.... Love, cinta kasih, dan bukan hirarki ascended masters. Hirarki ascended masters yang buatan manusia naif itu tidak akan membantu siapa pun kecuali pembuatnya sendiri, barangkali. So, again, please, diabaikan saja itu. Tuhan aja gak pake gituan, kok!

K = Thanks banget, ya, Pak ... selama ini banyak praktisi dari berbagai tradisi selalu memerdebatkan apa yang menjadi penglihatan mereka. Oke, Pak Leo, saya mohon diri ... dan Tuhan memberkati Pak Leo selalu.

L = You are welcome, Mas. Tuhan memberkati!

K = Shallom!

L = Shallom!


+++

20. MATA KETIGA DAN KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

N = Narto
L = Leo


N = Pagi, Mas Leo yang baik hati!

L = Pagi! Well, I can't read your name. Panggilannya siapa?

N = Saya Narto dari Batam, Mas. Saya paling seneng baca-baca tulisan-tulisan Mas Leo di milis.

L = Ha ha … Mas Narto, ada pertanyaan yang mau diajukan ke saya?

N = Kalo ada waktu, neh, Mas Leo, mo nanya dikit-dikit....

L = Hm, about what?

N = Untuk jadi diri sendiri, neh, n tentu tentang mata Shiva, he he he ... Mas, saya dah berkeluarga dengan 2 anak.

L = Yes, then?

N = Selama mengarungi bahtera rumah tangga saya seolah udah nggak bisa mengetahui saya sendiri dengan pasti, mungkin karena saya terlalu diatur oleh istri saya. Apa Mas bisa "menerawang" tentang kondisi saya?

L = Anda tidak mau mengecewakan orang lain, termasuk istri sendiri. Kalau Anda merasa terlalu diatur oleh isteri, then you have to tell your wife what you feel, harus minta agar dia juga bisa Anda atur, jadinya sama-sama mengatur. Kalau sama-sama saling mengatur, Anda tidak akan merasa terlalu diatur lagi.

Isn't it a solution? It's a solution, tapi harus dijalankan bukan? Yang menjalankannya adalah Anda. Anda harus aktif. Kalau Anda diam saja, ya, situasinya akan berlarut terus seperti ini

N = Betul, Mas. Tapi masalahnya gak segampang itu. Istri saya terlalu egois dan temperamennya luar biasa, susah untuk diajak bicara baik-baik, salah-salah saya yang kena hajar secara fisik. selama ini saya banyak mengalah hanya untuk kelangsungan rumah tangga kami.

L = Itu pilihan Anda, kan? She was your choice. Untuk mengubah situasi, Anda harus berbicara walaupun itu berarti ribut habis-habisan. Kalau tidak, segalanya akan seperti ini terus, dan itu tidak akan bermanfaat bagi semua pihak. Tidak bermanfaat bagi Anda, tidak juga bermanfaat bagi istri Anda, karena istri Anda akan menjadi manusia yang tidak manusiawi, dan itu bukanlah tujuan Tuhan dalam menciptakan manusia. If you don't take action, it means you don't help your wife. You don't help yourself, you don't help your children. Think about it!

N = Correct, she was my choice. Tapi, apa yang saya pilih dulu rupanya tidak sesuai dengan cover yang ada. Saya sudah sering mengajaknya untuk berbicara bahkan sampe habis-habisan, tapi semua yang aku dapat adalah sifat emosionalnya yang luar biasa. Kalo boleh dibilang, tidak ada yang bisa meluluhkan hatinya termasuk orangtuanya sendiri.

L = Then?

N = Terus terang saya dah kehabisan akal, tapi demi anak-anak, saya coba bertahan.

L = It's your choice. Kalau menurut aku, Anda harus mencoba terus. Terus saja, biarpun akhirnya harus berpisah, sampai dia yang minta berpisah. Saya lihat, dia yang akan memertahankan Anda, karena siapa lagi yang mau sama dia? Karena itu, jadilah laki-laki yang konsekuen, jadilah kepala rumah tangga yang sesungguhnya. Anda harus mengambil alih hal-hal yang selama ini dikungkungi oleh istri Anda. Istri Anda itu tidak akan lari ke mana-mana, tidak akan lari. Kemampuannya hanyalah menggertak, semua orang digertak olehnya. Karena semua orang takut, dia bisa menguasai keadaan.

N = Betul, dia sudah sempat minta berpisah, tapi masalahnya saya berat dengan perkembangan anak-anak nantinya.

L = Sekarang lepaskan saja, Mas, lepaskan saja. Saya lihat dia yang tidak akan berani berpisah, tidak ada orang yang akan mau dengan dia. Dia minta cerai, ceraikan saja. Malah, kalau saya bilang, seharusnya Anda yang menyatakan akan menceraikan dia. Bilang saja apa adanya kalo Anda sudah tidak tahan lagi, itu yang terbaik bagi Anda dan anak-anak Anda.

Kalau Anda sudah ultimatum seperti itu, barulah istri Anda akan mulai sadar. Harus di-ultimatum, harus tega, tegas. Kalau akhirnya cerai, berarti itulah yang terbaik bagi semua pihak, termasuk bagi anak-anak Anda. Cerai bukanlah akhir dari segalanya. Kalau kehidupan rumah tangga menjadikan manusia kehilangan kemanusiaannya, lebih baik rumah tangga itu dibubarkan saja dan bentuk rumah tangga lain, rumah tangga baru, untuk kebaikan semua pihak.

N = Yah, surat permintaan cerai dah ada pada saya, dia yang bikin n minta aku tanda-tangani, tapi satu hal yang paling berat adalah perkembangan anak-anakku, Mas Leo.... Saya termasuk orang yang tegas, tapi kalo soal ini saya betul-betul tidak bisa mengambil keputusan.

L = Mas, kalau aku lihat, itulah yang terbaik bagi anak-anak Anda.... Well, it's your life, you have to choose. Kalau tidak mau tegas, situasi akan terus seperti ini, dan itu sangat tidak membantu bagi perkembangan jiwa anak-anak Anda.

N = Thanks, Mas Leo, apa yang bisa Anda "lihat” tentang saya, Mas?

L = Terlalu baik sama semua orang. Kita ini harus balanced, Mas.

N = Betul, Mas, saya toleransi dengan semua orang emang "kelewat", Mas. Balanced dalam arti yang gimana, Mas?

L = Please, jangan geetuh ta, Mas, kita ini harus seimbang, kan? Harus seimbang, kalo gak seimbang kita ini njomplang, bisa terbalik. So, please change dunk!!! Anda harus mengubah diri Anda sendiri. Kalo gak mao berobah, piye?

N = Tapi Mas, susahnya nyingkirin rasa gak tega itu, lho, yang berat. Any idea how to menyeimbangkan, Mas?

L = Bicaralah apa adanya, kemukakan pendapat Anda apa adanya, gak usah takut orang tersinggung. Well, jangan takut orang lain "terluka" perasaannya.

N = Mas Leo, semenjak saya berumah tangga, kok, saya merasa sekali bahwa saya ini jadi gak berkembang pemikirannya alias merasa bodoh banget jadi orang.

L = Tentu saja Anda gak berkembang, wong Anda gak mau bicara apa adanya, gak mau bertindak. Anda banyak mengalah, terlalu banyak mengalah. So, untuk seimbang, mulai sekarang Anda harus asertif, harus agresif menuntut perlakuan yang sama dari orang-orang lain. Kalau Anda memerlakukan orang lain dengan cara tertentu, perlakuan sama harus Anda tuntut dari orang lain itu. Kalau ternyata orang mau mengangkangi hak Anda, Anda juga harus menahan apa yang diinginkan oleh orang itu dari Anda. Jadi seri, jadi seimbang. Cuma itu caranya, Mas, memang seperti hewan. Memainkan naluri hewaniah, tapi itulah caranya.

N = Ok.

L = Kalau mau yang etis-etis saja, apakah orang lain bermain di ranah yang sama dengan Anda? Tidak, kan? Karena level permainannya berbeda, kenapa Anda harus bertahan di ranah permainan yang menurut Anda etis? I believe you understand what I mean.

N = Yes, luar biasa.

L = Good.

N = But, Mas Leo, apa ada hubungannya dengan yang saya alami selama ini dengan mata Shiva saya, Mas?

L = Ya, ada.... Anda tidak mau menggunakan hikmat, hidayat, yang sebenarnya telah Anda terima di mata ketiga Anda karena Anda takut akan menyakiti orang lain. Sebenarnya Anda telah disarankan oleh bawah sadar Anda sendiri untuk bertindak tegas, tetapi Anda sendirilah yang menahan diri Anda. Gak bisa begitu terus, Mas!

N = Then, what must I do, Mas Leo?

L = Ikuti petunjuk dari mata batin Anda itu, jangan takut hidup Anda akan berantakan, jangan takut anak-anak Anda akan terlantar. Ikutilah petunjuk itu, dan jalanilah. Walaupun susah jalanilah, karena pada akhirnya Anda akan menjadi diri Anda sendiri, walaupun harus melewati jalan yang penuh dengan onak dan duri itu. Kita belajar dari Tuhan dengan cara ini, Mas. Memang seperti ini belajarnya, gak ada bungkusan yang sudah jadi bagi kita, semuanya harus kita sendiri yang mengolahnya agar bisa dipakai, agar bisa dimakan.

Yang dari Tuhan hanyalah tenagaNya, energiNya, hidayahNya, hikmatNya. Sisanya adalah tenaga dari diri kita sendiri. Kita harus kooperatif dengan petunjuk yang dari atas itu. Kalau tidak, segalanya akan mandek. Dan kalau mandek, Tuhan sendiri tidak akan
memaksa kita. Tuhan tidak pernah memaksa. Kalau kita gak mau berubah, Tuhan juga gak memaksa.

N = Apakah Mas Leo melihat kalo mata batin saya belum terbuka sepenuhnya?

L = Ya, karena Anda takut. Jangan takut, Mas. Mintalah untuk dibukakan kepada YME. Bisa minta untuk disamakan frekuensinya dengan mata ketiga, mata batin, yang ada
di saya. Saya mengizinkan. Mintalah. You can do that even now!

N = Ok, saya meminta dengan bantuan Mas Leo sekarang. Hanya itu, Mas?

L = Ya, hanya itu, gunakanlah! Anda ini baik sekali, banyak orang sayang sama Anda. Jangan takut anak-anak Anda akan susah, banyak orang akan bantu Anda. Saya cuma bisa bilang itu saja.

N = Thanks, Mas Leo, atas waktu and saran yang luar biasa. Tuhan akan senantiasa menyayangi orang seperti Mas Leo, sukses selalu untuk Mas Leo. Thanks a lot.

L = You are welcome. Bye!

N = Bye!


+++

21. YOU ARE A BLACK PRINCE TURNING TO BE A PRINCE OF LIGHT

B = Black Prince
L = Leo


B = Syaloom, Broer Leo. Dengan hormat, mohon bantuan Broer Leo, nanti malam saya ingin sinkron frekuensi dengan Broer, minta izin boleh, ya? Ada syarat? :)

Sebelumnya, mohon bantuan mencermati dan informasinya, ada apa dengan mata ketiga dan mata batin saya sejauh ini, apakah masih tertutup rapat, belum bekerja, atau banyak kekurangannya, dan bagaimana cara meningkatkannya lebih baik lagi? Mohon ceritakanlah segalanya yang Broer Leo ketahui. Amin. Syaloom, Tuhan memberkati!

L = Dear Black Prince, sure, syaratnya cuma niat Anda, cuma itu saja. Anda banyak doa ya ... dan sudah bisa langsung sinkron, bahkan saat ini juga, kalau Anda mau. Nanti malam ok saja buat saya, so be it.

Agak gelap, yah, banyak sakit di kepala, wajah, dan dada yang ... saya perkirakan berasal dari penolakan orang-orang gereja terhadap eksistensi Anda. Anda merasa bisa konek dengan yang gaib, dan bagi mereka yang ortodokss, Anda dianggap sesat. Ha ha ... gak
apa-apa, kita senasib, toh. Saya juga dianggap sesat oleh orang-orang gereja itu.

No problemlah. Tuhan aja ok aja, kok. Tuhan tidak pernah bilang Anda dan saya sesat. Lha, ini orang-orang gereja mau sok tahu menuhankan diri mereka sendiri.

Nah, saya lihat ada resentments seperti itu di dada Anda yang Anda tutup rapat melalui sikap Anda yang positif. Anda memaafkan, tetapi tidak menunjukkannya. Orang tetap tahu bahwa Anda adalah Anda, dan Anda adalah orang yang keras kepala. Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti apa yang Anda pikirkan. Dan, bahkan Anda sendiri tidak mau membagi apa sebenarnya yang Anda percayai itu. Anda pikir, orang lain tak akan
mengerti.

Anda merasa berjalan seorang diri di dunia spiritual. Dan Anda terima itu. Tanpa perlu pengakuan, tanpa perlu mencari teman, tanpa perlu mencari orang yang merasa ingin Anda temani.

Ini kekuatan batin, Broer, kekuatan batin yang kuat di diri Anda itu. Semacam masonry, semacam white brotherhood ... di mana ada ikatan yang kuat tanpa ada jaring-jaring organisasi. Anda salah satu simpul di jaringan semacam itu. Tidak terlihat, tapi dapat
dirasakan. Seperti ada wilayah tertentu. Saya melihat seperti ada pembagian wilayah tertentu, walaupun artinya kemungkinan besar hanyalah simbolik saja.

Mata ketiga bagi Anda selama ini adalah mata yang melihat ke dalam rahasia-rahasia alam semesta. Rahasia-rahasia yang ada di diri orang, yang ada di kelompok-kelompok keagamaan. Dan Anda bisa melihatnya dengan dingin, tanpa emosi.... Yang Anda lihat adalah kekejaman. Ketidakpedulian manusia atas manusia demi nama Tuhan dan agama. Dan Anda terima itu semua tanpa complain, tanpa mengeluh. Tanpa memertanyakannya.

Tapi Anda sekarang telah sampai pada titik di mana Anda ingin agar "mata" itu melihat ke dalam diri Anda. Diri Anda sebagai pribadi, sebagai seorang manusia dengan kelemahan dan kekuatannya. Sebagai seorang manusia biasa, sebagai seorang ciptaan. Dan bukan dari sudut pandang seorang "pencipta" seperti yang selama ini telah biasa Anda tempati.

Cuma itu yang saya bisa lihat tentang Anda. Syaloom, Tuhan memberkati Anda juga!

B = Syaloom, Broer Leo, puji Tuhan. Terima kasih, Broer. Saya telah melihat kebenaran yang Broer lihat dalam diri saya 100% benar. Saya mengatakannya ini dengan menggunakan perasaan saja bukan dengan olah pikiran ketika membaca uraian batin Broer di bawah. Dan saya heran, perasaan saya mengatakan Broer sudah lama sekali kenal saya dan saya juga pernah kenal Broer dan kita pernah saling kenalnya bukan secara fisik karena saya merasakan Broer tidak asing bagi saya, rasanya pernah bersahabat erat secara nonfisik entah di mana dan berpisah begitu saja entah bagaimana.

Dan, wah, repot juga jika saya selama ini ternyata melihat sesuatu dari sudut pandang seorang pencipta seperti yang Broer "lihat", tapi terus terang bukan saya yang menempatkan "mata" saya jadi begitu, ya, Broer, saya cuma ngikut saja, saya jadi merasa serba salah karena terlalu tidak tahu diri selama ini melihat tanpa sadar dari sisi begituan ya, Broer?

Broer, bagaimana caranya saya melatih mata ketiga/batin saya supaya bisa menguraikan dengan kata-kata secara mendetail apa yang saya bisa lihat dalam diri seseorang, diri saya dan alam semesta ini seperti Broer? Syaloom, puji Tuhan!

L = Begini, Broer, kita bisa melihat orang lain apa adanya. Orang lain juga bisa melihat kita seperti apa adanya. Tetapi, ada sekat buatan di antara kita, kita semua pakai topeng
(masks). Topeng-topeng itu adalah peran yang kita jalankan. Topeng-topeng yang dibuat oleh budaya di mana kita hidup. Itu culture, tradition, convention.

Terkadang, kita bisa melihat bahwa orang tertentu membutuhkan bantuan kita. Tetapi konvensi menyebabkan sekat itu tak tertembus. Orang itu memberikan sinyal kepada mereka yang sensitif seperti Anda.

Sinyal itu berbunyi: "Help ... help ... I'm desperate".

Tetapi itu unspoken. Dan Anda menangkap sinyalnya. Tetapi, Anda selama ini juga menggunakan topeng sebagai seorang yang tegar. Simpatik, yes. Tegar, yes. Unmoved, yes ... tetapi ada kesan dingin di seputar aura Anda. You have manners ... but orang lain itu merasa seakan-akan Anda akan menenggelamkan mereka. Ada yang kuat di diri Anda, sehingga orang-orang yang tidak memiliki rasa percaya diri akan tidak tahan untuk
berlama-lama dengan Anda. Orang-orang yang mengandalkan ajaran-ajaran agama yang telah usang, terutama, akan merasa sangat tidak nyaman berada bersama Anda ... walaupun mereka sangat membutuhkan bantuan Anda.

Dan bantuan yang mereka harapkan itu pun tidak dapat mereka artikulasikan dengan baik. They just know that you are a strong person, and you have something that they don't have, and that something make them at once afraid and attracted. They were compelled to look at you, yet not knowing what to expect.

Nah, Broer, saran dari saya adalah "talk". Just talk whatever comes to your mind at such events. When the people are near you, just talk. Just talk as if you were talking to yourself. Then talk a little bit about what kind of physical impresions you could see on
those people. Just utter your comments.

Cuma itu saja, Broer. Setelah itu mereka akan bicara. Dan setelah mereka bicara ... mungkin mereka akan bicara terus, dan terus ... dan Anda hanya cukup menimpalinya saja. Dan memberikan konfirmasi.

Kita memberikan bantuan kepada mereka yang minta. Kita tidak menawar-nawarkan bantuan kepada orang lain yang tidak membutuhkan. On the other hand, we send out
signals that ... if needed, yes, we are available.

Cuma itu saja, Broer. Kirimkanlah sinyal-sinyal itu, walaupun unspoken, bahwa you are available to help. Dan Anda akan bisa berkata apa adanya. Berkata sejujurnya, berkata seperti apa yang ada di kepala Anda, seperti yang Anda lihat di mata ketiga Anda.

B = Broer, saya sebenarnya tegar cuma terhadap diri saya sendiri dan mungkin sebagai proteksi atas adanya kekurangan dalam diri saya barangkali. Jadi bukan tegar terhadap orang lain. Simpatik, mungkin saja dari sisi orang lain yang melihat. Tapi rasanya unmoved-lah yang lebih kuat mendominasi batin saya. Unmoved karena dingin. Hasil cetakannya yang cacat. Dan saya pernah bertanya kepada mama saya (papa sudah almarhum) sepuluh tahun yang lalu, begini: "Apa yang terjadi dengan saya sewaktu masih sangat kecil, Mama?"

Mama bilang, "Sewaktu bayi papamu melarang keras mama menggendong kamu dan selalu disuruh meletakkan kamu kembali dalam baby box."

Lantas saya bertanya lagi, "Apa artinya?”

Mama saya bilang, "Seorang bayi harus sering didekap dalam dada orangtuanya ... dan batinmu kekurangan rasa kasih sayang (kehangatan)."

Dan lalu saya terdiam. Kemudian saya bertanya kembali dengan lirih, "Apakah papa juga tidak pernah menggendong saya sewaktu bayi?"

Jawab mama, "Iya, apalagi papamu."

Saya terdiam. Saya tidak membenci kedua orangtua saya karena semua manusia tidak ada yang sempurna. Mungkin saya harus menerima fakta bahwa ada sesuatu yang hilang di dalam batin meskipun setiap hari harus kesakitan mengalami kaki tersandung batu dalam melangkahkan kaki.

Dan memang, Broer, ada yang hilang dalam batin saya yaitu kehangatan. Memang naluri saya sering mendengar jeritan suara batin orang lain seperti yang Broer katakan, tapi yang sering terjadi pada diri saya adalah keterlambatan yang disebabkan unmoved itu, Broer ... seperti sebuah bejana dari tanah liat yang retak yang akan dipakai untuk mengisi air. Memang selama hidup, saya merasakan hampir semua orang merasa tidak nyaman di dekat saya padahal tidak diapa-apain meskipun mereka tidak berterus terang. Bahkan ada yang merasakan saya ini seperti akan menjadi ancaman buat mereka, hendak menenggelamkan seperti yang Broer utarakan, sering saya rasakan (alami) itu, Broer.

Saya akan praktikkan apa yang Broer anjurkan to help them, just talk atau memberikan sinyal-sinyal itu walaupun unspoken.

Tapi saya ingin tahu bagaimana caranya Broer dari jarak jauh bisa menembus/melihat mata batin serta mampu menguraikannya sedetail mungkin seperti ini. Broer bisa bantu saya melatihnya, bukan? Apa tahap-tahapnya yang harus saya lakukan sedemikian rupa
dan jika ada penghalang dalam mata ketiga saya, karena adanya kekurangan, lantas bagaimana cara menatanya kembali? GBU.

L = Dear Black Prince, ya, saudaraku ... berikanlah sinyal-sinyal itu. Katakanlah dengan gestur tubuhmu, nada suaramu, tatapan matamu ... katakanlah bahwa Anda dapat membaca dengan jelas bahwa orang-orang itu kesakitan. Kesakitan dan kesepian, dan kebingungan … dan tidak mengerti mengapa hal-hal itu terjadi dalam hidup mereka. Katakanlah dengan simbol apa pun yang muncul begitu saja saat itu kepada Anda. Katakanlah bahwa Anda mengerti, bahwa Anda melihat dengan jelas. Katakanlah bahwa tidak ada yang bisa disembunyikan di dunia ini. Katakanlah bahwa kita, manusia itu, seperti gelas-gelas kaca. Transparan. Transparent all the way to the Source of Source.

Begini, Broer, saya ini membaca Anda dari dalam diri saya sendiri. Saya membaca orang lain dari dalam diri saya sendiri. Kita ini seperti cermin yang merefleksikan apa yang dipancarkan oleh orang lain. Tanpa berusaha untuk membaca orang lain, mengerti
orang lain ... dan cukup dengan hanya berdiam saja dan menatap "batin" di dalam diri saya, saya akan melihat ada kilatan-kilatan impresi di sana. Impresi itu berasal dari orang-orang lain itu yang mengirimkan sinyal-sinyalnya ke saya. Tetapi, saya memiliki
prinsip bahwa saya tidak berhak untuk intrude ke dalam lingkaran privacy orang lain apabila tidak diminta. Jadi, walaupun saya menangkap impresi dari sekitar saya most of the time, I keep all of them to myself except ... except the people themselves talk to me
and ... and ask me to help them.

Caranya cuma melihat ke dalam batin kita sendiri, Broer. Dan itu sebenarnya adalah karunia yang berasal dari YME, bagi yang percaya kepada YME. Bagi mereka yang tidak percaya kepada YME ... itu juga tidak akan menjadi masalah karena kita bisa mengatakan bahwa itu adalah hakikat manusia hidup, ya, memang bisa melihat secara transparan apa yang ada di sekitarnya. That's our original nature. Kita sebagai kita yang alamiah, yang natural dan apa adanya sebelum segala bentukan kultural (cultural upbringings) itu kita terima. Kita manusia ini sudah dipoles sedemikian rupa dengan bentukan budaya sehingga kita tidak bisa mengenali lagi kemampuan-kemampuan dasar kita seperti mata
ketiga itu. Mata ketiga adalah mata batin kita, nur aini, tempat kita secara langsung berkomunikasi dengan the Source of source. Tetapi para pemuka agama, para pemimpin budaya, kepala tradisi ... semua seolah sepakat bahwa itu tidak ada ... bahwa Tuhan cuma bisa berkomunikasi kepada mereka saja ... dan manusia "biasa" cukup menerima apa yang disuapkan kepada mulut mereka oleh the so-called leaders of religions, cultures, and traditions.

Ini memang situasi umat manusia dari zaman dahulu sampai sekarang. Dan semua nabi-nabi itu sebenarnya mau membukakan mata batin manusia supaya bisa langsung
berkomunikasi dengan YME. Tetapi, karena manusia adalah manusia yang hewani juga ... akhirnya segalanya masuk kembali ke dalam lingkaran tak berujung di mana segala yang berasal dari atas itu kemudian dijadikan alat baru untuk saling memanipulasi. Manipulasi, dan manipulasi lagi ... for the sake of power. Power over other people.

Tapi, kita dalam hal ini, Anda dan saya dan rekan-rekan lainnya yang bisa melihat dengan jelas ... tahu bahwa kita seharusnya tidak seperti ini. Harus ada yang kita lakukan. Dan Anda tahu bahwa ada yang akan Anda lakukan ... dan Anda tahu bahwa Anda bisa melakukannya. Saya, peran saya di sini adalah memberikan konfirmasi saja kepada Anda bahwa yes, you are right.

Ya, Anda benar. Ya, Anda bisa membantu mereka yang masih terbutakan oleh bentukan budaya itu. Ya, memang kita harus jujur terhadap diri sendiri. Dan ya ... kita bisa jujur terhadap sesama kita tanpa takut. Tanpa takut. Tanpa takut akan disakiti. Why?

Why tanpa takut disakiti? Karena kita sudah merasakan sendiri bahwa apa pun yang bisa dilakukan oleh orang lain terhadap kita, we are stil alive. Kita, toh, masih tetap hidup. Masih hidup, masih bernafas ... masih bisa mencari nafkah dan ... masih bisa membantu orang lain yang lebih lemah dari diri kita sendiri kalau kita mau. Sekali lagi, kalau kita mau.

Caranya adalah dengan berbicara apa adanya. Open ourselves. Please open yourselves to other people, share your experience with other people ... in that way, other people will open up themselves verbally to you ... and not only with symbols that only certain people like you or me could read.

You could write more to me after this, but I believe our conversation up to this point will benefit many should I share it to the maillists. You'll be an anonymous person which, well, I may call Black Prince. You are a Black Prince turning to be a prince of light. We'll all live in the kingdom of light, so we are shaking off our black dresses to reveal our true nature which is light. Hence the name of our kingdom, the kingdom of light where the Lord of lords reign over all, love all, cares for all. And we practice the faith of the kingdom by caring for each other. And that's the only mark that we are from the kingdom, the kingdom of light.


+++

22. SPIRITUALITAS ALAMIAH DAN ENERGI PENYEMBUHAN

R = Rahmat
L = Leo


R = Buzzz!!!

L = Hm.

R = Selamat siang, Mas Leo!

L = Selamat siang, Mas!

R = Salam kenal.

L = Salam kenal lagi. Very cute (I was commenting on the picture of Rahmat's little daughter appearing on my monitor screen). Anything I can do for you, Mas?

R = Saya tertarik dengan paparan Mas Leo tentang spiritualitas.

L = Hm ... well, we just be ourselves. And by being ourselves, we become spiritual men and women. Caranya dengan menjadi diri sendiri, ikhlas dan pasrah. Cara alamiah, tanpa memaksakan diri, tanpa berpura-pura, tanpa memaksakan ritual, tanpa membuat aturan-aturan yang bukannya membantu, malahan membebani diri sendiri saja.

R = Maksudnya seperti apa, ya? Saya merasa nilai-nilai spiritualitas saya, kok, mengalami penurunan drstis, ya?

L = Nggak gitu, Mas ... nilai spiritual tidak akan kita rasakan sendiri, tidak kita sendiri yang nilai. Nilai spiritual itu, kan, konsep saja, konsep yang dibuat oleh sebagian orang, dan itu pun pengertiannya berbeda-beda. Menurut saya, kalau Anda bisa menjadi diri sendiri, bisa jujur terhadap diri sendiri dan terhadap sesama, bisa membantu sesama yang layak Anda bantu, bisa mengajarkan nilai-nilai manusiawi kepada sesama melalui tindakan Anda yang apa adanya tanpa dibuat-buat ... menurut saya, itu berarti Anda adalah seorang manusia yang spiritual.

Menjadi spiritual tidak berarti menjadi seorang yang "aneh", yang mengenakan pakaian dengan model tertentu, yang berbicara dengan aksen tertentu, yang mengutip ucapan-ucapan tertentu. No, not like that at all. Itu, kan, cuma "topeng" saja untuk dianggap
spiritual. Apakah sebenarnya orang itu spiritual, juga belum tentu. Menurut saya, bahkan, orang yang benar-benar spiritual tidak akan memedulikan segala perangkat, pernak-pernik, itu. Untuk apa? Segala perangkat itu, kan, cuma untuk mengimpresi orang saja, dan itu malahan kebanyakan tidak membantu orang, tetapi malahan bikin orang tambah stres, ya, gak?

R = He he ... saya cuma ngerasa sekarang hati saya tidak bisa setenang dulu, dan saya merasa penyebabnya spiritualitas saya sudah turun.

L = Kalau Anda merasa seperti itu, berarti Anda memiliki solusi tentang hal yang harus dilakukan agar spiritualitas Anda bertambah, kan? Why don't you just do it! Do whatever you feel that you need to do! So what?

R = Itulah sebabnya, Mas, saya merasa, kok, masih "terpaksa". Kurang ikhlas, gitu.

L = Begini, Mas, kalau Anda merasa terpaksa, berarti Anda sebenarnya tidak percaya kepada aturan-aturan tentang spiritualitas yang selama ini Anda pelajari. Anda memiliki pengertian sendiri, yang Anda pelajari sendiri, tetapi Anda ragu untuk menerapkannya karena orang lain tidak mengerti ... Anda takut dikritik, takut dibilang nyeleneh.

Well, menurut saya, what you need to do is be yourself? Jalankanlah apa yang Anda rasa "sreg", yang memuaskan nilai kejujuran batin Anda itu. Untuk apa menjalani segala aturan yang dibuat oleh orang lain itu kalau Anda sendiri tidak meyakininya lagi? Aturan, kan, dibuat oleh manusia, Mas … dan harusnya bisa diubah pula oleh manusia. Kalau sudah tidak memadai lagi, kalau dirasa sudah tidak bisa memberikan kedamaian lagi, untuk apa diikuti? Ikutilah kata hati Anda, kata hati Anda adalah suara batin Anda.

R = Mas, ngomong-ngomong tentang indera keenam saya, apakah benar bahwa itu merupakan bawaan?

L = Ya ... langsung saja dipakai, ya … penyembuhan, malah gak pakai doa, so what? Pakai tangan, ya, telapak tangan.

R = Begini, Mas, nenek saya dulu, kan, bisa nyembuhin orang.

L = Hm, kuat sekali.

R = Sekarang bapak saya juga bisa melakukan yang sama.

L = Hm ... aku bisa rasa dari sini, lho, penyembuhan fisik, Mas. Fisik.

R = Maksudnya bagaimana, Mas?

L = Itu, yang ada di Anda, adalah kemampuan mengalirkan energi penyembuhan yang gunanya untuk menyembuhkan orang sakit fisik, itu yang aku rasa. Tanpa sentuhan bisa, tapi lebih ok kalau Anda mau pakai telapak tangan Anda. Sentuh saja orangnya, diusapkan saja, paling jauh pakai air dan minyak, cuma itu saja. Menyembuhkan orang sakit fisik yang sumbernya adalah stres pekerjaan, stres rumah tangga, segala macam
stres batin yang membawa fisik menjadi sumber segala macam penyakit. Asalnya dari batin, tetapi muncul di fisik. Nah, Anda adalah seorang penyembuh bagi kasus-kasus demikian, itu yang aku baca. Malahan bisa tanpa doa sama sekali … tapi, sebaiknya pakai doa juga untuk memberikan ketenteraman kepada orang yang minta bantuan. Itu saja.

R = Waduh, saya malah tidak tahu, Mas!

L = Coba, Mas. Dicoba, ya!

R = Perlu latihan khusus?

L = Gak perlu, just do it, wong aku bisa merasakan energi sampeyan dari sini. Very strong, very healthy, just do it, Mas. Nanti akan ada yang minta bantuan penyembuhan, dan apa yang Anda rasakan harus lakukan saat itu, lakukanlah, lakukan apa adanya ... dan, orang akhirnya akan terbantu. Memang seperti itu jalannya tanpa perlu ada tata-cara segala macam. Very simple. Hal-hal yang nyata itu selalu very simple dan tidak dibuat-buat.

R = Mas, energi itu datangnya dari mana?

L = Ha ha … dari atas. Dari dalam. Anda ini perantara saja. Sama seperti saya, cuma perantara saja, segalanya itu asalnya dari atas. So what? Jalanin aja. We do whatever we can do. What we can't do, we leave to the almighty. Simple, kan?

R = Iya, sih.

L = Hm.

R = Saya ini, kan, orangnya rasional dan sulit untuk konsentrasi, bagaimana menurut Mas?

L = Just be yourself, apa adanya saja. Kalau mau dibilang "ilmu", ilmu sampeyan itu adalah ilmu naluriah yang gak perlu konsentrasi. Cukup lakukan apa yang Anda rasa ingin Anda lakukan untuk memberi bantuan, untuk menyembuhkan. And it works like that, tanpa perlu konsentrasi, meditasi, doa, dsb.

Ada macam-macam jenis teknik, Mas. Untuk yang golongan naluriah seperti Anda, segala konsentrasi itu malahan gak perlu, malahan akan menghambat. Just do whatever you feel you need to do. That's it! Energinya sudah ada, gak perlu dicari-cari lagi. Energinya ada di diri Anda, bahkan saat ini.

R = Saya masih bingung, Mas, bisa kasih contoh realnya?

L = Begini, misalnya di tempat kerja Anda seseorang tiba-tiba pingsan … bapak-bapak yang stres berat karena anak-anaknya harus masuk sekolah baru, dan istrinya harus masuk rumah sakit ... Anda ada di ruang itu. Semua orang panik, ingin bawa bapak itu ke rumah sakit, dikiranya kena serangan jantung. Tapi Anda merasa bahwa Anda cukup memegang kepala bapak itu, dan mengurut belakang kepalanya, setelah itu Anda tekan
dadanya, dan Anda tarik kedua lengannya. Setelah 10 menit Anda melakukan itu, bapak itu sadar. Mula-mula seperti orang linglung, tapi lama-kelamaan mulai sehat lagi ... dalam waktu 30 menit sudah sehat. Itu contohnya. Dan bahkan bapak itu mungkin akan hilang stresnya secara total setelah kejadian itu sehingga akhirnya bisa mengatasi kesulitannya dengan tenang, dan tanpa kekuatiran lagi. Itu energi, Mas ... cara kerja energi memang seperti itu. Anda ini di penyembuhan fisik bagi orang yang sakit fisik karena stres emosional.

R = Ok. Ok, Mas.

L = Hm ... I'm happy talking with you.

R = Saya juga sangat senang dapat ilmu baru dari Mas Leo. Sampai nanti lagi, Mas Leo!

L = Sampai nanti, bye!


+++

23. ITULAH MATA KETIGA, SEPERTI ITU KERJANYA

I = Ikhsan
L = Leo


I = Salam dari Yogya.

L = Salam lagi.

I = Akhirnya bisa chatting juga. Sebenarnya dah lama pingin.

L = Hm. Anything I can do for you?

I = Mas, tolong, dong, bantu bukain mata ketiga saya. Boleh, kan?

L = Langsung tarik aja sekarang dari aku, now….

I = Caranya?

L = Pake doa. Baca doanya, dan tarik pake niat.

I = Saya merasa kening saya agak hangat.

L = That's it.

I = Apakah itu reaksinya?

L = Teruskan saja, teruskan sampai beberapa saat lagi.

I = Makasih, Mas.

L = Welcome.

I = Now, some questions.

L = About what?

I = Seperti yang sudah pernah saya ceritakan ke Mas Leo, saya tertarik pada everything about komunikasi, termasuk komunikasi antara hamba dengan Tuhannya.

L = Gunakan mata ketiga itu, itu tempat komunikasi antara kita dan Tuhan.

I = Oh, ya? Pernah beberapa kali saya baca buku tasawuf, seringkali saya tiba-tiba merasakan kaget yang terasa di dada, kayak orang kebanyakan minum kopi, gitulah. Saya kira bukan karena banyak baca juga, karena bacanya juga jarang-jarang.

L = Capek, ah, baca itu. Langsung aja communicate, gak perlu baca buku-buku tasawuf, bikin bete aja, bikin pusing, padahal gak gitu-gitu amat, that's the answer.... Kalo kaget terus gimana?

I = Seolah ada yang tiba-tiba kosong, apa cuma perasaanku saja?

L = Hm ... itu kondisi alpha, memang bakat spiritual ... terusin aja. Gak usah kaget jadi orang spiritual yang bisa baca orang lain, yang bisa bantu orang lain. Tapi kondisi blank itu gak lama biasanya, paling 10 menit, udah gitu normal lagi. Gak apa-apalah!

I = Iya, sih.

L = Next question?

I = Biasanya pas lagi ngobrol sama temen-temen BEM....

L = BEM apa, seh?

I = Badan Eksekutif Mahasiswa. Saya, kan, mahasiswa. Yah, jadi aktivis dikit-dikitlah.... Nerusin yang tadi, trus saya ngomong ke mereka kok perasaan saya jadi gak enak, saya pikir itu pengaruh dari buku-buku yang saya baca, trus efeknya saya berhalusinasi bisa merasakan sesuatu, akan terjadi apa ... tapi, akhirnya, ya, saya pasrahkan aja pada Tuhan. Semoga saya bukan termasuk pemimpi ato istilah sufinya penyakit waham. Next question....

L = Hm, panggilannya siapa, seh? Namanya siapa, seh?

I = Oh, maaf, lupa. Nama saya M. Ikhsan. Biasa dipanggil Ikhsan.

L = Ok aku inget, Ikhsan. Mikir cewek wajar, loh, jangan ekstrem, ah!

I = Ya, iya, saya tau. Kalo masalah itu ceritanya gini, Mas.

L = Hm.

I = Saya, kan, sedang proses menghafal Al Qur’an. Sejak SD saya itu di pondok ... nah, ada seorang ustad berkata pada saya di akhir tahun ke-6 (perlu diketahui saat itu saya belum berhasil khatam, sedangkan teman yang lain sudah ):

"San, kalo kamu masih dalam tahap menghafal, jangan sekali-kali ngurusi cewek karena cewek, ups, perempuan adalah godaan terbesar dan terberat bagi penghafal Al Qur’an".

L = Hm.

I = Oh iya, sampai saat ini pun saya belum berhasil menyelesaikan hafalan itu.

L = Gak apa-apa, kita yang wajar ajalah, gak usah ekstrem amat.

I = Ditambah lagi, dua kali saya suka dan mungkin jatuh cinta, ternyata berakhir dengan kesalahpahaman. Dari situ saya berfikir,mungkin belum saatnya bagi saya untuk menyibukkan diri dengan urusan perempuan. Gitu aja, sih, Mas. Kok malah keluar jalur, ya?

Pertanyaan saya yang kedua: kata Mas Leo, kan, kalo kita gunakan mata batin, maka kita bisa melihat sesuatu apa adanya, tanpa atribut-atribut, topeng-topeng, dll.... Apakah itu berarti secara fisik kita dapat melihat sesuatu yang berbeda dengan apa yang orang lain lihat ... atau itu cuma dalam persepsi kita? Karena pernah guru Madrasah Tsanawiyah (sama dengan SLTP) saya bercerita juga tentang mata batin dan contoh konkretnya adalah ketika salat Jumat misalnya, beliau bisa melihat orang-orang punya ekor layaknya kera, ikut dalam barisan salat, benarkah itu?

L = Itu simbol saja, kera adalah simbol kedegilan. Orang lain bisa melihat simbol lain, walaupun maksudnya sama ... Itulah mata ketiga, seperti itu kerjanya.

I = Maksud saya, apakah yang dikatakan guru saya bahwa beliau melihat ekor itu benar adanya? Atau sebenarnya guru saya hanya melihat kedegilan orang dan cerita ke saya dengan simbol ekor.

L = Simbol doang, secara fisik gak ada.

I = Ooo … makasih.

L = Welcome. Bye!


+++

24. MATA KETIGA DAN KEGUNAAN PRAKTISNYA

A = Adit
L = Leo


A = Buzzz!!!

L = Yes?

A = Selamat siang, Pak Leo! Maaf, Pak, saya ganggu.

L = Selamat siang! Anything I can do for you?

A = Perkenalkan, nama saya Adit, domisili Blitar. Saya sangat tertarik dengan apa yang Bapak ungkapkan di milis. Kalau boleh, saya juga sangat berminat untuk bisa seperti yang lain, yaitu tentang mata ketiga. Bisa, ya, Pak? Tolong ... sudah lama saya ingin mengaktifkan mata ketiga saya.

L = Bisa. But, coba dibaca dulu semua postingan saya tentang mata ketiga. Please check di milis Spiritual Indonesia ..

A = Baik, Pak, tapi Bapak gak segera off, kan? Saya sudah mencoba banyak teknik tapi, kok, gak ada hasilnya, ya? Dan saya sudah pusing mau mencari petunjuk di mana lagi. Maka dari itu, mohon Pak Leo sudi membantu saya….

L = Coba baca dulu tulisan-tulisan aku dengan topik mata ketiga yang bisa ditemukan di milis Spiritual-Indonesia. Kalau belum jelas, bisa ditanyakan langsung ke aku.

A = Iya, Pak, ini masih aku coba. Pak, ini saya sudah join dan juga udah baca-baca sekilas posting Bapak.

L = Good.

A = Dari percakapan-percakapan itu makin membuat saya ingin sekali mengaktifkan mata ketiga saya. Cuman saya cukup bosan dengan teknik-teknik yang saya gunakan selama ini, because kayaknya gak ada peningkatan. Ya, hanya sebatas itu-itu aja. Kalau boleh saya minta, teknik apa yang bisa saya gunakan, ya, Pak? Jujur, Pak, saya juga lagi ada masalah.

L = Hm, begini teknik saya. Anda di saat ini, apa pun status Anda, apa pun milik Anda, apa pun masa depan Anda ... lupakan itu semua. Ikhlaskan apa yang terjadi di diri Anda di masa lalu. Pasrahkan apa yang akan terjadi pada Anda di masa depan. Kalau Anda mau, saya bisa membantu menyamakan frekuensi mata ketiga yang ada di saya dengan mata ketiga Anda.

Mintalah kepada YME agar mata ketiga Anda dibukakan saat ini juga, dan saya akan membantu untuk menyamakan frekuensinya dengan mata ketiga saya. Mintanya dengan
doa, doa apa saja yang paling Anda sukai. Syaratnya cuma satu itu: ikhlas dan pasrah ... Dengan tujuan menjadi diri sendiri, apa adanya. Apabila itu yang Anda inginkan, Anda bisa memintanya saat ini juga

A = Saya lakukan sekarang juga, Pak.

L = Ok ... amin. Lepaskan saja semuanya, Mas. Gak perlu dibawa-bawa begitu lama. Yang ada di kepala Anda itu terlalu berat, harus dilepaskan semuanya. Diikhlaskan.

A = Aduhhh, aku jadi malu….

L = Ini energi-energi, Mas!

A = Kok, Pak Leo tau, ya?

L = Energi-energi, bukan energi batin tetapi energi alam. Lepaskan saja semuanya, dan mulailah mengandalkan diri pada batin Anda yang bisa konek langsung dengan YME. Nanti segalanya akan berjalan apa adanya, tanpa Anda perlu memikirkan strategi, taktik, dsb., itu yang cuma bikin pusing dan capek saja.... Anda bisa beristirahat di mata ketiga Anda yang tidak pernah tidur itu, tempat di mana roh Anda bertemu dengan roh Tuhan. Cuma akan ada kedamaian di sana. Terimalah itu, dan ikhlaskanlah yang lewat, dan pasrahkanlah yang akan datang.

Nanti, ketika Anda harus mengambil keputusan, akan ada yang muncul dari mata ketiga Anda. Akan muncul apa yang Anda cari-cari dengan susah payah itu. Dan munculnya begitu saja. Seperti kilat, sekelebat, dan Anda akan langsung mengerti, dan Anda akan bisa langsung gunakan.

Mata ketiga seperti itu, Mas, dan bukan untuk melihat yang aneh-aneh seperti di TV itu. Itu, kan, cuma rekayasa saja untuk membodohi orang banyak agar tayangannya memeroleh rating tinggi. Realitanya gak begitu. Mata ketiga itu mata batin, tempat roh Tuhan di diri kita. Tempat kita berkomunikasi dengan YME. Kalau tidak relevan dengan kehidupan kita, kita juga gak diizinkan untuk melihat yang aneh-aneh itu. Yang diperlihatkan adalah yang perlu kita lihat. Itu saja pendapat saya.

A = Astaghfiruullahalazdiim! Subhanallah!

L = Subhanallah….

A = Baru kali ini saya merasakan benar-benar takjub sampai unek-unek saya yang paling dalam pun Pak Leo tahu.

L = Itu datang dari mata ketiga, Mas. Datang langsung dari mata ketiga tanpa saya berpikir.

A = Trus apa yang selanjutnya saya lakukan, memang saat ini saya sedang memelajari ilmu penyembuhan dengan menggunakan teknik penarikan alam semesta, dan
kebetulan saya seorang yang bekerja sebagai petugas kesehatan. Jadi saya ingin sekali membantu sesama dengan menggunakan teknik yang bukan dari obat-obatan kimia.

L = Bagus itu.

A = Lha, trus, kok! Jadi teknik yang sedang saya lakukan ini bisa diteruskan? Maaf saya sedikit bingung.

L = Tentu saja, why not? Yang saya lihat adalah bahwa segala teknik energi alamiah itu memiliki batas-batas. Ada keterbatasannya.

A = Dan gimana saya bisa melatih dan memertajam mata ketiga saya? Jujur saja, tadi saya merasakan tekanan yang cukup terasa berawal dari wajah memenuhi kepala, trus turun ke leher, dada, sampai kaki. Apakah cuma sesederhana yang Pak Leo utarakan tadi, yakni pasrah dan ikhlas ? Dan saya juga masih rancu dengan batasan pasrah dan ikhlas itu sendiri.

L = Mas, mata ketiga itu sederhana. Ikhlas dan pasrah adalah kuncinya. Amalannya adalah Al Ikhlas, "Qulhu Allahu ahad, Allahush shamad, lam yalid wa lam yuulad wa lam yaqul lahuu qufuwwan ahad". Sangat simpel, sangat sederhana. Dan itu cuma di satu titik itu, di tengah batok kepala.

Yang Mas rasakan itu, yang turun dari kepala ke wajah, leher, dada, dan seluruh tubuh adalah energi roh yang berasal dari mata ketiga. Terima saja, Mas, nanti segalanya akan tersortir sendiri. Nanti Anda akan merasakan sendiri bagian mana dari "ilmu" Anda yang
tidak bisa dipakai lagi, dan mana yang masih bisa dipakai terus. Semua pengertian itu akan muncul sendiri di kepala Anda tanpa Anda berusaha untuk bersusah-payah menemukan hubungan-hubungannya.

Akan muncul pengertian-pengertian. Munculnya begitu saja pada saat Anda memerlukannya. Memang ada iman. Kalau kita mengucapkan Al Ikhlas, kita mengucapkan dengan iman.

Dan kita bilang amin. Dan roh itu langsung bergerak mengisi relung-relung yang hampa, sehingga segalanya akhirnya akan penuh dan mengalir keluar dari diri Anda menuju orang-orang lain yang ingin Anda bantu itu.... Cuma itu yang bisa aku tulis. Penerapan spesifiknya akan muncul sendiri di kepala Anda. Tapi memang benar, segalanya mulai dengan sederhana. Ikhlas dan pasrah. Dan tetap berlanjut terus dengan prinsip yang sama.
Ikhlas dan pasrah. Cuma itu saja kuncinya.

A = Terima kasih atas petunjuk Pak Leo.

L = Terima kasih kembali, Mas.

A = Tapi, Pak, kalau Pak Leo tak keberatan, ada hal yang ingin saya utarakan ke Pak Leo. Ini sangat mengganggu saya.

L = Silahkan, Mas!

A = Umur saya 26 tahun.

L = Ya.

A = Alhamdullilah saya sudah beristri. Usia perkawinan kami baru 6 bulan.

L = Yes?

A = Dan saya mencoba untuk hidup mandiri dengan coba-coba kontrak di perumahan. Saya dan istri saya awalnya merasa nyaman tinggal di tempat itu, tapi itu cuman berlaku untuk 3 hari.

L = Then?

A = Setelah 3 hari, istri saya tiba-tiba bermimpi didatangi kuntilanak…. Awalnya saya katakan itu cuma mimpi, karena saya sendiri tidak merasakan adanya makhluk yang diimpikan oleh istri saya. Sebab, menurut pengalaman entah benar atau salah, kalau ada mahkluk dari dimensi lain yang ada disekitar saya, saya merasakan hawa hangat di bagian tubuh saya.

L = So?

A = Tapi saat itu saya tidak merasakan apa pun. Namun demikian, mimpi demi mimpi dengan tema perkuntilanakan itu terus menghantui istri saya.

L = Itu bukan apa-apa, Mas. Itu adalah ketakutan di diri istri Anda akan peran dia sendiri sebagai seorang perempuan. Istri Anda takut tidak bisa memenuhi ideal Anda.

A = Saya terkadang tidak percaya.

L = Itu bukan yang aneh-aneh itu, Mas, aku bisa merasakan dari sini. Yang muncul itu adalah ketakutan-ketakutan yang ada di diri istri Anda sendiri. Dia takut akan mengecewakan Anda, takut kalau sifat jeleknya muncul sehingga mengecewakan Anda. Sebenarnya istri Anda sampai saat itu belum benar-benar menjadi diri dia sendiri. Dia berusaha dengan segala cara untuk menyenangkan Anda. Dia berusaha menutupi sifat jeleknya. Tetapi, usahanya itu akhirnya menekan jiwanya sendiri sehinga "sifat-sifat jelek" yang tertekan itu akhirnya muncul dalam mimpinya dalam rupa "kuntilanak" ... could you follow what I mean?

A = Ya, sedikit. Trus kalo gitu, apa yang mesti saya lakukan, Pak?

L = Well, bebaskanlah istri Anda untuk menjadi dirinya sendiri. Anda tidak perlu mengulang-ulang kepadanya tentang apa yang Anda harapkan dari seorang istri yang
baik. Dia sudah tahu sendiri apa yang harus dilakukannya. Malah, saya lihat, Anda perlu berbicara juga bahwa Anda lebih senang istri Anda menjadi dirinya sendiri di hadapan Anda. Kalau tidak senang, perlihatkan rasa tidak senang. Kalau capek, perlihatkanlah. Kalau bosan, perlihatkanlah. Hal-hal seperti itu, saya lihat, adalah yang takut diperlihatkan oleh istri Anda kepada Anda. Karena takut diperlihatkan, maka muncullah dalam bentuk mimpi yang menyeramkan itu. "Kuntilanak" itu. Yang sebenarnya cuma simbol belaka.

A = Ok, saya sangat berterima kasih pada Pak Leo.

L = Terima kasih kembali, Mas.

A = Mungkin ini adalah pelajaran yang sangat berharga buat saya.... Kalau lain waktu saya pingin ngobrol lagi sama Pak Leo, boleh, kan? Saya mau Jumatan dulu, mungkin agak terlambat.

L = Boleh, Mas. Talk to you later, yah? Bye!

A = Maaf, mengganggu Pak Leo.

L = Gak mengganggu.

A = Ok. Bye!


+++

25. APAKAH AKU TIDAK PEKA MENGENAI MATA KETIGA?

I = Ivonne
L = Leo


I = Dear Mas Leo, aku, kok, ngerasa aneh aja tentang mata ketiga … meski aku dah coba ... tapi gak bisa, tuh ... kenapa, ya? Ato aku yang gak peka ato apa ya...?

L = Dear Mbak Ivonne, I have already explained in as simple as possible terms tentang mata ketiga dan segala ramifikasinya yang relevan. Malah, untuk menjelaskannya secara
konkret, aku memposting percakapan-percakapan dengan berbagai rekan di pelosok Nusantara tentang mata ketiga itu. Memang ada penyelarasan frekuensi yang langsung aku lakukan ketika chatting dengan mereka, dan rekan-rekan yang jeli bisa melihat dengan jelas bahwa percakapan-percakapan di Yahoo Messenger (YM) itu berfungsi sebagai semacam snapshots, semacam rekaman live, live recordings or even live documentary tentang proses pembukaan mata ketiga. Mereka yang terbiasa berlatih dengan energi-energi alam semesta melalui berbagai ilmu pseudo-science seperti kundalini, reiki, shambala, prana, dsb. ... dan even dari aliran yang mana saja akan dengan mudah mendeteksi bahwa percakapan-percakapan di YM itu mengandung energi-energi. Energinya berbeda-beda tergantung dengan siapa bercakap-cakapnya.

Nah, mata ketiga is also about perceiving different kinds of energy. Ada energi tanah, udara, air, api ... yang di Jawa disebut sebagai sedulur papat.

Itu berbeda-beda rasanya, Dear Mbak Ivonne, rasane beda. Dan kegunaannya juga
berbeda-beda. Dengan mata ketiga kita akan bisa langsung melihat atau merasakan walaupun dengan bukan mata fisik. Jadi, kita bisa menggunakan istilah "melihat" atau "merasakan". Malah, sebagian orang akan memakai istilah "mendengar"…. Nah, semuanya itu adalah manifestasi dari mata ketiga.

Jadi, sebenarnya mata ketiga itu apa? Mata ketiga is istilah saja. Aku menyebutnya juga sebagai mata batin, nur aini.... Dan itu lebih daripada sekedar satu cakra utama seperti diajarkan oleh metode kundalini. Lebih daripada sekedar satu titik untuk manunggaling kawula lan Gusti seperti yang diajarkan oleh sebagian aliran kejawen. Mata ketiga menurut pengertian aku adalah tempat komuni antara roh manusia dengan roh Gusti Allah, sekaligus sebagai mata batin yang bisa mendeteksi segala sesuatu yang diperlukan agar kehidupan sesama dan diri sendiri bisa menjadi lebih baik, lebih manusiawi, lebih rohaniah ... lebih ke arah yang di tepat di jalur misi pribadi kita masing-masing dalam kehidupan kali ini di dunia maya ini....

And? And sekaligus sebagai perangkat batin untuk menyalurkan apa yang dimiliki oleh kita sebagai karunia roh: ada yang berbakat sebagai penyembuh fisik, penyembuh emosi luka ... ada yang memiliki hikmat ... ada yang memiliki peran sebagai "oli" penyelaras hubungan antara manusia.

Peran-peran kita sebagai manusia itu berbeda-beda; dan mata ketiga yang terbuka bebas dan merdeka di diri kita akan membantu kita untuk menjadi diri kita sendiri yang asli, yang sebenarnya, sehingga kita bisa menjalankan peran kita sebagai manusia di jalur yang memang telah kita pilih (atau dipilihkan, bagi yang suka memakai istilah "takdir") bagi jalan hidup kita masing-masing.

Tentu saja Mbak Ivonne bisa memberikan definisi sendiri tentang mata ketiga. You
have the right to do it.... Tetapi, pengertian-pengertian mendasar seperti tertulis di atas itulah yang aku pakai. Dan kuncinya cuma satu, yaitu sikap ikhlas dan pasrah. Pendekatannya cuma satu: lintas agama. Kita menggunakan pendekatan lintas agama yang tidak lain dan tidak bukan adalah pendekatan jujur karena pada dasarnya segala agama is buatan manusia belaka dan bisa dibongkar pasang anytime whenever we feel that it is no longer needed. And whenever we feel intuitively that what the religions teach in so difficult terms can be explained in terms lebih membumi seperti yang aku pakai sekarang ini.


+++

26. MATA KETIGA DAN PENCAHARIAN JATI DIRI

W = Wicaksono
L = Leo


W = Pagi, Mas ... masih off line atau invisible?

L = Pagi, aku invisible, lagi ngedit untuk posting.

W = Mas ... aku dah banyak baca postingan Mas di milis tentang percakapan Mas dengan beberapa teman yang lain.

L = Hm. Bukannya aku sok tahu, Mas, tetapi rasanya cara itulah yang paling mudah untuk menyampaikan apa yang aku rasa perlu disampaikan kepada teman-teman lainnya. Ada semacam "misi" yang datang secara spontan ke banyak orang di antara kita. Dan "kebetulan" aku memeroleh peran untuk menjadi somebody "strange" that could connect all of the supposedly-unrelated parts of our society to become one in this, well, shall I say ... spiritual movement?

W = Sudah bacakah message saya, Mas, di YM? Saya waktu niat untuk terhubung dengan mata ketiga dan mencoba menyelaraskan energi dengan mata ketiga Mas ... kok, langsung urat leher saya kaku semua, yah, Mas?

L = Kalau leher yang kaku-kaku itu, Mas Wicak ... let me try to meditate a while, ya, coba rasakan bagaimana dalam waktu beberapa menit ini.

W = Ok, Mas.

L = Energi api, ya, Mas?

W= Maksudnya?

L = Kok aku merasa ada hubungan dengan Gunung Lawu, ya, Mas?

W = Wah, saya malah nggak pernah ke sana, Mas....

L = Ini energi penyembuhan fisik, Mas, warisan leluhur Mas, diterima saja.

W = Oh.... Baru saya tahu....

L = Rasanya seperti ada yang berputar-putar di tubuh. Untuk membantu mereka yang memeroleh kesulitan di bagian "tenggorokan". Maksudnya, bagi mereka yang
mengalami kesulitan bicara, kesulitan mengungkapkan pikiran, pendapat, perasaan, ... termasuk intuisi-intuisi ... sampeyan ini memiliki energi penyembuhnya.

W = Waduh…. Saya bener-bener nggak tahu tentang hal ini.

L = Aku merasa energinya memang kuat di bagian tenggorokan, leher ... sampai ke tangan kiri dan kanan. Sampeyan cukup menjadi diri sendiri saja, bicara apa saja dengan mereka ... biarkan mereka bicara ... dengarkan. Lalu, tanpa disadari, akhirnya segala hambatan-hambatan komunikasi yang mereka rasakan selama ini akhirnya akan lenyap sendiri.

W = I see….

L = Itu yang aku rasakan. Tentu saja, Mas Wicak harus mencoba sendiri. Lihat, buktikan apakah yang aku tulis benar atau tidak. You'll know yourself, Mas.

W = Thanks, Mas ... btw, sebenernya perjalanan spiritual saya saat ini gimana, yah, Mas?

L = Dijalani saja. Dan aku juga tahu bahwa masih ada yang lain, Mas. Akan datang sendiri nanti. Enjoy aja, yah?

W = Apaan, tuh, yang lain, Mas...???

L = Enjoy aja.

W = Mohon, dong, saya dibaca ... pleaseeeeeee ... setidaknya itu akan menjadi cambuk buat saya.

L = Yang lain datang sendiri nanti. Aku cuma merasa ada sesuatu di Gunung Lawu. Coba tirakatan di sana, ya, Mas? Aku merasa sampeyan ini punya koneksi ke sana.

W = Hm....

L = Kalau aku kasih tahu sekarang nanti gak seru lagi, dunk. So?

W = Bisakah saya dibaca, Mas ... sangat berharap sekali…. Mas pasti bisa merasakan energi keinginan saya saat ini.

L = Anda ini energinya elemen udara, artinya mempunyai kemampuan komunikasi. Elemen udara is the will, kekuatan kemauan. Itu ada di diri sampeyan, itu bawaan. Nah, Gunung Lawu itu elemen api. Untuk bisa berjalan dengan berkobar-kobar dan nyata menghasilkan, elemen udara perlu berpartner dengan elemen api sehingga segalanya itu seperti berjalan sendiri di diri Anda.... Ini tentang sedulur papat. Jadi, Anda
pegang udara dan api.

W = Tentang sedulur papat saya pernah menjalin juga, Mas.

L = Ya, itu roh dari elemen-elemen bumi. Anda ini elemen utamanya adalah udara, itu yang aku lihat. Nanti kita semuanya balanced, toh? Akhirnya akan seimbang semuanya, tapi waktunya lama, harus nunggu sampai sepuh barangkali…. Tetapi, yang kuat berupa elemen udara di sampeyan itu sudah bisa langsung digunakan untuk membantu sesama untuk membuka diri, mengungkapkan pikiran, pendapat, dsb.... Cuma, untuk menambah kekuatan dari elemen udara itu, perlu ditambah dengan elemen api ... yang aku lihat bisa diperoleh dengan tirakat di Gunung Lawu. Itu pun kalau sampeyan mau. Ok?

W= Adakah cara lain, Mas ... selain ke Gunung Lawu?

L = Ha ha, tarik langsung, Mas. Aku tarik langsung dari Gunung Lawu. You can do that too.

W = Nah, itu dia gimana??? Jadi nasihat Mas untuk saya saat ini bagaimana, Mas...??? Bagaimana dengan energi saya dan apa yang mesti saya lakukan dalam kaitannya
dengan Gunung Lawu? Saya baca di postingan Mas ... puasa juga nggak mesti, ataupun tirakatan juga nggak mesti untuk mencapai sesuatu keinginan.... So, bagaimana saran Mas, supaya saya bisa menarik energi Gunung Lawu agar menyatu dengan saya ... dan tersingkap hubungan saya dengan Gunung Lawu tersebut?

L = Mau pakai tirakat, boleh. Mau pakai doa, boleh. Mau pakai meditasi, boleh. Just do it. Nanti akan berasa sendiri ada yang masuk. Gunung Lawu itu elemennya api. Kalau masuk, rasane sar-ser-sar-ser ... hangat di tangan, di dada, sampai ke wajah dan kepala, bahkan bisa ke kaki juga. Diniatkan saja, Mas. Sampeyan ini, kan, kuat di niat. So, diniatkan saja. Aku sendiri percaya sampeyan bisa kalau mau.

W = Saya ini jadi merasa sangat bodoh sekali. Bolehkah saya sharing sedikit, Mas?

L = Mangga, Mas!

W = Saya sudah banyak juga ikuti banyak hal spiritual, mulai tariqat, sedulur papat, bahkan saya sempat juga ke Sirnagalih di Jakarta, Mas....

L = Ya.

W = Namun esensinya belum saya dapat ... saya belum bisa menemukan diri saya itu sendiri.

L = You are elemen udara, Mas.

W = Saya belum menemuka "Tuhan" itu sendiri.

L = Sampeyan ini semuanya dipikirkan, merasa perlu diolah, termasuk "Tuhan".

W = Padahal katanya Tuhan, kan, tidak dicari lagi….

L = Tuhan itu, kan, konsep saja, Mas.

W = Saya inilah perwujudan tuhan.

L = That's it! When you feel, God feels. When you are hurt, God is hurt. When you love, God loves.

W = Konsep tentang Tuhan … saya tahu, Mas … bagaimana.… Tapi "rasa" itu, Mas, saya belum di haqqul yakin ... kalau orang Islam bilang.

L = It's as simple as I can write it.

W = I see.... Nah, di Paguyuban S kita diajarkan tentang konsep materialisasi segala….

L = Mas, please forget all about that. God is in us, isn't that not enough?

W = Yah, saya pengen menjadi ... to be myself, Mas.

L = Just be yourself, like what you are doing right now. Right now you are yourself, you write to me from within yourself. You are yourself.

W = Ok…. I feel better now.

L = Sampeyan telah menjadi diri sendiri, dan gak perlu mencari-cari "diri" seperti yang dikonsepkan oleh orang-orang lain itu. Mereka sendiri tidak menemukan siapa diri mereka ... lah, ini mereka mau menghalangi jalan orang-orang yang mau menjadi dirinya sendiri.

W = Hanya saja saya juga ingin terlepas dari segala permasalahan hidup saya ... saya ingin menjadi senang mendapatkan surga itu dari sekarang.

L = Surga is peace in our heart. Now, right now.

W = Bener sekali.

L = Caranya dengan menerima diri sendiri apa adanya. Diri saya, diri Anda ... apa adanya. Dengan segala ketidaksempurnaan itu, terimalah apa adanya. Kalau memang tidak sempurna, yo wis ... mau diapakan lagi? Tapi inilah diri kita. Diri kita apa adanya. Dan itu kita terima. Dan kita mengucap syukur. Syukur alhamdulillah atas segalanya, atas segala yang diberikan olehNya. Dan kita ikhlaskah apa yang telah lalu itu, jalan jatuh bangun itu, dengan segala suka, sakit, dan duka berlumpur itu. Kita ikhlaskan segalanya.

Mengapa begitu? Karena kita tahu kita gak bisa menjadi diri kita yang sekarang ini, walaupun masih tetap tidak sempurna, tanpa melalui jalan berlumpur di masa lalu itu. Dan kita pasrahkan akan apa yang terjadi pada diri kita di masa depan. Apa pun yang terjadi, kita pasrah. Mau jadi orang terkaya sedunia, kita pasrah. Mau jadi orang termiskin sedunia pun, kita pasrah juga. Pasrah akan apa yang terjadi. Segalanya yang akan terjadi itu adalah probabilitas. Kemungkinan-kemungkinan sama saja. The future is probable. Kita pasrahkan, kita gak pikirkan, kita serahkan. Dan kita akan tiba pada diri kita sendiri. Saat ini. Detik ini. Itu diri sendiri, Mas. Dan itu surga.... Lalu, Tuhannya di mana? Tuhannya, ya, di diri itu. Di diri kita sendiri itu.

W = Yah, Mas ... bahkan saya waktu salat Jumat, waktu imam baca surat Maryam saya tertawa sendiri dalam hati.... Saya pikir, "wah, gila saya ini ... kok, malah tertawa...?”

L = Hm, aku, kok, ikut tertawa juga di sini. So what?

W = Tapi batin saya justru berkata ... buat apa sejarah itu diceritakan…?

L = Hm.

W = Mas ... ada yang bilang kalau kita masih mencari "benar" berarti kita belum "benar", apakah kebenaran yang saya rasakan saat ini adalah ego kebenaran atau benar itu sendiri? Jadi bingung, Mas.

L = The answer is you should stop thinking about that, jangan dipikirkan, Mas.

W = Haa haa haa….

L = Katakan apa yang perlu dikatakan, pada saat perlu dikatakan, sesuai dengan apa yang muncul di pikiran saat itu juga. Itu mata ketiga.

W = Biar saja mengalir, yah, Mas … sepeti yang sering Mas katakan, yah?

L = Ya, memang begitu. Kita ini, kan, mengandalkan intuisi, mengandalkan revelasi ... yang datang dari mata batin, dari nur aini, or mata ketiga itu. Kalau kita masih mengandalkan reasoning semata, gak akan ada habis-habisnya, Mas. Malah bisa dadi gendeng nanti.

W = Berarti selama ini saya juga masih seperti ikan di dalam air, Mas ... masih terus saja mencari air.

L = Ha ha ha, you know, masa ikan nyari air?

W = Terus bagaimana pendapat Mas tentang mata ketiga saya? Apa yang mesti saya lakukan, Mas?

L = Be yourself! Gak usah dipikirkan apa yang perlu dilakukan. Just lakukan what you feel compelled to do at any moment. Bisa beda-beda, kan, tergantung momennya apa. Cuma itu yang bisa aku tuliskan. When you stop thinking what you have to do, then you become yourself.

W = Thanks banget, Mas ... untuk pencerahan yang saya terima.

L = Welcome, Mas. Talk to you later, yah?

W = Ok ... thanks....

L = Welcome. Bye!

W = GBU, Brother, bye!


+++

27. APAKAH INI SAMADHI?

M = Mohan
L = Leo


M = Dear Sir, sekitar seminggu yang lalu saya mengalami pengalaman yang saya rasa luar biasa, apakah itu samadhi? Begini, selama ini saya meditasi selalu “melihat” atau “merasa” sesuatu dan saya selalu merasa tidak puas. Berdasarkan mimpi-mimpi saya tentang vihara Buddha, saya merasa sangat penasaran mengapa saya sering bermimpi tentang vihara Buddha, lalu saya pun pergi ke sana, itulah kunjungan pertama saya ke vihara Buddha.

Saya bertemu dengan seorang banthe di sana, anehnya dia merasa sudah sangat mengenal dan dekat dengan saya, dia berbicara seolah-olah saya adalah muridnya, dan saya merasa bahwa dia adalah guru saya, entah dari mana perasaan itu.... Dia memberi saya sebuah buku tentang guru besar Buddha Gautama, dan melalui buku itu saya memelajari bagaimana cara Sang Buddha bermeditasi (dengan menggunakan nafas sebagai obyek meditasi dan menghapus setiap pikiran yang datang pada saat meditasi, sehingga batin pun tidak berbicara), kemudian saya mencoba meditasi tersebut dengan menggunakan ajna sebagai obyek meditasi (menggantikan nafas).

Setelah 15 menit tubuh saya langsung berkonsentrasi, pikiran saya menjadi sangat sadar dan tenang, begitu sadarnya sehingga saya mengetahui, merasakan, dan menikmati setiap udara yang masuk dan keluar baik dari hidung ataupun pori-pori kulit saya (bayangkan saya bisa merasakan udara yang masuk dan keluar dari pori-pori kulit saya di mana selama ini saya hanya tahu bahwa bernafas hanya menggunakan hidung). Batin saya tenang dan bahagia, saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat, dan perasaan itu masih ada setelah saya selesai bermeditasi.... Apakah ini samadhi?

L = Dear Mohan, thanks for sharing your experience with us all. The answer is: ya, itu samadhi. Samadhi itu artinya hening, kita mengamati saja, melihat saja, merasakan saja. We just be. Ada sensasi-sensasi itu, tapi kita sadar bahwa mereka hanyalah sensasi dan bukan bagian dari samadhi. So, sensasi bisa datang dan pergi. Sensasi rasa damai itu bisa ada, dan bisa juga tidak ada, tetapi kita tahu bahwa kita dalam keadaan samadhi. Perasaan tenang itu umum walaupun lama kelamaan akhirnya kita tidak akan merasakan lagi perasaan "tenang" itu. Akhirnya akan meditasi saja tanpa menghiraukan ada sensasi ini atau itu. Meditasi saja, jalan saja, dan mencapai samadhi. Samadhi is just that. As simple as that.

Yang bikin semuanya menjadi complicated adalah berbagai teori itu yang bilang kalau meditasi harus visualisasi ini atau itu, harus baca mantra ini atau itu, harus melakukan ritual ini dan itu. Hal-hal seperti itulah yang membuat meditasi menjadi complicated. Padahal, kalau kita mau apa adanya saja, bernapas saja, dan diam saja di kesadaran kita, maka kita akan mencapai samadhi. Samadhi is just that. Hening. Kosong.... Kalaupun muncul sensasi, kita hanya akan mengamati saja, biarkan saja sensasi itu datang dan pergi, dan kita tetap dalam keadaan samadhi. Karenanya, mereka yang sudah terbiasa meditasi dan mencapai samadhi juga bisa tetap dalam keadaan samadhi walaupun melakukan aktivitas sehari-hari. Caranya, ya, biasa-biasa saja, mengamati dan
melakukan aktivitas apa adanya saja. Itu namanya keadaan meditatif, walaupun tetap melakukan aktivitas biasa. Dan yang dirasakan oleh pelakunya tetap dinamakan samadhi, walaupun tidak dalam postur meditasi yang standard. You might want to try it too.


+++

(TENTANG PENULIS)


Leonardo Rimba yang biasa dipanggil Leo adalah lulusan Universitas Indonesia dan the Pennsylvania State University, sekarang tinggal di Jakarta. Leo memberikan konseling kepada mereka yang meminta, dan bisa dihubungi di nomor HP: 0818-183-615. E-mail: . Milis Spiritual-Indonesia yang dikelolanya bisa diakses di: . Bersama Audifax, seorang psikolog di Surabaya, Leo menulis buku Psikologi Tarot (Pinus, 2008).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar